Kota Depok dahulu merupakan sebuah dusun terpencil di tengah hutan belantara, yang kemudian pada tanggal 18 Mei 1696 seorang saudagar Belanda eks VOC bernama Cornelis Chastelein membeli tanah di kawasan Depk seluas 1224 hektar dengan harga 70o ringgit. Selain di Depok ia juga membeli tanah di Jatinegara, Kampung Melayu, Karang Anyer, Pejambon Mampang dan khusus tanah Depok bersifat tanah partikelir atau terlepas dari kekuasaan Belanda.

Sebagai tuan tanah partikelir, Chastelein berhak mengurus tanahnya dan memerintah sesuai dengan garis kebijaksanaan yang ditetapkannya sendiri. Dan ia memang menyiapkan dengan sirus pemerintahannya yang sekarang digunakan sebagai rumah sakit harapan yang terletak di jalan Pemuda.

Dengan mengerahkan 150 orang budak yang ia dapat dari kawasan Indonesia Timur (kalimantan, sulawesi, Bali dan sedikit Betawi). Ia menetapkan cukai sebesar 20% dari setiap panen padi yang berlangsung.

Rupanya Chastelein berhasil membangun Depok sampai awal abad 20. Suasana Depok memang asri, iklim sejuk dengan hamparan sawah di sana sini. Pohon babmbu merumpun dan jalan berbatu nampak bersih. Selama di Depok Chastelein mengawini dua wanita pribumi. Dari salah seorang isterinya lahirlah Maria Chastelein yang diakuinya dihadapan notaris.Kemudian seorang anaknya lagi diberi nama Catharina van Batavia.

Padahal ketika ia baru tiba beberapa bulan di Batavia ia menikahi seorang gadis Belanda bernama Catharina van Vaalberg yan dikaruniai seorang putera yang dinamakan sama dengan ayahnya Antoni Chastelein.

Chastelein juga melancarkan misi menyebarkan agama Kristen di Depok. Dengan membangun sebua gereja yang terbuat dari kayu pada tahun 1700. Awal abad ke-19 gereja itu direnovasi dan hancur karena gempa pada tahun 1836. Tetapi gereja tersebut dibangun kembali. Setelah bertahun –tahun lamanya. Gereja yang terletak di jalan Pemuda itu masih kokoh sampai sekarang. Gereja Emmanuel begitu biasanya ia sebut.

Selain gereja di Depok dibangun sekolah seminari pertama di Indonesia, pada tahun 1878 sekiolah itu teah berhasil menghasilkan pendewta-pendeta baru. Dan setiap tahunnya para penginjil itu banyak tumbuh di Indonesia. Sekarang gedung sekolah tersebut digunakan sebagai panti wreda yang letaknya di dekat stasiun Depok Lama.

Kembali ke masa Chastelein, Chastelein pada waktu itu sangatlah murah hati. Buktinya beberapa bulan sebelum ia meninggal ia sempat membuat surat wasiat yang berisikan seluruh tanahnya uang serta emas dan hewan-hewan ternaknya diwariskan kepada pekerjanya yang terdiri dari 12 warga.

Marga-marga tersebut adalah Soedira, Leander, Laurens, Jonathans, Loen, Tholense, Samuel, Joseph, Bacas, Jacob, Isakh, Zadokh.

Pada tahun 28 Juni 1714 Chastelein wafat. Kedua belas marga tersebut masing-masing tiap keluarga memperoleh uang sebesar 16 ringgit. Selain itu, ia juga mewariskan 2 perangkat gamelan bertahtakan emas dan 60 tombak berlapis perak. Namun sayangnya benda-benda itu hilang ketika revolusi terjadi.

Tak hanya sampai disitu, isteri pertama Chastelein, Catharina van Vaalberg menggugat atas warisan yang diberikan kepada 12 marga itu. Namun gugatannya ditolak.

Penamaan Kota Depok

Asal Usul Nama Kota Depok yang Jarang Diketahui : Okezone Megapolitan

Banyak kalangan yangbingung dengan asal muasal Kota Depok. Ada yangmengatakan kata padepokanlah asal dari kata Depok. Kenapa? Karena menurut sejarah singkat KotaDepok dulu di Depok merupakan padepokan para pejuang Pajajaran yang kala itu berseteru dengan Banten dan Cirebon.

Menurut sesepuh asli Depok, kata Depok bisa berart pemukiman yang dapat dibanggakan atau berasal dari De Volk. Ada juga yan mengatakan bahwa Depok merupakan singkatan dari De Everste Protestante Organisatie van Kristenen yang dibuat oleh Chastelein.

