Kanibalisme memang salah secara moral dan norma di kehidupan masyarakat modern. Istilah ini sendiri datang dari penjajah Eropa yang datang ke Amerika Tengah pada abad ke-15.

Ketika itu bangsa Eropa terkejut setelah melihat budaya lokal yang dalam sejumlah kesempatan memakan organ tubuh manusia lainnya. Namun, tidak perlu jauh-jauh pergi melintasi benua dan samudera, kita dapat menemukan praktik kanibalisme di Indonesia tercinta ini.

Pada 2003, warga Purbalingga dikejutkan dengan fenomena aneh. Pasalnya, salah satu warga bernama Sumanto memiliki kebiasaan menyantap daging mayat manusia.

Hal ini mulai mengemuka setelah ditemukan sejumlah mayat yang terbongkar dan dikeluarkan dari liang kuburnya. Akibat perbuatannya ini Sumanto dijatuhi hukuman pidana dan dipenjara. Pada 2006 Sumanto dibebaskan setelah dinyatakan memiliki gangguan jiwa oleh pengadilan.

Jika praktik kanibalisme yang dilakukan oleh Sumanto dikarenakan gangguan jiwa yang dia alami, berbeda halnya dengan suku Korowai di Papua. Suku Korowai sendiri digadang-gadang sebagai suku terakhir yang masih menerapkan kanibalisme sebagai bagian dari adatnya.  Meski demikian, ada kontroversi besar yang melatarbelakangi anggapan ini.

Kontroversi Kanibalisme

12 Hari bersama para kanibal, berani? | merdeka.com

Suku ini memiliki setidaknya 3000 penduduk. Mereka menempati daerah pedalaman hutan di Papua Barat, dekat dengan perbatasan antara Indonesia dengan Papua Nugini.

Menurut sejarawan, suku ini baru tercatat dalam sejarah pada 1978, meskipun diperkirakan suku tersebut sudah ada jauh lebih lama dari itu. Suku ini juga baru bertemu dengan orang luar Papua di tahun yang sama. Adalah sosok Johannes Velduizen yang menemukan keberadaan suku tersebut ketika tersesat dalam perjalanannya. Johannes adalah seorang penginjil asal Belanda yang bekerja di beragam gereja-gereja reformasi di seluruh Indonesia.

Pada saat itu Veldhuizen sedang menjelajahi hutan Papua dengan helicopter dan perahu untuk menyusuri sungai-sungai dan perairan di sana. Baru pada 1980 Johannes dan kawannya, Henk Venema, berhasil mendekati masyarakat suku Korowai untuk akhirnya mendirikan sekolah dasar dan klinik kesehatan di sana. Projek ini memaksa para pendeta tadi untuk terus mondar-mandir masuk ke dalam wilayah suku Korowai dan mengatur berbagai kesepakatan untuk meneruskan projek tersebut.

Kedatangan  para pendeta ini juga memberikan dampak lain pada suku Korowai. Kedua pendeta tadi aktif mempromosikan keberadaan suku Korowai ke pemerintah Indonesia maupun publik global. Pada era 1980an, Pemerintah Indonesia juga berhasil membentuk kecamatan baru di daerah Korowai. Kecamatan ini berbasis di daerah Kouh.

Promosi kehadiran suku tersebut cepat berbuah. Tidak lama setelah kedatangan para pendeta, para pembuat film dokumenter pun menyusul. Adalah Judy Halett dan Paul Taylor dari Smithsonian Instution yang mendatangi suku ini dan turut membesarkan namanya. Smithsonian Institution sendiri adalah institusi gegorafi dan antropologi yang berbasis di Amerika Serikat.  Judy dan Paul datang ke sana untuk membuat sebuah film yang menjelaskan kehidupan sehari-hari bersama suku tersebut.

Film ini menjadi sangat heboh di publik Amerika Serikat. Pasalnya, dalam film mereka menarasikan bahwa suku Korowai menerapkan praktik kanibalisme. Kanibalisme bahkan menjadi cap utama yang ditempelkan pada suku ini. Hal ini menyebabkan publik global gempar dan hingga saat ini hanya memahami suku Korowai melalui cap tersebut. Bahkan hingga saat ini masih banyak orang yang takut memasuki wilayah Suku Korowai karena cap yang dilabeli oleh Judy dan Paul.

Ada banyak versi terkait kanibalisme yang dipraktikan oleh suku Korowai. Versi yang pertama adalah penerapan kanibalisme sebagai hukuman tertinggi bagi masyarakat suku yang melanggar hukum adat. Sedangkan versi yang kedua, adalah karena suku ini meyakini kanibalisme sebagai salah satu cara untuk menyembuhkan penyakit.

