Indonesia meyimpan jutaan kekayaan, dari kekayaan sumber daya alam hingga kekayaan budaya. Dua kekayaan ini menjadi daya tarik bagi para pelancong internasional.

Dari segi budaya, Indonesia menawarkan ragam destinasi budaya yang dapat melayani ragam selera para pelancong. Untuk para pelancong dengan selera wisata aneh dan menyeramkan, mungkin cocok untuk menjadikan Tana Toraja sebagai destinasi wisata berikutnya.

Tana Toraja tidak hanya dikenal pelancong seluruh dunia karena produksi biji kopinya yang nikmat. Tetapi juga karena budaya yang eksotis, yang jarang ditemui di belahan dunia lain.

Salah satu adat yang paling unik dari masayarakat Toraja adalah adat Ma’nene. Ritual ini telah dilakukan selama ratusan tahun di masyarakat yang menempati daerah pegunungan Sulawesi Selatan itu.

Data yang dihimpun Edisi Bonanza88, ritual Ma’nene telah masuk ke daftar destinasi wisata paling menyeramkan versi serial Netflix Dark Tourist (2018). Bukan tanpa sebab, Ma’nene sendiri adalah ritual pemakaman dan pembersihan jasad para leluhur masyarakat Toraja yang telah meninggal dan diawetkan selama ratusan tahun.

Saat ini hanya beberapa desa yang masih melaksanakan ritual tersebut, misalnya desa Pangala maupun desa Baruppu. Namun umumnya, intensitas pelaksanaan ritual ini juga berkurang.

Ma’nene biasanya diselenggarakan tiap Agustus, dan telah menjadi hukum adat masyarakat setempat. Menurut masyarakat Toraja, Ma’nene adalah berungsi sebagai pengikat kekerabatan antar anggota masyarakat setempat.

Ritual ini dilaksanakan untuk menghormati sosok-sosok leluhur masyarakat Toraja dengan cara mengganti pakaian jasad mereka yang telah di awetkan dalam kuburan-kuburan massal khas Tana Toraja.

Ritual ini dimulai dengan ziarah bersama yang dilakukan anggota keluarga ke makam leluhurnya. Pemakaman para leluhur Toraja ini disebut sebagai Patane.

Patane sendiri memiliki beragam jenis, tergantung kebutuhan jasad dan pemakamannya. Jenis yang pertama adalah Londa, kuburan yang dibangun di dalam goa. Londa hanya terdapat di Desa Sandan Uai dan hanya diperuntukkan bagi keluarga dan darah kaum bangsawan Toraja. Kuburan Londa ini terbilang unik, pasalnya tiap jasad diletakkan dalam bilik-bilik yang disusun secara vertikal.

Penyusunan jasad yang ada di Londa pun tidak sembarangan. Tiap jasad ditempatkan berdasarkan status sosial dan kedudukannya di masyarakat ketika si jasad hidup dulu.

Semakin tinggi jasad ditempatkan, berarti semakin diagungkan juga si jasad pada masa hidupnya. Anehnya, meskipun goa Londa dapat dikatakan sempit dan minim sirukulasi udara, tetapi kumpulan jasad di sana tidak menciptakan bau tidak sedap.

Digantung di Tebing

Erong Jenis Kuburan Tertua Suku Toraja -

Selain Londa, jenis Pantea lain adalah kuburan Erong, atau pemakaman gantung. Jenis makam erong ini dibuat dari kayu dan digantungkan di tebing-tebing sekitar pedesaan. Erong dibentuk sedemikian rupa hingga menyerupai rumah adat, kerbau, ataupun babi.

Ragam bentuk Erong ini harus mengikuti kasta sosial si jasad. Bagi jasad bangsawan, Erongnya akan berbentuk rumah adat. Sedangkan Erong bentuk kerbau adalah makam warga laki-laki dan erong bentuk babi adalah makam warga perempuan.

Ada juga makam yang dibangun di dalam batu, yaitu makam Bori Parinding. Selama ratusan tahun masyarakat Toraja di kawasan Bori Parinding melubangi dan memahan batu-batu besar yang ada di sekitar pemukimannya untuk menjadikannya sebagai makam khusus bagi keluarga bangsawan Ne Ramba.

Batu-batu besar ini dilubangi sedemikian rupa agar bisa diisi oleh jasad keluarga Ne Ramba dan kerabat-kerabatnya yang masih serumpun. Tidak sembarang batu bisa dipilih, batu besar ini harus berasal dari desa asal si jasad. Jika diakumulasikan, luas seluruh pemakaman Bori Parinding bisa mencapai 1724 meter persegi.

Bori Parinding memiliki ciri khas yang serupa dengan makam Lemo. Bedanya makam Lemo posisinya melekat di dinding tebing batu, sedangkan Bori Porinding di dalam batu menhir.

