Punk bukanlah sekedar genre musik belaka. Istilah punk justru lebih dulu hadir sebagai sebuah pergerakan kolektif masyarakat.

Semangat punk pertama kali terdengar di Inggris sana sekitar tahun 1990-an silam. Pencetusnya ialah sekelompok generasi muda yang muak dengan kondisi perpolitikan Inggris.

Mayoritas penggerak awal punk berasal dari kelas pekerja. Mereka menunjukkan sikap pemberontakan atas pemerintahan yang dinilai gagal mengayomi masyarakat.

Lebih jauh, para penganut semangat punk juga kecewa terhadap budaya mainstream serta kondisi perekonomian negara yang begitu terpuruk. Tujuan pergerakan mereka sebisa mungkin berusaha memperlihatkan resistensi dari budaya dominan.

Singkatnya, punk merupakan wujud nyata ideologi anti-kemapanan. Anak punk mau hidup mandiri, melepaskan diri dari sistem kapilatis yang dimonopoli oleh kalangan orang-orang kaya.

Melihat hal seperti itu, punk kemudian banyak dipandang negatif dan diidentikan dengan anarkisme. Bahkan tak jarang yang menganggap anak punk hanyalah sekelompok orang brutal, gemar melakukan pengerusakan, dan aksi kekerasan.

Pandangan masyarakat mainstream (taat kepada pemerintah) kepada anak punk tak jauh beda. Bagi golongan mainstream, para punker cuma sekelompok kriminal.

Golongan mainstream sampai berani menyebut anak punk sebagai kaum marjinal. Hal ini yang lantas membuat anak punk kerap ditolak oleh kehidupan sosial.

Padahal anarkisme yang diusung punk tidaklah demikian. Konsep anarkisme yang dipegang anak punk justru sejalan dengan penjelasan Pierre-Joseph Proudhon, yakni bergerak semaksimal mungkin, berusaha terbebas dari segala jeratan kapilatis yang merenggut kebebasan individu.

Anak punk sendiri jelas enggan berperilaku seperti masyarakat penganut budaya mainstream yang taat hukum, terjerat dalam kapitalisme, dan menggilai pemerintah. Anak punk lantas menciptakan sebutan tersendiri untuk melabeli masyarakat golongan mainstream lewat istilah dog’s buddy.

Istilah lain yang diciptakan anak punk adalah DIY, akronim dari Do It Yourself. Para punker mencetuskan istilah DIY lantaran kehidupan mereka yang sering dianggap tak lazim oleh golongan mainstream.

DIY kemudian dijadikan prinsip hidup oleh anak punk. Makna DIY seakan makin menegaskan kalau anak punk mampu bertahan hidup meski tak mendapat bantuan golongan lain.

Kemunculan istilah DIY perlahan tapi pasti meluas dan bergerak ke banyak elemen kehidupan masyarakat umum. Alhasil makin banyak jumlah orang awam yang tiba-tiba menyukai prinsip punk, sampai ikut terjun langsung menerapkan DIY.

Punk menjadi begitu populer karena mereka piawai memanfaatkan empat sarana dalam mengampanyekan budaya punk itu sendiri. Para punker mengandalkan kendaraan budaya populer seperti musik dan fashion, serta faktor lainnya, yakni pemikiran dan komunitas.

Ketenaran punk bisa sangat mendunia berkat karya-karya musik hasil karya para punker. Sex Pistols dan Ramones, jadi contoh band yang jadi pionir bagi pergerakan musik punk.

Sex Pistols pertama kali mencuat pada 1975 dan membawakan lagu-lagu bertemakan punk. Kehadiran Sex Pistols yang begitu tenar dengan vokalisnya, Sid Vicious, seakan membantu pergerakan punk meluas ke seluruh tanah Inggris.

Kualitas Sex Pistols sebagai band punk bukan kacangan atau sekedar asal-asalan. Buktinya pada 2004, majalah Rolling Stones sampai berani menempatkan Sex Pistols ke urutan 58 dalam daftar 100 artis terbesar di dunia.