Namun pendapat-pendapat di atas disanggah oleh H. Nawawi Napih, seorang warga Depok asli yang sejak 1991 mengadakan penelitian membantah “Depok baru Dikenal” sejak masa Cornelis membangun perkebunan di sini.

Pendapat yang sama dikemukakan juga oleh H. Bahrudin Ibrahim dalam tulisannya di dalam buku “Meluruskan Sejarah Depok”. Ia mengutip cerita Abraham van Riebeeck ketika pada tahun 1703, 1704 dan 1709 mengadakan ekspedisi menyusuri sungai Ciliwung melalui rute Batavia – Cililitan – Tanjung Barat – Seringsing (srengseng) – Pondok Cina – Depok – Pondok Pucung (terong).

Jadi sampai sekarang masih rancu tentang asal muasal nama Kota Depok.

Sosok Tuan Cornelis Chastelein

Cornelis Chastelein, Tuan Tanah Baik Hati yang Membuka Kota Depok - Tirto.ID

lah satu dari tuan tanah yang ada di Depok adalah Cornelis Chastelein. Ia adalah seorang pemuda asal Belanda yanglahir di Amsterdam pada tanggal 10 Agustus 1657. Ia adalah seorang keturunan Perancis-Belanda. Ayahnya bernama Antonie Chastelein adalah seorang Perancis yang menyeberang lautan ke Belanda dan bekerja di VOC. Ibunya adalah Maria Cruidenar, seorang putri dari walikota Dordtrecth.

Dengan usia yang cukup muda, Cornelis Chastelein meninggalkan Belanda untuk pergi ke Indonesia, saat ia baru akan menginjak usai 17 tahun. Pada tanggal 24 Januari 1674 Cornelis meninggalkan Belanda, perjalanan ke Indonesia ia tempuh selama 223 hari atau lebih dari tujuh bulan melewati Tanjung Harapan, ujung selatan Afrika, karena pada saat itu belum ada Terusan Suez. Dan pada tanggal 16 Agustus 1674 ia sampai di Indonesia tepatnya di Batavia.

Sama halnya dengan ayahnya, Cornelis Chastelein juga bekerja di VOC. Dalam beberapa bulan tinggal di Batavia, Cornelis Chastelein menikahi seorang wanita berkebangsaan Belanda bernama Catharina van Vaalberg. Setelah lama menikahi Catharina, Cornelis mendapatkan seorang anak laki-laki ia berinama sama dengan ayahnya, Antonie Chastelein.

Cornelis Chastelein adalah seorang pria yang sangat rajin, ulet, dan hemat. Tak heran jika ia dengan cepat meraih kesuksesan. Serikat dagang milik Belanda ini mengalami pergantian gubernur jenderal dari Jenderal Johanes Champhuys menjadi Jenderal Willem van Outhorn.

Pergantian tersebut memberikan sebah arti, bahwa pergantian pejabat artinya pergantian kebijakan. Cornelis adalah seorang pria yang jujur. Ia tidak menyukai tindakan korupsi karena bertentangan dengan hati nuraninya. Selama kepemimpinan Jenderal Willem van Outhorn tindak korupsi terjadi dengan sangat gila-gilaan. Korupsi terjadi di semua lapisan jabatan dan dari segala bidang jabatan yang terdapat dalam serikat dagang VOC tersebut.

Cornelis Chastelein beralih profesi dari seorang pajabat pengadilan VOC menjadi seorang wiraswastawan. Dengan uang simpanannya, Cornelis Chastelein membeli tiga bidang tanah yang luas di hutan Batavia seharga 700 ringgit pada tanggal 18 Mei 1696. Tanah tersebut dapat dikatakan sangat sulit dijangkau. Pada saat itu tanah yang dibeli Cornelis hanya dapat dijangkau dengan melalui aliran sungai Ciliwung dan jalan setapak. Ketiga bidang tanah tersebut di bilangan Mampang, Karang Anyar, dan Depok.

Cornelis Chastelein pindah dari Batavia ke tanah yang ia beli dengan uang simpanannya. Selama di sana ia menekuni bidang pertanian dan perkebunan, pekerjaan tersebut sangat berbeda dengan pekerjaan yang ia lakukan selama bekerja di VOC.

