Didier Drogba adalah salah satu penyerang terbaik yang pernah ada di kompetisi Liga Primer Inggris. Ya, penampilannya saat itu memang sangat ganas ketika sedang berada di area pertahanan lawan.

Namanya semakin dikenal oleh para penikmat sepak bola dunia, saat dirinya menjadi tumpuan di lini serang Chelsea. Menurut beberapa laporan yang disadur oleh Bonanza88 dari berbagai sumber, Drogba berhasil menjadi pencetak gol terbanyak keempat sepanjang sejarah klub.

Bersama Chelsea, mantan penyerang Timnas Pantai Gading tersebut berhasil membantu mempersembahkan 14 trofi. Itu dihasilkan dari ajang Liga Primer Inggris (4 kali), Piala FA (4), Piala Liga Inggris (3 kali) Community Shield (2 kali) dan Liga Champions (1 kai).

Tampil begitu gemilang, Drogba tentunya dijadikan sebagai senjata bagi Timnas Pantai Gading. Bahkan, sang pelatih saat itu memberikan kepercayaan lebih kepada Drogba untuk mengemban tugas sebagai kapten dari 2006 hingga pensiun.

Drogba sendiri sudah diberi kesempatan untuk dipanggil ke tim nasional Pantai Gading pada tahun 2002 silam. Ia mampu menjadi pencetak gol terbanyak di negaranya dengan koleksi 65 gol dari 105 pertandingan, hingga tahun 2014 lalu.

Atas semua kesuksesan yang diraih, karier gemilang Drogba menjadi salah satu cerita yang menarik untuk disajikan kepada para pembaca. Sang tokoh utama ini tentunya harus melalui beberapa rintangan berat terlebih dahulu, sebelum akhirnya menikmati kesuksesannya.

Dilahirkan dan dibesarkan di kota metropolitan Abidjan, Pantai Gading, Drogba meninggalkan Afrika pada usia lima tahun. Ia dikirim ke Prancis untuk tinggal bersama pamannya, Michel Goba, seorang pesepakbola profesional yang menjalankan kariernya di kasta kedua Prancis.

Krisis ekonomi yang sedang terjadi di Pantai Gading membuat ibunya terpaksa harus menyekolahkan anaknya ke Prancis. Mantan pemain Galatasaray itu pun bertemu pamannya di bandara Charles de Gaulle, Paris.

Setelah beberapa bulan tinggal di Prancis, orang tua Drogba mengira bahwa anaknya hanya akan fokus pada pendidikan dan tidak menjadikan sepak bola sebagai prioritas utama. Sementara itu, Goba, yang menjadikan sepak bola sebagai pekerjaannya, tidak setuju dengan gagasan itu dan menginginkan Drogba menjadi pesepakbola profesional.

Setelah berdiskusi dengan orang tuanya, Goba akhirnya memasukkan Drogba ke akademi sepak bola tanpa mengabaikan kebutuhan akademis. Drogba fokus menyelesaikan pendidikannya sementara sepak bola hanya menjadi kegiatan paruh waktunya.

Drogba pun melanjutkan pendidikannya untuk mendapatkan gelar sarjana di University of Maine dan mulai sedikit fokus bermain sepak bola di Le Mans. Itu pun berjalan sangat baik, di mana dirinya mulai mendapatkan perhatian dari klub Liga Prancis itu.

Kendati demikian, dalam mengejar karier sepak bolanya, Drogba menghadapi banyak kesulitan. Ia harus bekerja ekstra untuk bisa masuk ke skuat inti Le Mans. Beberapa tahun kemudian, bakatnya mulai terlihat.

Banyak orang mengira bahwa Drogba adalah berlian kasar yang berjuang dengan kehidupan untuk menjadi seorang pesepakbola profesional. Hingga akhirnya klub elit Prancis, Marseille, mengendus bakatnya dan berani membayar lebih dari 4 juta euro untuk mendapatkan bakatnya tersebut.

Pamer performa apik di Marseille, Drogba langsung menyita perhatian Chelsea hingga akhirnya bergabung dengan tim London tersebut. Bermain gemilang dan menjadi pemain penting di tim yang dibelanya, Drogba dipercaya menjadi ujung tombak Pantai Gading. Di sinilah cerita sejarah dimulai.

Didier Drogba adalah seorang legenda. Dia adalah pemain Afrika pertama yang mencetak 100 gol di Liga Utama Inggris. Selain sebagai kebanggaan benua Afrika, Drogba telah meninggalkan jejak sejarah yang tak terlupakan bagi masyarakat Pantai Gading, pada khususnya dan masyarakat dunia pada umumnya.