Sementara Ramones mempopulerkan musik punk di belahan negara berbeda, yaitu Amerika Serikat. Ramones pertama kali mencuat pada 1974 di Forest Hills, Queens, New York.

Kepopuleran Ramones pun tak kalah hebat dengan yang ditampilkan oleh Sex Pistols. Ramones juga berhasil masuk ke deretan 100 artis terbesar di dunia versi majalah Rolling Stones, menduduki urutan 26.

Secara garis besar, genre musik punk dapat dijelaskan sebagai musik yang punya beat tinggi dan menghentak. Pada bagian lirik, musik punk dihiasi ciri khas yang banyak disisipi diksi berisi sindirian terhadap pemerintah dan kehidupan sosial yang sarat kesenjangan di sekitar mereka.

sampah.net: Sejarah Punk: Jangan Ngaku Anak Punk Sebelum Baca Tulisan Ini!

Lirik-lirik lagu punk juga sungguh tidak easy-listening karena lagu punk cara bernyanyinya mengutamakan teknik teriakan-teriakan kelas bawah yang meluapkan rasa tertindas, amarah, dan frustrasi terhadap kekuasaan dominan. Tak jarang lagu-lagu punk diisi pesan-pesan politik yang tertuang dalam lirik-lirik lagunya.

Kalau ditelusuri, jauh sebelum Sex Pistols dan Ramones, sebenarnya ada band yang lebih dulu memainkan lagu punk. Los Saicos, band asal Lima, Peru, Amerika Selatan ini gemar memainkan lagu-lagu distorsi, musik up-beat, dan teriak-teriak, khas genre punk.

Los Saicos digawangi oleh Erwin Flores (vokal/gitar), Rolando Carpio (gitar), César “Papi” Castrillón (bass/vokal), and Pancho Guevara (drum/vokal). Band ini sudah mengudara menyapa penikmat musik pada 1964.

Ada tiga single paling terkenal yang merupakan hasil karya Los Saicos, yakni “Demolición”, “Fugitivo de Alcatraz” and “El Entierro de los Gatos”. Khusus Demolicion, isi lagunya bercerita tentang kekesalan Los Saicos terhadap tragedi peledakan rel kereta api di Peru.

Sayangnya, keberadaan Los Saicos tak berumur panjang. Dua tahun pasca berdiri, Los Saicos akhirnya memutuskan untuk bubar.

Jejak Punk di Indonesia

Virus Punk dan Geliat Awal Perlawanan

Indonesia terbilang cukup telat mengenal skena punk. Sedekade pasca kelahirannya, Indonesia masih jauh dari sentuhan punk.

Sarana manapun yang biasa dipakai punk menjual ideologinya, baik musik, fashion, pemikiran, dan komunitas, juga belum mampu menggugah masyarakat Indonesia. Sepanjang pertengahan sampai akhir era 1980-an, musik keras Indonesia masih sangat didominasi Thrash Metal, bukan punk.

Film berjudul “Menggapai Matahari” pada 1986 yang dibintangi Rhoma Irama, sempat menampilkan unsur punk. Salah satu aktornya ketahuan memakai pakaian yang meniru gaya Ramones.

Namun itu belum cukup menunjukkan keberadaan punk benar-benar merasuki masyarakat Indonesia. Pernah pula muncul band bernama Punk Modern yang masa aktifnya sangat singkat, yakni 1984 hingga 1985.

Tapi lagi-lagi, Punk Modern tak cukup kuat menjadi bukti masuknya budaya punk di Indonesia. Punk Modern justru lebih sering memainkan cover lagu dari Duran Duran yang beraliran pop rock.

Seorang musisi, Yockie Suryoprayogo, pernah merilis album yang meminjam istilah punk, Punk Eksklusif. Tapi isi lagu-lagu dari album Yockie Suryoprayogo hanya mengandung aransemen New Wave.