Tiga bidang tanah tersebut sangatlah luas. Ia membutuhkan budak (pekerja). Cornelis Chastelein mendatangkan pekerjanya dari Indonesia Timur, seperti dari Bali, Makasar, Nusa Tenggara Timur, Tarnate, Kei, Jawa, Batavia, Pulau Rote dan Filipina. Jumlahnya sekitar 150 orang. Chastelein bukan hanya figur majikan yang baiktapi ia jua seorang penginjil, sesuai dengan amanat ayahnya, bahwa ia harus menyeberkan agama Kristen Protestan di Indonesia.

Para pekerjanya harus memeluk agama Kristen Protestan. Kepada mereka Chastelein memberikan fasilitas dan hak lainnya yang sama seperti yang dirasakan oleh warga Belanda. Secara bertahap di sana mulai terdapat padepokan Kristiani yang disebut De Eerste Protestante van Kristenen, disingkat DEPOK. Konon nama padepokanKristiani tersebut menjadi cikal bakal dari nama Depok.

Cornelis Chastelein; Tuan Tanah Baik Hati Pembangun Depok | Republika Online

Sebagai tuan tanah yang partikelir, Cornelis Chastelein berhak mengurus tanahnya sesuai dengan kebijakan yang ia tetapkan sendiri, tanpa campur tangan pihak luar. Dalam pemerintahannya Cornelis Chastelein sangat mempersiapkannya dengan matang. Hal tersebut terbukti dengan adanya gedung pemerintahan yang saat ini menjadi rumah sakit Harapan yang letaknya di Depok lama di Jalan Pemuda. Salah satu kebijakan dalam pemerintahan Cornelis adalah kebijakan terhadap hasil panen padi juga ia berikan yaitu dengan mengenakan cukai sebesar 20 persen dari hasil yang diperoleh.

Selama tinggal di Depok Cornelis Chastelein juga menikahi dua orang wanita pribumi. Dari pernikahannya dengan salah seorang isterinya. Ia dikaruniai seorang anak perempuan yang diakui di hadapan notaris, anaknya bernama Maria Chastelein. Maria adalah nama yang sama dengan ibunya, sedangkan Chastelin adalah marga keluarganya. Berbeda dengan Maria Chastelein, Catharina van Batavia yang juga anak dari wanita pribumi yang lain yang dinikahi Chastelein tidak diakui dihadapan notaris dan tidak bermarga Chastelein seperti yang dimiliki oleh Maria Chastelein.

Untuk memperlancar misi kristen dan menjalankan amanat yan telah diberikan oleh ayahnya, Cornelis Chastelein mendirikan gereja yang terbuat dari kayu pada tahun 1700. Menjelang abad ke-19 gereja tersebut diperbaharui dengan batu. Namun gereja itu hancur karena gempa yang sangat kuat melanda pada tahun 1836. Gereja itu dibangun kembali dan sampai saat ini masih berdiri kokoh di Jalan Pemuda, gereja tersebut diberi nama Gereja Imannuel.

Setelah mengalami renovasi gereja tersebut dapat menampung jemaat yang semakin lama semakin banyak dan terus bertambah. Yang spesifik dari gereja tersebut adalah terteranya 12 nama kepala keluarga bekas buruh Cornelis Chastelein di pintu masuk gereja tersebut. Kedua belas nama tersebut adalah: Soedira, Leander, Laurens, Jonathans, Loen, Tholense, Sammuel, Joseph, Bacas, Jacob, Isakh, Zadokh.

Pada tanggal 13 Maret 1714, beberapa bulan sebelum Cornelis Chastelein wafat, ia menuliskan sebuah surat wasiat. Isi dari surat wasiat tersebut adalah bahwa Cornelis Chastelein mewariskan tiga bidang tanahnya seluas 1224 hektar kepada budaknya, setelah budaknya menukar agamnya menjadi Kristen Protestan.

Keberadaan surat wasiat yang ditulis Chastelein diartikan sebagai kedudukan budak-budaknya pun berubah sebagai manusia yang merdeka. Pada tanggal 28 Juni 1714, Cornelis Chastelein meninggal dunia di atas tanah yang dibeli sendiri dengan uang uang yang ia tabung selama ia tinggal di Batavia atau semasa hidupnya hingga saat ia membeli tanah tersebut.

Tak hanya mewariskan tanah yang sangat luas kepada budaknya tapi ia juga membagi-bagikan sejumlah uang. Setiap keluarga mendapatkan 16 ringgit dimana satu ringgit sama dengan 2,5 gulden. Selain itu, ia juga mewariskan 300 ekor kerbau, 2 perangkat gamelan yang dihiasi dan bertahtakan emas, dan 60 tombak berlapis perak.