Makam Lemo biasa dibuat dengan teknik pahat manual untuk menciptakan lubang tempat jasad diletakkan. Lubang tersebut nantinya akan ditutup menggunakan kayu ataupun bambu. Kadang lubang ini bisa berisi hingga jasad-jasad dari satu keluarga bangsawan.

Setiap Agustus, masyarakat Toraja akan berziarah ke makam-makam ini bersama dengan keluarganya masing-masing. Setelah berkunjung, mereka akan mengambil jasad anggota keluarga mereka untuk nantinya dimandikan di rumah adat keluarga masing-masing.

Setelah dimandikan, barulah jasad itu akan dikenakan dengan kain dan pakaian baru, sesuai dengan tren pakaian formal yang ada pada saat pemandian jenazah berlangsung.

Pada masa modern seperti sekarang, jasad pria akan dikenakan dengan pakaian rapi. Bajunya akan diganti dengan jas yang baru, dan bahkan dikenakan aksesoris baru seperti kacamata.

Untuk jasa wanita, biasanya akan dikenakan gaun pengantin yang mewah. Setelah pakaian jasad diganti, barulah jasad kembali dibungkus dan dimasukan ke makam asalnya.

Prosesi pembersihan jasad ini akan ditutup dengan Sisemba, atau silaturahmi antar keluarga yang ada di satu wilayah.

Dalam tradisi kumpul-kumpul ini, mereka biasanya akan menyelenggarakan perjamuan besar. Masyarakat Toraja akan menyajikan hidangan-hidangan spesial yang berasal dari sumbangan para keluarga leluhurnya.

100 Kerban dan Babi

Mayat Berjalan dan Ritual Manene di Toraja - Tribunnews.com Mobile

Perjamuan besar itu tidak lain merupakan bagian dari rangkain acara Rambu Solo. Upacara Rambu Solo ini memiliki rangkaian acara yang sangat panjang dan bisa berlangsung selama lima hari.

Upacara ini bisa berlangsung selama itu jika ada jasad keluarga bangsawan yang baru dikuburkan di tahun penyelenggaraan. Untuk pemakaman jasad keluarga bangsawan, si keluarga harus menyediakan kerbau dan babi hingga sebanyak 100 ekor.

Penyembelihan kerbau dalam upacara Rambu Solo memiliki makna tersendiri. Masyarakat Toraja menganggap kerbau sebagai hewan suci yang dapat menjadi kendaraan bagi para arwah leluhur untuk menuju ke surga.

Kerbau yang paling tinggi nilainya adalah kerbau Tedong Bonga atau kerbau albino. Kerbau jenis ini menjadi salah satu kurban wajib terutama bagi keluarga bangsawan. Namun, karena jumlahnya sedikit dan langka, kerbau albino ini memiliki harga yang sangat mahal. Satu ekor kerbau albino bisa dibeli seharga Rp 600 juta rupiah.

Setelah menyembelih kurban-kurban tadi, keluarga juga perlu menyediakan perhiasan untuk melengkapi peti jenazah jasad yang dimakamkan. Perhiasan ini bisa berupa kain adat ataupun tali yang terbuat dari perak maupun emas.

Pihak keluarga juga perlu melengkapi jasad dengan barang-barang berharga yang dianggap dapat menjadi bekal si arwah dalam perjalanannya menuju surga.

Jika diakumulasikan, harga penyelenggaraan ritual pemakaman Toraja bahkan bisa mencapai 4-5 miliar rupiah. Harga ini jelas fantastis. Pasalnya di dalam kondisi masyarakat modern, jumlah tersebut hanya mampu diperoleh oleh pebisnis-pebisnis ulung.

Hal ini yang menyebabkan banyak masyarakat Toraja yang masih menyimpan jasad kerabatnya di rumah dan memperlakukannya sebagai orang hidup.

Ketika orang dari keluarga Toraja meninggal, jasadnya akan diawetkan dan diperlakukan selayaknya orang hidup terlebih dahulu. Sebelum pihak keluarga memiliki dana untuk menyelenggarakan ritual pemakaman jasad itu akan tetap dianggap sebagai orang hidup.

Barulah ketika upacara pemakaman diselenggarakan, jasad itu akan diantarkan ke makamnya dan dianggap sebagai jasad sesungguhnya.

Bagi masyarakat dalam budaya lain, hidup dengan jasad yang diawetkan mungkin terdengar menyeramkan. Tapi bagi masyarakat Toraja fenomena ini sebenarnya umum selayaknya kehidupan sehari-hari.

Keluarga yang ditinggal biasanya akan tetap berbincang dengan si jasad selayaknya perbincangan sehari-hari antar keluarga. Mereka juga akan melayani si jasad sebagaimana keluarga melayani orang tua. Jasad akan diberi makan setiap hari, serta dimandikan selayaknya orang hidup mandi.