Perlu disadari, suku ini hidup selama puluhan ribu jauh dari peradaban dan kontak dengan manusia lain. Mereka tidak dapat mengandalkan obat-obatan maupun penanganan medis modern. Akibatnya, mereka hanya dapat mengandalkan tumbuh-tumbuhan herbal dan tahayul sebagai moda untuk menyembuhkan penyakit.

Umumnya, setiap anggota suku memiliki ekspetasi hidup hingga usia 50. Namun, pada beberapa kesempatan masyarakat suku seringkali dihadapi dengan kehadiran bencana biologis seperti wabah. Tanpa bekal pengetahuan sains modern, mereka berhadapan dengan sebuah penyakit dengan gejala yang menakutkan. Karena tidak mampu menganalisis jenis penyakit ini, mereka lalu menghubungkan kematian-kematian misterius yang disebabkan oleh gejalanya sebagai Khakhua. Khakhua sendiri dapat iblis dalam wujud manusia.

Keyakinan terkait hadirnya Khakhua ini bahkan menjadi dongeng sendiri. Menurut suku Korowai, mereka tidak mau memakan manusia, mereka hanya memakan Khakhua. Khakhua diyakini datang dan membunuh anggota suku pada malam hari ketika si korban tertidur. Khakhua juga diyakini membunuh si korban menggunakan panah magis yang dilancarkan ke jantung korban.

Setelah membunuh, Khakhua kemudian berpura-pura menjadi bagian dari mereka. Para Khakhua bisa berpura-pura menjadi siapa saja bahkan teman dan keluarga orang-orang Korowai. Biasanya si korban akan membisikkan sebuah nama ke telinga kerabatnya. Nama yang dibisikkan ini adalah satu-satunya orang yang mengetahui siapa si Khakhua.  Namun tetap saja, untuk mengetahui siapa Khakhua sebenarnya akan sangat sulit karena Khakhua sendiri diyakini bisa mengelabui masyarakat Korowai.

Pengelabuan ini diyakini untuk memperoleh kepercayaan para anggota suku sehingga si iblis perlahan bisa membunuh mereka semua satu per satu. Untuk menghentikan Khakhua, suku Korowai melakukan ritual kanibalistik kepada siapa saja anggota yang diyakini terjangkit Khakhua. Hal ini tentu saja demi kepentingan suku.

Ritual ini dimulai dengan menangkap si terduga Khakhua, lalu langsung membunuhnya di tempat. Setelah Khakhua dibunuh para anggota suku kemudia memakan daging Khakhua ramai-ramai.

Keyakinan Suku Korowai terkait hadirnya roh jahat seperti Khakhua ini diyakini sebagai alasan utama mengapa mereka hidup di atas pohon tinggi. Selain karena adat kanibalistik, suku Korowai juga memang dikenal dengan rumah pohonnya.

Mereka dikatakan bisa hidup di atas pohon bahkan dengan ketinggian 100 kaki. Hal ini dilakukan untuk menjauhi daratan, tempat di mana banyak roh jahat berlalu lalang. Menurut catatan versi ini, Suku Korowai hidup di atas rumah pohonnya setiap malam ketika beristirahat, dan akan beraktifitas seperti berburu dan mengumpulkan makanan pada siang hari.

Informasi yang dihimpun Edisi Bonanza88 terkait kehidupan suku Korowai dan adat istiadat dalam masyarakatnya seringkali simpang siur. Ada beberapa antropolog ataupun pemandu turis yang meyakini suku tersebut masih menerapkan praktik kanibalisme, ada pula yang meyakini bahwa praktik tersebut sudah ditinggalkan.

Menurut salah satu pemandu turis bernama Boas, suku tersebut masih menerapkan perburuan Khaukhua. Setiap tahun tidak hanya satu Khaukhua yang dibunuh, melainkan bisa saja banyak tergantung penyebaran penyakitnya. Tidak sampai di situ, Boas bahkan mengenalkan salah satu pemburu Khaukhua terbaik di suku Korowai kepada para antropolog.

Praktik kanibalisme yang dilakukan suku Korowai sendiri dibantah oleh para pendeta yang pertama kali bertemu dengan suku tersebut. Menurut mereka, suku Korowai sudah meninggalkan adat tersebut perlahan setelah mereka datang. Bahkan suku Korowai pun sudah menerima injil sebagai pedoman hidup mereka. Hal ini juga merupakan dampak dari kedatangan Johannes dan kawan pendetanya.

Simpang siur terkait kanibalisme suku Korowai ini juga membuat para pendeta tadi gerah. Mereka lalu mendatangkan wartawan Alexander Smoltczk dan George Steinmetz ke dalam daerah Korowai. Melalui peliputan baru ini, publik Belanda mendapat gambaran etnografi yang lebih akurat.

