Di Asia Tenggara, Thailand terkenal dengan pariwisata seksnya. Pemerintah negara Gajah Putih tersebut sudah berusaha mengubah image dengan mempromosikan pariwisata lain seperti pariwisata budaya. Namun sayangnya, image Thailand yang kental akan pariwisata seksnya masih belum berubah.

Prostitusi di Thailand memang punya sejarah yang cukup panjang. Praktik tersebut sudah ada sejak jaman Ayuthya (1350-1776). Orang-orang Eropa yang datang ke Siam pada abad ke-17 sudah menyaksikan praktik prostitusi di Thailand (Poumisak, 1975; Hantrakul, 1983; Skrobanek, 1983; dan Thanh-Dam, 1990 dalam Podhista, 1994).

Salah satu orang-orang Eropa tersebut adalah envoy asal Prancis, La Loubère. Dalam catatannya, La Loubère menyebutkan ada seorang pejabat yang disebut sebagai ‘orang yang membeli wanita dan pelayan untuk melacurkan mereka’

Di samping itu, ketika periode Ayuthya, terdapat sistem corvée, di mana semua laki-laki memang harus meninggalkan keluarga dan mengabdi kepada bangsawan feodal selama enam bulan. Pada jaman itulah pramuria diyakini sebagai pelayan para corvée ketika mereka jauh dari istri masing-masing.

Pada akhirnya, pada tahun 1960, seks komersial di Thailand menjadi industri yang cukup besar ketika Perang Vietnam atau Perang Indocina Kedua (1957-1975).

Selama itu tentara Amerika Serikat terkadang datang ke Thailand untuk beristirahat dan ketika itulah para perempuan Thailand menggunakan kesempatan tersebut untuk memenuhi kebutuhan hidup dengan melayani para tentara Amerika Serikat.

Sejak itulah prostitusi marak di Thailand bahkan bertahan sampai sekarang. Meskipun kabarnya pemerintah sedang gencar-gencarnya mencanangkan pariwisata tanpa seks dan melarang rumah-rumah bordil untuk beroperasi di Thailand, faktanya praktik prostitusi di Thailand masih aktif.

Bahkan, prostitusi di Thailand bermain peran dalam perekonomian negara. Sekitar 60% pedapatan nasional Thailand berasal dari sektor pariwisata dan pariwisata seks berperan besar dalam sektor pariwisata Thailand.

Setiap tahun, Gugic mengatakan sekitar 10 juta turis datang ke Thailand dan sekitar 60% turis adalah laki-laki padahal 70% turis laki-laki tersebut datang untuk pariwisata seks. Jadi, setiap tahun terdapat lebih dari 4 juta laki-laki datang ke Thailand untuk pariwisata seks.

Ironisnya, ketika pariwisata seks di Thailand menyumbang banyak untuk pendapatan nasional negara, Boonchalaksi dan Guest dalam salah satu penelitiannya yang dilansir Edisi Bonanza88, mengemukakan bahwa para pramuria Thailand masuk ke dalam dunia prostitusi justru karena masalah ekonomi.

Memang, secara universal masalah ekonomi memang merupakan masalah semua negara terutama di kawasan negara dunia ketiga. Secara spesifik kemiskinan di Thailand terjadi karena pemerintah yang mengedepankan sektor industri dan jasa, tapi mengabaikan sektor pertanian. Padahal Thailand merupakan negara agraris dan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai petani.

Kemiskinan yang terjadi pada petan-petani di desa mengakibatkan perbedaan kondisi ekonomi di desa dan di kota menjadi sangat timpang.

Pada zaman globalisasi seperti sekarang ini, konsumerisme dan gaya hidup yang tinggi sudah mewabah ke desa. Dengan demikian, guna memenuhi kebutuhan pokok ditambah dengan tuntutan gaya hidup, pekerjaan apapun yang menghasilkan uang banyak dalam waktu singkat diterima dengan baik oleh masyarakat, termasuk prostitusi.

Bukan hanya para petani yang dilanda kemiskinan, DaGrossa mengungkapkan bahwa di Thailand tidak tersedia cukup banyak lapangan pekerjaan untuk perempuan muda dari desa yang kurang berpendidikan dan kurang berpengalaman. Padahal, di Thailand anak perempuan memiliki tanggung jawab lebih besar dari pada anak laki-laki jika berkaitan dengan perekonomian rumah tangga.

Oleh karena itu, para petani yang dilanda kemiskinan pun pada akhirnya mau tidak mau terpaksa melibatkan anak-anak perempuan mereka ke dalam prostitusi. Dengan demikian, seorang anak perempuan dari keluarga tidak mampu yang merantau ke luar kota menjadi pramuria demi menyokong keluarganya sudah dimaklumi dan dianggap wajar oleh masyarakat sekitar.