Morgue Vanguard, seorang musisi yang bernama asli Herry Sutresna, menyebut kalau era 1980-an sebenarnya menjadi tahap awal perkenalan masyarakat Indonesia dengan budaya punk. Istilah yang lebih ingin dipakai Morgue Vanguard untuk menjelaskan fenomena tersebut adalah pra-punk.

“Di era 80-an, atau bisa kita sebut pra-punk, penikmat musik Indonesia belum mampu mengapresiasi budaya Punk secara utuh,” ujarnya seperti dilansir Edisi Bonanza88 dari sejumlah sumber.

Era 1980-an dari sisi musik, Indonesia sedang begitu memuja genre Progressive Rock, yang penuh dengan kualitas skill bermusik. Progressive Rock justru sangat bersebrangan dengan musik punk yang menawarkan anti-tesis skill.

Sampailah pada akhir era 1980-an yang mana bergaung kecintaan sejumlah kelompok masyarakat Indonesia terhadap musik metal. Bisa dibilang, musik metal jadi titik yang mulai membuka pintu kepada budaya punk masuk ke Indonesia.

Pergerakan musik metal memperkenalkan punk, dibantu pula oleh peran Pid Pub yang berlokasi di Pondok Indah. Pid Pub jadi tempat yang sekaligus saksi sejarah lahirnya Punk Rock.

Kisahnya terjadi pada kisaran tahun 1987 sampai 1991. Pib Pub menelurkan sejumlah musisi yang menganut aliran punk, seperti Antiseptic, The Stupid, Feri Blok M, Dayan The Stupid, hingga Udet Young Offender.

Udet tergolong sosok menengah ke atas yang membantu menularkan punk di Indonesia. Perkenalan dan ketertarikan Udet kepada Punk terjadi kala dirinya bersekolah di New York, Amerika Serikat.

Jejak sejarah masuknya disko ke Indonesia punya cerita berbeda versi berbeda Majalah Aktuil. Sekedar pengingat, Aktuil merupakan majalah asal Bandung yang jadi kiblat remaja dalam mencari informasi soal budaya populer era 1970-an sampai 1980-an.

Aktuil pada era 1970-an sudah mulai membuat artikel di majalahnya yang membahas budaya punk. Pada 30 Januari 1978, Aktuil membuat artikel berjudul “Bentuk-Bentuk Tirani Dalam Semakin Merajalela” yang menyoroti kiprah band punk barat, The Clash.

Menginvasi Ibu Kota

Polisi Ciduk 103 Anak Punk di Jakarta Barat | Republika Online

Keberadaan punk di Indonesia, khususnya di Jakarta, diikuti oleh proses sejarah. Fakta ini jelas bertentangan dengan klaim bahwa kehadiran punk di Indonesia ini tanpa alasan. Di balik proses sejarah ini terdapat kontradiksi internal dalam perkembangan sejarah komunitas punk di kota Jakarta.

Dengan kata lain, dari fakta sejarah ini, penulis berupaya memahami sejarah komunitas punk secara kritis. Penulis setidaknya dapat mengidentifikasi tiga refleksi kritis pada komunitas Punk Jakarta sebagai gerakan tandingan.

Pertama, dari empat periode sejarah terlihat bahwa punk sebagai gerakan perlawanan menemukan bentuk terbaiknya di periode kedua. Namun, masalahnya pun terletak di periode ini. Bila komunitas punk merupakan gerakan tandingan, maka konsistensi sikap politik komunitas punk Jakarta perlu dipertanyakan.

Punk sebagai gerakan politik dapat dibaca sebagai akibat dari infiltrasi kondisi sosial politik tahun 1997-1999. Kondisi ini didorong oleh reformasi yang membuka kebebasan berbicara dan berekspresi.

Periode berikutnya, yakni periode III, dimulai dari tahun 2001 hingga saat ini. Secara perlahan menunjukkan bahwa komunitas punk mengalami proses depolitisasi Jakarta, seiring dengan menurunnya aktivitas politik publik setelah reformasi pada tahun 1997-2000.