Karena ketenarannya di Pantai Gading, ada satu daerah di Abidjan yang menggunakan nama Drogbakro. Pemimpin kawasan, Kouassi Augustin, mengaku seluruh warga di Drogbakro sangat mengidolakan sosok Didier Drogba.

Hingga akhirnya, pada Oktober 2005 silam, Drogba dan kawan-kawan berhasil mengalahkan Sudan 3-1 dan membawa Pantai Gading ke putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman. Namun, selama kemeriahan itu, para pemain memiliki keprihatinan yang mendalam karena Pantai Gading terlibat dalam perang saudara yang menewaskan 4 ribu orang dan memaksa lebih dari satu juta orang untuk mengungsi sendiri.

Permintaan Gencatan Senjata Drogba

Didier Drogba: How Ivory Coast striker helped to halt civil war in his home  nation - BBC Sport

Bagi Didier Drogba, sepak bola lebih dari sekadar hiburan massal. Akan tetapi, ini tentang kehormatan dan melakukan apa yang benar. Drogba berada di puncak kariernya ketika negaranya, Pantai Gading, dihancurkan oleh perang saudara.

“Saya meninggalkan Pantai Gading dengan kondisi tertentu: Itu indah, jalanannya indah, ada tanaman hijau di mana-mana dan orang-orang bahagia. Dan ketika saya kembali beberapa tahun kemudian, saya melihat perubahan yang nyata. Saat itulah saya mulai bertanya pada diri sendiri,” kata Drogba, dikutip Edisi Bonanza88 dari Aljazeera.com.

Menggunakan ketenarannya sebagai alat untuk perubahan sosial, Drogba memutuskan untuk bertindak menyelamatkan negaranya dengan menarik politisi, faksi yang bertikai, dan rakyatnya sendiri untuk berdamai.

Setelah Didier Drogba membantu tim Pantai Gading lolos ke Piala Dunia 2006, dia menantang Presiden Gbagbo untuk mengakhiri perang saudara. Dia membuat permohonan putus asa kepada para pejuang, meminta mereka untuk meletakkan senjata mereka.

“Di dalam, kami ingin semua itu berhenti. Saat Anda memainkan korek api dan Anda dikelilingi oleh peluncur roket… oke, itu demi keamanan presiden, baiklah. Tapi Anda bermain dengan peluncur roket di mana-mana.”

“Kami ingin bermain dalam suasana yang lebih santai lagi. Jadi setelah pertandingan itu, kami sangat gembira, dan seseorang berbisik di telinga saya bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk menyampaikan pesan. Lalu kami hanya berimprovisasi,” katanya saat itu.

Kapten timnas Pantai Gading saat itu, Cyril Domoraud, mengajak media masuk ke ruang ganti dan menyerahkan mikrofon kepada Drogba yang sudah menjadi ikon nasional. Mereka berlutut di depan kamera dan mengirimkan ucapan-ucapan menyentuh kalbu.

“Warga Pantai Gading mulai dari utara, selatan, tengah, dan barat. Kami berlutut memohon Anda untuk saling memaafkan. Negara-negara besar seperti Pantai Gading tidak bisa terus tenggelam dalam kekacauan. Tolong taruh senjatamu dan maafkan satu sama lain,” ucap Drogba seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber.

“Kami membuktikan hari ini bahwa semua warga Pantai Gading dapat hidup berdampingan dan bermain bersama dengan tujuan bersama: lolos ke Piala Dunia. Kami berjanji kepadamu bahwa perayaan itu akan mempersatukan orang-orang. Hari ini, kami mohon, tolong -berlutut- maafkan. Maafkan, maafkan.”

“Satu negara di Afrika dengan begitu banyak kekayaan tidak boleh terlibat perang seperti ini. Tolong, serahkan semua senjata. Selenggarakan pemilu, atur pemilu. Semua akan lebih baik.”

Setelah itu, para pemain pun mulai bangkit berdiri, dan terlihat senyum lebar kini menyebar di wajah mereka. Sejumlah pemain pun akhirnya mulai bernyanyi, dan mengubah liriknya. “Kami ingin bersenang-senang, jadi berhentilah menembakkan senjatamu,” teriak para pemain.

Sebenarnya, perang saudara ini memang sudah meletus pada tahun 2002 silam. Pada saat Drogba berbicara kepada bangsa dari Stadion Al-Merrikh pada bulan Oktober 2005, perang saudara ini telah berkecamuk selama tiga tahun.