Bangkok: City of Sex | Leap & The Net Will Appear

Wacana tradisional di mana anak perempuan di Thailand bertanggung jawab untuk menghidupi keluarganya masih diterapkan sampai sekarang. Dalam penelitian Phongpaichit pada 1980, para pramuria dalam narasumber penelitian mengaku bahwa mereka memang merupakan tulang punggung keluarga.

Bahkan, faktanya perempuan yang kurang mampu menghidupi keluarganya dianggap gagal, bukan hanya oleh keluarga tapi juga oleh masyarakat sekitar. Oleh karena itu, tidak heran jika para perempuan Thailand pun pada akhirnya terpaksa menghalalkan segala cara untuk memenuhi tuntutan tersebut, meskipun jika itu artinya mereka harus melibatkan diri ke dalam dunia prostitusi.

Dengan demikian, tidak heran jika sampai detik ini praktik prostitusi masih eksis di Thailand. Memang pemerintah sudah berkali-kali mencoba untuk menghapus industri seks di Thailand.

Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa masyarakat sekitar memang sudah tidak keberatan akan adanya praktik tersebut di lingkungan mereka karena toh memang banyak yang membutuhkan, baik dari pihak perempuan yang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan pokok, maupun dari pihak laki-laki untuk memenuhi kebutuhan biologis.

Bukti penerimaan prostitusi di Thailand dibuktikan dengan rumah-rumah bordil yang tidak diasingkan. Rumah-rumah bordil tersebut terletak di antara pemukiman warga. Menurut Boonchalaksi dan Guest, rumah-rumah bordil di Thailand bahkan terletak dekat dengan tempat-tempat ibadah dan pusat perdagangan. Rumah bordil di Thailand dianggap normal keberadaannya, seperti halnya kantor pada umumnya.

Bahkan, salah satu film dokumenter tentang prostitusi di Thailand arahan sutradara asal Austria Michael Glawogger, Whores’ Glory, memperlihatkan bagaimana praktik prostitusi dalam rumah bordil eksklusif berkedok massage parlor di Bangkok bernama Fish Tank.

Gedung Fish Tank terletak dan beroperasi di tengah keramaian kota layaknya gedung kantor. Para pramuria Fish Tank berdiri di lantai atas gedung Fish Tank yang terbuat dari kaca dan menyorotkan laser ke arah laki-laki yang melewati mereka untuk mengundag konsumen. Bukan hanya bangunannya yang mewah, Fish Tank pun memiliki pegawai lain seperti halnya kantor pada umumnya, seperti customer service, waitress, tukang parkir, dan satpam.

Fish Tank bukan satu-satunya rumah bordil yang berkedok massage parlor di Bangkok. Lagipula bukan hanya di Bangkok hal seperti ini terjadi, penyamaran rumah bordil tersebar ke berbagai kota di Thailand. Hal ini memperlihatkan bahwa prostitusi telah menjadi salah satu aspek dalam kehidupan masyarakat Thailand dan telah mengakar.

Bahkan, keberadaannya tidak mengancam ataupun meresahkan masyarakat sekitar. Akar yang sudah lama ditanam sejak puluhan tahun yang lalu dan didukung oleh kemiskinan yang tidak pernah ada habisnya, menjadikan prostitusi sangat sulit untuk diberantas di Thailand.

Seiring dengan perjalanan waktu, Thailand tidak hanya menawarkan wisata seks yang akan memuaskan para lelaki hidung belang, namun juga para lelaki penyuka sesama jenis, lesbian maupun transgender. Kaum lady boy, atau lelaki “jadi-jadian” juga masuk dalam jajaran pelakon wisata seks di Thailand.

Lady boy memang sangat populer di negeri Gajah Putih tersebut, bahkan disebut-sebut sudah menjadi gender ketiga dalam perundang-undangan di Thailand.

Hal tersebut ditunjukkan dengan maraknya klub-klub malam khusus bagi mereka yang ingin mencari hiburan malam dengan komunitas sejenis, tanpa harus khawatir terkucilkan atau mendapatkan tentangan dari organisasi masyarakat setempat. Semua sudah diatur dalam undang-undang daerah.

Pantai-pantai eksotis dan penuh keindahan alam seperti di Phuket, juga menjadi lahan strategis bagi para turis untuk memuaskan petualangan seks mereka. Dan semuanya itu bisa didapat dengan biaya yang relatif murah.

Pemerintah hanya memberikan larangan, hubungan seks dilakukan dengan PSK (pekerja seks komersial) yang berusia di bawah 18 tahun. Karena itu, hampir di setiap klub, para pengunjung diwajibkan menunjukkan identitas diri, berupa KTP negara asal maupun paspor.