Artinya, komunitas punk Jakarta mengalami stagnasi untuk aktivitas politik yang sebenarnya. Dengan artian lain, komunitas punk Jakarta terjebak di situasi dan kondisi politik dalam sikap serta tindakan yang bertentangan dengan negara dan kapitalisme.

Perkembangan baru komunitas punk ini meningkat pada tahun 2001 silam. Semangat kebersamaan dan persatuan yang diusung melalui slogan Jakarta Punks, diwujudkan melalui Jakarta Bersatu jilid 1 yang diadakan pada bulan Februari 2001. Jakarta Bersatu sendiri merupakan momen penting bagi pembentukan basis ekonomi kekuatan politik masyarakat Jakarta.

Acara Jakarta Bersatu jilid pertama ini sebenarnya merupakan acara gabungan dengan genre musik hardcore dan skinhead. Pihak panitia sengaja menggabungkan beberapa jenis genre dengan tujuan mempersatukan komunitas musik yang memiliki kesamaan latar belakang.

Bisa dikatakan bahwa peminat Jakarta Bersatu ini sangat meriah, dimana ada sekitar 5.000 hingga 7.000 penonton yang hadir di acara tersebut. Ini pun merupakan bukti bahwa komunitas punk, hardcore dan skinhead berhasil menyelenggarakan acara dengan kapasitas besar.

Gelaran pertunjukan musik ini juga memperlihatkan perlawanan dalam penolakan sponsor yang dianggap kapitalis. Tak hanya sampai di situ, mereka juga memperlihatkan idealismenya dengan menolak label-label ternama dari industri musik besar. Bahkan sebagian besar dari mereka juga bergerak dalam perubahan politik.

Mengingat, musik underground di Indonesia sendiri adalah sebuah revoulis politik, yang ingin mengubah sistem kediktatoran menjadi lebih demokratis. Tak jarang, dari band punk yang memasukkan kalimat perlawanan dalam sebagian besar lagunya.

“Sampai kapankah derita ini (au ah) yang kaya darah dan air mata, yang senantiasa mewarnai bumi pertiwi. Pengangguran merebak luas, kemiskinan merajalela, pedagang kaki lima tergusur teraniaya. Bocah-bocah kecil merintih melangsungkan mimpi di jalanan. Buruh kerap dihadapi penderitaan,” sepenggal lagu dari Marjinal.

Dalam artikel Punk and the city: A history of punk in Bandung, Frans Prasetyo menjelaskan tumpang tindih politik punk dan anarkis Indonesia di tahun 1990-an. Itu terlihat jelas dalam kebangkitan FAF (Front Anti-Fasis), sebuah kolektif anti-facist dari musisi dan aktivis punk.

Mulai Realistis

Punkrock akustik SID - MARJINAL - YouTube

Setelah mengalami proses transisi, Punk Jakarta berkembang menjadi bentuk yang berbeda dari periode sebelumnya. Pada periode ini, komunitas punk di Jakarta mengalami intervensi kapitalisme melalui komodifikasi dan absorpsi simbol-simbol punk.

Jika pergerakan punk periode kedua industri masih menganggap budaya punk tidak memiliki nilai jual yang tinggi, kini mereka berpikir sebaliknya. Menurut Zulqarnain Iskandar, punk di Indonesia (termasuk Jakarta) menjadi sasaran komodifikasi industri.

Band seperti Superman Is Dead (SID) menandatangani kontrak dengan perusahaan besar yaitu Sony Music Indonesia. Pasca jatuhnya Soeharto, arus globalisasi begitu deras merasuki komunitas punk di Jakarta.

Masuknya MTV melalui stasiun televisi lokal seperti Global TV Quiz nyatanya berdampak besar pada pembentukan wacana punk. MTV juga bekerja sama dengan perusahaan MRA mendirikan majalah Trax dan MTV radio.