Pidato Drogba dan kualifikasi tim untuk Piala Dunia membantu meyakinkan pemerintah dan menentang Pasukan Baru untuk mengadakan gencatan senjata dan memulai kembali pembicaraan damai.

Permintaan Drogba di ruang ganti itu nampaknya tidak sia-sia. Pemerintah dan kekuatan lawan memutuskan untuk mengadakan gencatan senjata untuk memulai perdamaian. Pada awal 2007, kedua belah pihak menandatangani perjanjian perdamaian resmi yang menandai berakhirnya perang saudara.

Meskipun Drogba akan dikenang karena eksploitasi di lapangan hijau, upayanya untuk membantu mencoba dan mengakhiri perang saudara tidak akan dilupakan. Mengingat, ia merupakan sosok atlet yang lantang mengatakan perdamaian.

“Melihat kedua pemimpin berdampingan untuk lagu kebangsaan, sangat istimewa,” katanya kepada Telegraph pada 2007, beberapa bulan setelah perjanjian damai. “Saya kemudian merasa bahwa Pantai Gading dilahirkan kembali.”

Perang Saudara Pantai Gading Pertama

Hundreds Killed in Ivory Coast Town as Conflict Intensifies - The New York  Times

Perang Saudara Pantai Gading Pertama adalah konflik lima tahun yang terjadi di negara Afrika barat, Pantai Gading antara tahun 2002 sampai 2007. Pihak yang berperang dari konflik tersebut adalah pemerintah pusat Pantai Gading, dipimpin oleh Presiden Laurent Gbagbo dan didukung oleh Prancis dan Amerika Serikat.

Gbagbo juga merekrut Patriot Muda milisi Abidjan, tentara bayaran Liberia dan pilot dari Belarusia. Para pemberontak yang dipimpin oleh Guillaume Soro dan disebut Pasukan Nouvelles de Cote d’Ivoire (Pasukan Baru) didukung oleh Rusia, Bulgaria dan Burkina Faso.

Lebih dari 3 ribu tentara, anggota milisi, dan penduduk sipil tewas dalam konflik tersebut. Pada tahun 2004, pasukan penjaga perdamaian Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), terutama tentara dari Komunitas Ekonomi Negara-negara Afrika Barat (ECOWAS), memasuki Pantai Gading tetapi tidak berhasil menghentikan pertempuran.

Latar belakang konflik mencerminkan perpecahan agama di Pantai Gading antara Muslim di  utara dan Kristen di selatan. Presiden pertama negara itu, Felix Houphouet-Boigny, yang memerintah dari tahun 1960 hingga 1993, mampu menjaga perdamaian antar wilayah.

Penggantinya tidak sesukses itu, sehingga pada tahun 2000 silam, ada ketegangan terbuka antara utara dan selatan. Masuknya sejumlah besar imigran dari negara tetangga, Burkina Faso, juga memperburuk ketegangan karena penduduk asli Pantai Gading memperdebatkan apakah pendatang baru harus memiliki hak suara.

Perang saudara dimulai pada 19 September 2002 ketika pasukan utara melancarkan serangan di seluruh negeri terhadap pemerintah pusat. Akhirnya, pasukan pemberontak menyerang Abidjan, kota terbesar di negara itu.

Meskipun ada serangan di Abidjan, pasukan pemerintah tetap menguasai kota, wilayah Yamoussoukro, ibu kota, dan sebagian besar bagian selatan negara itu. Sementara pasukan pemberontak mengambil alih bagian utara dan pusat kota Bouake di Pantai Gading.

Upaya untuk menengahi gencatan senjata tidak berhasil dan pertempuran berlanjut hingga musim dingin dan meningkat tajam pada 28 November 2002. Itu terjadi ketika dua kelompok pemberontak, Gerakan Populer Pantai Gading Barat Besar (MPIGO) dan Gerakan untuk Keadilan dan Perdamaian ( MJP) menguasai kota Man dan Danane.

Tentara Prancis, yang secara terbuka mendukung pemerintah pusat, merebut kembali kota-kota itu dua hari kemudian. Pertempuran berlanjut hingga 2004, meskipun negosiasi perdamaian sedang berlangsung di kota Prancis Linas-Marcoussis.