Lady Boy Di Thailand

Thailand's sex industry 're-opens' as prostitutes and ladyboys wear skimpy  black maid's uniforms in tribute to dead king - World News - Mirror Online

Thailand dan Lady boy merupakan suatu yang tak bisa dipisahkan. Sudah sejak lama masyarakat negri berjuluk Gajah Putih ini mengakui lady boy sebagai salah satu gender. Dengan istilah ladyboy atau dalam bahasa lokal biasa disebut Kathoey, waria di Thailand tak hanya merupakan bagian dari budaya namun juga salah satu daya tarik pariwisata.

Lady boy di Thailand juga tergolong aktif dalam kehidupan bermasyarakat, mereka biasanya hampir bisa mengisi segala post pekerjaan tanpa khawatir akan mendapatkan penolakan.

Secara fisik lady boy sebenarnya terlahir sebagai pria pada umumnya, hanya saja mereka memilih untuk berganti kelamin dengan melakukan berbagai operasi plastik agar bisa menyerupai wanita. Saat sudah melakukan transformasi ini, waria Thailand biasanya akan sulit dibedakan dengan wanita biasa karena kecantikan mereka yang tak kalah dari wanita pada umumnya.

Kecantikan waria Thailand bahkan sudah diakui dunia dengan seringnya kontestan waria dari Thailand yang memenangkan kontes kecantikan transgender di dunia. Tapi anehnya meski secara umum sudah diterima oleh masyarakat, secara hukum pemerintah Thailand belum mengakui Kathoey, sebagai salah satu klasifikasi gender yang resmi.

Ladyboy adalah salah satu budaya yang diakui di Thailand merupakan sosok laki-laki. Namun, budaya Thailand menilai sosok ini sebagai sosok feminim. Budaya Thailand menganggap meminta kesuburan kepada laki-laki.

Tentu laki-laki yang feminim wujudnya. masyarakat Thailand secara budaya lebih permisif dengan fenomena ini. secara hukum, walaupun seseorang sudah berubah bentuk kelamin sedemikian rupa, hukum Thailand tetap menganggap orang itu berstatus sesuai dengan jenis kelamin ketika kelahirannya. Walau banyak tampaknya orang-orang transgender dan berubah bentuk, tetapi status hukumnya tetap laki-laki. walau apapun, dia tetap wajib jadi Monk

Jika Anda laki-laki lajang dan sedang berwisata atau berkelana di Thailand, barangkali  Anda ingin berkesempatan menjalin hubungan romantis dengan perempuan Thai. Perempuan Thai memang kondang karena kulitnya yang cemerlang serta keelokannya secara keseluruhan.

Tapi, tunggu dulu,  ya. Jangan tergesa-gesa menetapkan pilihan bila Anda mulai akrab dengan seorang cewek Thai. Anda  bisa saja sedang naksir seorang kathoey alias ladyboy alias banci. Jangan terkecoh.

Ini Nong Poy, kathoey top Thailand.Kathoey or katoey adalah laki-laki yang mengidentifikasikan diri, berpakaian, dan berperilaku serta bertubuh perempuan. Yang dimaksud bertubuh perempuan bisa saja sepenuhnya bertubuh perempuan, dan bisa saja berpayudara tapi tetap beralat kelamin pria.

Dalam budaya Thailand, kathoey juga dikenal dengan istilah phuying praphet song (jenis perempuan kedua) atau phet thi sam (jenis kelamin ketiga). Mereka bisa tampil seperti perempuan juga atas bantuan medis seperi pembesaran payudara, penggelembungan pantat, dan semacamnya.

Tak seperti posisi kaum transgender (banci) di budaya lain, dalam tatanan budaya Thailand, kaum transgender mendapat tingkat penerimaan dan keleluasaan sosial yang tinggi, berkat hidupnya nilai-nilai toleransi di seputaran budaya Buddhist.

Dengan mengacu pada konsep Karma, budaya Thai percaya bahwa menjadi seorang kathoey merupakan hasil dari transgresi kehidupan manusia di masa lampau yang menyiratkan bahwa para kathoey justru harus dikasihani, bukannya dipersalahkan. Semula perempuan kathoey sebenarnya menghadapi berbagai ketidaknyamanan sosial dan hukum. Biasanya pihak keluarga (terutama ayah) kecewa kala sadar anak laki-lakinya ternyata kathoey.

Namun, seiring berjalannya waktu, kathoey di Thailand beroleh makin banyak keleluasaan sosial katimbang di negara Asia lain. Bandingkan dengan di Indonesia di mana para banci masih berada pada ranah gamang yang cenderung jadi bahan tertawaan dan ejekan. Memang tak ada pengakuan secara hukum untuk para kathoey di Thailand, bahkan bila seorang kathoey telah menjalani operasi ganti kelamin sekalipun.