Setelah Cornelis Chastelein meninggal dunia, isterinya Catharina van Vaalberg yang ia nikahi di Batavia menuntut hak waris. Namun keberadaan surat wasiat tersebut tuntutan Catharina ditolak. Sepeninggal Chastelein, Catharina menikah kembali dengan seorang pegawai negeri bernama Francois de Witte van Schooten. Harta warisan Chastelein yang berkilau dan berlimpah ruah raib saat terjadi huru hara di masa revolusi dulu. Nama Cornelis Chastelein dikenal dengan LCC (Lembaga Cornelis Chastelein) dan sebuah pekuburan mengabdikan namanya.

Sebagai pengaruh ajaran yang dibawa dan diajarkan oleh Chastelein, pada tahun 1878, di Depok terdapat sekolah seminari petama di Indonesia sebagai tempat menyebarkan agama Kristen. Ketika itu seluruh pendeta disalurkan ke seluruh Indonesia setiap tahun, para penginjil atau penyebar agama Kristen Protestan berkumpul di kota Depok. Karena di daerah-daerah lain di Indonesia sudah banyak didirikan sekolah seminari atau sekolah yang sejenis maka sekolah itupun ditutup. Sekarang gedung bekas sekolah tersebut menjadi panti wreda yang letaknya di dekat stasiun Depok lama.

Keturunan daribudak-budak Chastelein kini dapat kita jumpai di jalan Pemuda di Depok Lama. Acapkali mereka disebut Belanda-Depok dan anak mereka dipanggil sinyo (sebutan untuk orang Belanda). Julukan atau sebutan tersebut mungkin tidak sedap didengar. Belanda-Depok dapat dikonotasikan sebagai antek-antek Belanda. Tapi mereka tidak tersinggung dengan sebutan atau julukan yang mereka dapatkan, karena hal tersebut memang benar adanya. Meskipun mereka adalah budak yang mengurus tanah milik Chastelein bukan mata-mata Belanda untuk menghancurkan Indonesia.

Ada anggapan yang mengatakan bahwa Depok dikenal setelah Cornelis Chastelein membeli tanah tersebut dan membangun perkebunan. Tanggapan di atas dibantah H. Nawawi Napih, penduduk Depok yang sejak tahun 1991 mengadakan penelitian membantah bahwa Depok dikenal sejak masa Cornelis Chastelein membangun perkebunan di sana. Pendapat yang sama juga dikemukakan oleh H. Baharuddin Ibrahim dkk., dalam bukunya berjudul “Meluruskan Sejarah Depok” karena sebelum Chastelein ada nama Depok sudah ada sebelumnya.

Edisi Bonanza88 mengutip dari Abraham van Reibeeck ketika pada tahun 1703, dan tahun 1704, dan tahun 1709 selaku inspektur jenderal VOC mengadakan ekspedisimenelusuri sungai Ciliwung melalui rute: Benteng (Batavia) – Cililitan – Tanjung (Tanjung Barat) – Seringsing (Serengseng) – Pondok Cina – DEPOK – Pondok Pucung (Pondok Terong). Tapi berbeda dengan sejarah Depok yang disusun oleh H. Nawawi Napih dan H. Baharuddin Ibrahim.

Nawawi Napih mendapatkan keterangan dari MW Bakas. Ia adalah seorang pria benar-benar keturunan asli Depok mengatakan, waktu perang antara Padjajaran dengan Banten – Cirebon (Islam). Tentara Padjadjaran membangun padepokan untuk melatih para prajuritnya dalam mempertahankan kerajaan Padjadjaran (Bogor) dan Sunda Kelapa (Jakarta). Perkembangan selanjutnya padepokan ini disebut Depok sesuai lidah Melayu.

Pendapat yang dikemukakan oleh H. Nawawi Napih beralasan karena di sekitar Depok terdapat nama-nama kampung yang menggunakan bahasa Sunda, seperti: Parung Belimbing (Depok Lama) di selatan, Parung Malela di sebelah Utara, dan Parung Serab. Semua kampung ini terletak di kali Ciliwung, kemungkinan kampung-kampung itu pada saat perang dijadikan basis pertahanan tentara Padjadjaran terhadap kemungkinan serangan Cirebon dan Banten ke pusat pemerintahan di Bogor melalui kali Ciliwung. Kemungkinanlain adalah sebagai basis pertahanan untuk menyerang Sunda Kelapa.