Tidak sampai di situ saja, pada upacara-upacara adat seperti Ma’nene, masyarakat Toraja bahkan juga akan mengajak jasad-jasad keluarga mereka untuk mengikuti perayaan. Jasad-jasad keluarga akan dibawa dalam perayaan dansa bersama anggota keluarga lain yang masih hidup.

Hal ini jauh berbeda dengan cara pandang budaya lain dalam memaknai jasad keluarganya. Menurut masyarakat Toraja, cara seperti ini juga bertujuan untuk menghormati arwah para jasad dan untuk menghilangkan rasa kesedihan yang mereka alami.

Ritual Ma’nene sebenarnya memiliki pemaknaan yang jauh lebih dalam lagi. Ritual itu dianggap sebagai cerminan dari ikatan keluarga bagi mereka yang hidup dengan arwah para orang tuanya. Pemaknaan terkait ritual ini juga memiliki sejarahnya sendiri.

Asal Tradisi Ma’nene

Ma'Nene Toraja, Ritual Mayat Ratusan Tahun Berganti Pakaian - Semua Halaman  - National Geographic

Ma’nene dikisahkan diawali melalui kisah legenda Pong Rumasek. Ia adalah seorang pemburu yang hidup ratusan tahun lalu. Suatu hari Pong Rumasek pergi berburu ke hutan yang ada di pegunungan Balla. Ketika sedang berburu, Pong Rumasek menemukan mayat manusia di hutan tersebut. Kondisi jasad itu nampak mengerikan. Tubuhnya telah terurai dan hanya tersisa tulang belulang.

Pong Rumasek miris melihat kondisi jasad itu. Hatinya patah. Ia merasa kasihan. Tapi Pong Rumasek tidak tinggal diam dalam kesedihannya.

Ia langsung berinisiatif untuk merawat jasad tersebut. Pong Rumasek membungkus jasad malang itu dengan pakaiannya sendiri. Setelah kondisi jasad terlhat membaik, Pong Rumasek lalu melanjutkan aktifitas berburunya di hutan.

Tindakan Pong Rumasek itu tanpa sengaja membawa berkah besar baginya. Setelah kejadian tersebut, Pong selalu pulang membawa hasil yang banyak setiap pergi berburu. Entah itu berupa daging binatang maupun buah-buahan di hutan. Pong tidak pernah lagi pulang dengan tangan hampa.

Setelah sekian lama berburu berkah lain juga Ia temui di desanya. Suatu hari setelah pulang berburu, Pong kaget melihat hasil panen keluarganya yang tiba-tiba melimpah. Padahal ketika itu belum masanya panen.

Kebingungan Pong segera terjawab. Dalam perburuan selanjutnya, Pong selalu menemui arwah jasad yang pernah Ia rawat. Arwah-arwah itu seringkali membantu dan memandu Pong untuk menemukan binatang.

Pong menganggap kejadian itu sebagai karma baik. Apabila kita memuliakan jasad orang yang telah meninggal dunia maka kita akan mendapat keberuntungan dan karunia dalam hidup kita.

Setelah kejadian itu, Pong selalu memuliakan jasad orang meninggal, bahkan juga jasad mereka yang kondisinya tinggal tulang belulang. Sejak saat itu pula kisah Pong menjadi legenda bagi masyarakat Toraja.

Legenda dan pesan moral dalam kisah Pong Rumasek diabadikan dan dilestarikan melalui adat Ma’nene yang dianggap oleh budaya lain sebagai ritual yang menyeramkan.

Jika Anda tertarik dengan ritual Ma’nene, Anda bisa langsung pergi liburan ke Tana Toraja. Daerah ini bisa diakses melalui banyak opsi transportasi umum.

Bagi pelancong yang berasal dari luar pulau Sulawesi, dapat mencari rute penerbangan ke Bandara Sultan Hasanuddin Makassar terlebih dahulu. Harga tiket pesawat dari Jakarta ke Makassar dapat ditaksir senilai Rp 800 ribu rupiah sekali jalan.

Setelah tiba di Bandara Sultan Hasanuddin, pelancong masih harus melakukan perjalanan ke Terminal Daya. Pejalanan tersebut akan mudah dilalui menggunakan taksi yang banyak tersedia di Bandara. Opsi yang lebih murah adalah untuk menggunakan bus dari bandara ke terminal. Jika menggunakan bus, pelancong hanya perlu merogok kocek senilai Rp 25 ribu rupiah.

Dari Terminal Daya, pelancong dapat menemukan banyak bus dan armada khusus bagi wisatawan Toraja. Perjalanan dari Makassar ke Toraja biasanya bertarif mulai dari Rp 150 ribu rupiah.

Jika Anda ingin menikmati perayaan ritual Ma’nene, pastikan Anda datang setidaknya seminggu sebelum bulan Agustus. Tentunya Anda juga perlu membawa bekal uang lebih untuk membayar pemandu lokal warga Toraja asli.