Selain kapitalisme, pengaruh internet juga sedikit lebih banyak mempengaruhi interaksi dan proses sosialisasi komunitas punk di Jakarta. Generasi punk yang lahir pada periode ini tidak mengalami interaksi dan sosialisasi antar sesama punk. Mereka mendapatkan informasi melalui internet dan media.

Dahulu, generasi punk di Jakarta mengenal band punk melalui proses interaksi antar anggotanya. Kini, mereka sudah bisa mengambil referensi identitas punk lewat media seperti MTV.

Sebagaimana dikemukakan Zulqarnain Iskandar melalui MTV, band-band punk komersial Barat, seperti Blink 182 dan Sum 41, membentuk wacana baru tentang punk di Jakarta. MTV juga memberikan kesempatan kepada band-band punk lokal yang ingin tampil di televisi agar video musiknya ditayangkan.

Di sisi lain, keberadaan internet urung memberikan energi positif bagi perkembangan komunitas punk di Jakarta. Melalui Internet, hubungan kontak langsung dengan komunitas punk di luar negeri berkembang pesat. Indonesia dan Jakarta mulai dikenal oleh komunitas punk dunia.

Dengan sendirinya, interaksi komunitas punk di tingkat Jakarta menjadi semakin luas. Komunitas Jakarta untuk pertama kalinya mendatangkan Band Punk luar negeri, yakni Wojcezh (asal Jerman).

Wojcezh pun akhirnya manggung di depan Pasar Festival Kuningan di Jakarta. Kehadiran Wojcezh di Jakarta ini sendiri nyatanya tak terlepas dari kerja sama antara komunitas Punk Jakarta dengan teman-teman dari Malaysia-Singapura.

Setelah Wojcezh, hadir beberapa band dari luar negeri untuk bermain di Indonesia. mereka adalah Battle of Disarm and Power of Idea (Jepang), Foco Protesta, Rambo (Amrika Serikat), Phist Crist (Australia), dan Topsiturfi (Singapura), Second Combat Hardcore (Malaysia).

Selanjutnya ada juga Masseparation Grindcore (Malaysia), Young And Dangerous Trashcore (Malaysia), dan Cluster Bomb Unit, band asal Jerman yang pernah bermain di Jakarta dua kali pada tahun 2005 dan 2006.

Kehadiran band-band di atas tidak menggunakan bantuan dari sponsor. Melalui kerja sama kolektif antar grup punk Jakarta, band luar negeri bisa dimainkan di Jakarta. Salah satu peristiwa penting adalah hadirnya band legendaris The Exploited yang telah eksis di komunitas punk Inggris sejak 1980-an.

The Exploited hadir di Jakarta dalam tur Asia Tenggara. Di Indonesia, konser The Exploited digelar di tiga kota yakni Jakarta, Bandung dan Malang. Acara menarik lainnya adalah konser yang digelar di Jakarta pada 10 Juni 2006 di Lapangan Bola Cirendeu. Konser pun berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan sponsor.

Namun kini, perkembangan komunitas Punk Jakarta dalam kondisi yang memprihatinkan. Banyak dari anggota komunitas punk Jakarta yang bekerjasama dengan institusi kapitalisme, yang sebelumnya mereka klaim sebagai musuh mereka. Contoh peristiwa yang memicu kontroversi adalah masuknya Marjinal ke stasiun televisi lokal RCTI.

Selain itu Taring Babi dan Marjinal juga terlibat sebagai figuran dalam film Naga Bonar 2. Pada adegan di film tersebut kita bisa melihat beberapa anak punk dari kelompok Taring Babi mengikuti upacara. Hal ini mengindikasikan bahwa kesadaran kolektif komunitas punk Jakarta melemah.

Akhirnya punk gagal memberikan alternatif atau perjuangan ekonomi melawan sistem kapitalis. Karena orientasi yang dilakukan komunitas punk Jakarta telah menyiapkan akumulasi modal dalam kegiatan produksinya.