Di KTP, jenis kelamin mereka masih tertulis ‘laki-laki;’ dan bila seorang kathoey harus masuk bui, ia dijebloskan ke penjara laki-laki. Soal peran sosial lebih jauh, banyak kathoey sukses di bidang pekerjaan dan mampu dengan baik menyokong biaya hidup sehari-hari dengan pasangannya (pria tulen).

Para kathoey bekerja di bidang jasa kecantikan, jasa wisata, restoran, dan hiburan. Pelancong yang berkunjung ke pantai Pattaya pasti tak akan melewatkan tontonan Kabaret kathoey. Sejumlah kathoey telah pula mencapai popularitas yang sulit dicapai perempuan lainnya.

Perdagangan Manusia  

Sex worker support group pressures Thai government to decriminalise  prostitution

Perdagangan manusia di Thailand menjadi persoalan serius yang semakin berkembang. Pada awal dekade 1990-an, persoalan perdagangan manusia di wilayah Asia Tenggara belum menunjukkan persoalan sebagai ancaman bidang sosial yang signifikan karena migrasi antar negara di wilayah Asia Tenggara dijalankan dalam ranah kerjasama mutualistik untuk mencari kehidupan yang lebih baik.

Pejabat angkatan darat Thailand pada awal tahun 2010 terlibat perdagangan manusia untuk diperdagangkan di industri pertanian /perkebunan di Malaysia. Kasus ini menyeret seorang Letnan Jenderal Angkatan Darat Thailand, Manas Kongpan yang ditahan karena diduga terlibat dalam perdagangan manusia.

Manas merupakan tokoh penting dalam aparat keamanan yang meliputi Thailand Selatan-zona transit utama dalam jejak perdagangan yang membentang dari Myanmar ke Malaysia.

Namun penyelidikan polisi menemukan dia menggunakan posisinya untuk membimbing kelompok-kelompok perdagangan di sekitar pos-pos pemeriksaan setelah kedatangan para korban di pantai-pantai terpencil ketika menuju ke kamp-kamp hutan.

Kasus Manas Kongpan mampu menjadi isu nasional di Thailand, bahkan Perdana Menteri Abishit Vejajiva menyatakan akan melakukan evaluasi secara seksama berkaitan dengan persoalan ini. Dari 2003 sampai dengan 2007, Departemen Luar Negeri AS melaporkan bahwa lebih dari 7.000 kasus perdagangan seks terjadi di Asia Timur dan wilayah Pasifik.

Enam belas undang-undang baru atau peraturan yang telah di amandemenkan kerap diabaikan dalam mengatasi persoalan perdagangan manusia di wilayah tersebut.

Lebih mengejutkan karena kelompok kejahatan terorganisir ini juga termasuk mereka yang bekerja dalam biro-biro perjalanan, baik domestik maupun internasional. Kelompok-kelompok ini secara intensif melibatkan remaja dan dan genggeng jalanan tidak hanya sebagai pekerja mereka namun untuk memperluas aktivitas kejahatan mereka.

Federal Bureau of investigation (FBI) melaporkan bahwa perdagangan seks yang ditujukan ke AS dikontrol oleh para gengster dari empat wilayah Asia Timur yakni: China, Jepang, Vietnam dan Thailand.

Thailand telah diidentifikasi sebagai negara sumber, transit dan negara tujuan bagi perdagangan seks. Sejak tahun 2001, Thailand diklasifikasikan pada negara tier 2 atau tier 2 watch. Kelompok kejahatan terorganisir ini dipimpin oleh Jao Pho atau godfather.

Sejak tahun 1960-an, peningkatan industrialisasi dan urban di Thailand telah menimbulkan tatanan hukum yang baru yang justru diciptakan oleh kelompok sindikat kejahatan terorganisir. Jao Pho, merupakan sekelompok pebisnis yang turut andil dalam menciptakan berbagai aturan sesuai dengan kebutuhan dan kepentingan kelompoknya.

Pada saat terjadi proses politik dan militer dalam membuat aturan dan perundang-undangan, Jao Pho akan memainkan perannya untuk mengamankan bisnis-bisnis mereka termasuk perdagangan seks dan hal ini terus berlangsung hingga saat ini.

Jao Pho adalah kelompok etnis China yang berbasis di berbagai provinsi di Thailand yang memiliki bisnis baik legal maupun bisnis kriminal. Mereka beroperasi secara independen dan metode operasi mereka juga seragam, yakni meningkatkan keuntungan dengan cara apapun dan membangun jaringan dengan pihak-pihak pemerintah yang dianggap memiliki peranan penting.