Kontroversi Rumah Pohon

Suku Korowai yang Tinggal di Rumah Pohon - Semua Halaman - Bobo

Tidak hanya kanibalisme yang menjadi sorotan dunia ketika mendengar nama Suku Korowai. Suku ini juga dikenal mahsyur karena tradisinya membuat rumah pohon yang tinggi, Tradisi pembuatan rumah pohon tinggi ini dicatat oleh media publik Inggris, BBC.

Rumah pohon suku Korowai mampu mempesona publik global. Bagaimana tidak, rumah pohon Korowai dikatakan sebagai fenomena eksotis yang mampu membuktikan kecanggihan arsitektur primitif yang mampu membuat struktur bangunan di atas pohon yang relatif rentan sebagai pondasi. Rumah pohon Korowai pun dibangun dengan bahan seadanya.

Rumah pohon Korowai mampu berdiri dengan lantai yang terbuat dari untaian cabang dan dinding yang terbuat dari kulit sagu, dan atap dari daun-daun yang ditemukan di hutan. Untuk mengokohkan struktur bangunan, suku Korowai menggunakan rotan sebagai pengikat antar bahan-bahan baku yang digunakan. Meskipun rumah berada di atas pohon yang tinggi, suku Korowai memiliki siasat untuk menyusun tangga yang panjang dari bawah hingga masuk ke dalam rumah.

Semua kecanggihan arsitektur rumah suku Korowai ini diceritakan dalam program Human Planet yang tayang di BBC. Tayangan ini kemudian diakui sebagai tayangan “settingan” oleh pihak BBC sendiri. Pada 2018, seorang kru dokumenter BBC menemukan kejanggalan dalam adegan-adegan yang ada dalam tayangan tersebut. Menurutnya, adegan tersebut nampak telah disusun sedemikian rupa agar terlihat menarik di layar kaca.

Pihak BBC kemudian melakukan penelusuran lebih lanjut terkait dugaan ini. BBC mengirim Will Millard untuk membuat dokumenter berjudul My Year With The Tribe. Dalam tayangan tersebut, seorang anggota suku menyatakan bahwa rumah yang ada di daerah tersebut tidak pernah ditempati.

Bahkan anggota suku juga mengakui bahwa rumah itu sengaja dibangun sebelum BBC datang. Melalui narasumber yang sama, dapat diketahui pula pembangunan rumah pohon tersebut memang sengaja dilakukan untuk menarik perhatian pembuat tayangan dari luar negeri.

Mengetahui fakta ini, BBC langsung memutuskan kasus tersebut sebagai pelanggaran standar redaksi. Salah satu jubir BBC mengatakan bahwa kejadian ini telah memaksa mereka untuk memperbaiki standar redaksionalnya.

“BBC telah megulas tayangan Human Planet edisi rumah pohon ini dari adegan ke adegan. Kami menemukan bahwa penggambaran masyarakat suku yang pindah ke dalam rumah pohon adalah gambaran yang keliru,” ujar sang juru bicara.

Posisi Suku Korowai Di Indonesia Kini

Korowai, Si Pemakan Manusia Terakhir

Sejauh ini kita dapat mengakui bahwa suku Korowai dikenal erat oleh dunia. Meskipun citra suku Korowai sendiri seringkali bermasalah karena peliputan dan pencatatan sejarah yang tidak akurat. Tetapi hal ini tidak kunjung memberikan dampak positif pada masyarakat suku sendiri.

Kedatangan para misionaris Belanda memang memberikan dampak positif berupa terjadinya pembangunan fasilitas kesehatan ataupun pendidikan agama bagi para anggota suku. Sayangnya, pembangunan fasilitas fisik seperti jalan, jembatan, dan puskesma ternyata tidak terjadi.

Hal ini juga diakui leh salah satu pemilik dusun di Korowai, Ben Yarik. “Bertahun-tahun sudah tidak terlihat pemerintah pernah membangun Korowai,” ujar Ben.

Ben juga melanjutkan, bahwa pada saat ini penduduk Korowai sudah mulai beraktifitas jauh dari adat sebelumnya. Jika sebelumnya penduduk Korowai dikenal dengan aktifitas perburuan dan perkebunan sagu, saat ini mata pencaharian penduduk Korowai yang paling besar justru berasal dari tambang emas.

“Tuhan yang member emas bagi kami, kami jadi bisa menambang dan itu membantu kami,” jelas Ben.

Ben menyayangkan ketiadaan peran pemerintah dalam pembangunan akses menuju Korowai. Bahkan hingga kini, penduduk Korowai juga tidak menerima jaminan dari pemerintah untuk mempertahankan mata pencaharian masyarakat Korowai tersebut. Oleh karena itu, Ben hanya bisa berharap supaya pemerintah tidak menutup tambang yang dibuat oleh masyarakat setempat.