Dalam satu insiden pada 4 November 2004, Presiden Pantai Gading Laurent Gbagbo menyerukan serangan udara terhadap pemberontak. Dua hari kemudian, sebuah pesawat perang Pantai Gading Sukhoi Su-25 secara keliru mengebom pangkalan militer Prancis dekat Bouake, dan menewaskan sembilan tentara Prancis dan seorang pekerja bantuan Amerika.

Setelah serangan itu, pemerintah Prancis mulai menarik dukungannya untuk pemerintah pusat Pantai Gading. Dan sebagai pembalasan atas serangan itu, mereka menghancurkan sebagian besar pesawat yang tersisa di Angkatan Udara Pantai Gading.

Perang akhirnya berakhir pada 4 Maret 2007, yang mana kesepakatan damai ditandatangani antara pemerintah dan pasukan pemberontak di Ouagadougou, Burkina Faso. Tim sepak bola nasional Pantai Gading   dikreditkan membantu mengamankan kesepakatan ini setelah lolos ke Piala Dunia 2006.

Mereka meminta semua pihak untuk menegosiasikan penyelesaian. Pantai Gading akan tetap damai selama empat tahun sampai muncul konflik baru pada tahun 2011, Perang Saudara Pantai Gading Kedua.

Sumber utama konflik ini adalah serangkaian keluhan ekonomi yang telah memicu keresahan politik negara. Insentif ekonomi membuat pemerintah mendorong ekspansi tanaman kakao secara cepat. Namun, kebijakan ini memotivasi petani untuk memanen tanaman mereka melebihi batas berkelanjutan, yang mengarah pada hasil yang lebih rendah.

Menghadapi ketegangan etnis yang meningkat dan penurunan pendapatan dari penurunan produksi ini, pemerintah memilih untuk mengadopsi kebijakan eksklusif terhadap orang luar. Sehingga meningkatkan ketidaksetaraan etnis dan mematahkan identitas nasional Pantai Gading.

Akhirnya, pemberontak utara mulai bertempur sebagai tanggapan atas perampasan relatif ini dan peluang ekonomi dari kakao mereka sendiri, yang bertindak sebagai bahan bakar lebih lanjut untuk konflik tersebut.

Sekedar informasi tambahan, dalam 20 tahun setelah kemerdekaan pada tahun 1960, Pantai Gading dikatakan mengalami “keajaiban” ekonomi. Ekspor, terutama kakao, menyumbang sekitar 40 persen dari produk domestik bruto antara tahun 1960 dan 1981. Jumlah itu jauh lebih banyak daripada yang dialami negara-negara tetangga. Selain itu, harga komoditas yang tinggi mendorong laju pertumbuhan sebesar 12,3 persen pada tahun 1976.

Pemerintah menggunakan pertumbuhan yang sangat tinggi ini untuk menarik keuntungan dari sektor kakao untuk mendorong industrialisasi. Pada tahun 1977, harga sewa ini mencapai 16 persen, atau kira-kira satu miliar dollar.

Karena harga sewa bergantung pada produktivitas sektor pertanian, pemerintah Pantai Gading mempromosikan produksi yang lebih besar dengan biaya lebih rendah dengan mengundang tenaga kerja murah dari luar negeri untuk bekerja di perkebunan kakao.

Setelah kematian Houphouët-Boigny pada tahun 1993, politisi mulai melakukan pendekatan instrumentalis, yang memanfaatkan kebencian dan perpecahan yang berkembang dalam masyarakat Pantai Gading.

Secara khusus, politisi selatan memanfaatkan konsep Ivoirité. Sementara Ivoirité awalnya digunakan untuk merayakan identitas nasional bersama untuk semua orang Pantai Gading. Istilah itu secara bertahap merujuk pada xenofobia baik dari orang Pantai Gading utara maupun kelompok migran oleh populasi dominan selatan.

Politik berdasarkan Ivoirité dengan demikian menjadi manifestasi etnis dari keluhan ekonomi yang berkembang dan mendorong sistem diskriminatif yang meningkatkan ketidaksetaraan horizontal.

Ketimpangan ekonomi horizontal selalu menjadi masalah di Pantai Gading. Tapi ketika Ivoirité berubah menjadi xenofobia yang dilembagakan, ketidaksetaraan ini diperburuk, dan meningkatkan kebencian antarwilayah.

Kelompok utara selalu menjadi orang yang paling tidak beruntung di negara itu. Dalam survei yang dilakukan antara tahun 1994 dan 1998, kelompok etnis utara memiliki statistik melek huruf dan kemakmuran sosial ekonomi terburuk di negara tersebut.