Badan Intelijen Amerika Serikat, CIA, sering dikaitkan dalam peristiwa-peristiwa besar di seluruh dunia. Tidak terkecuali peristiwa besar yang terjadi di Indonesia. Presiden Indonesia kedua, Soeharto, pun seringkali takluk pada kekuatan badan intelijen yang licik itu.

Hubungan mesra antar Soeharto dan CIA dapat ditarik hingga ke sejarah Gerakan 30 September 1965. Menurut arsip yang bocor melalui National Security Archive (NSA), CIA memiliki keterlibatan yang sangat dalam terhadap kasus pembantaian anggota PKI yang dilakukan pada Oktober 1965 hingga Maret 1966.

Keterlibatan itu meliputi instruksi untuk membantu logistik militer Indonesia untuk mengeksekusi para anggota PKI sampai menawarkan bantuan untuk membungkam pers dunia terkait pembantaian tersebut.

Dokumen-dokumen yang bocor tersebut berupa surat koordinasi antara Duta Besar Amerika Serikat di Indonesia saat itu, dengan pejabat tinggi Amerika Serikat di Pentagon.

Dalam surat-surat itu, diketahui bahwa Dubes AS saat itu menyadari ada banyak kejahatan kemanusiaan yang terjadi pada pembantaian tersebut seperti pembunuhan tanpa pengadilan, penghilangan paksa, dan pemerkosaan. Namun, Amerika Serikat mengabaikan kejahatan kemanusiaan tersebut dan justru membantu menambah bara masalahnya.

Pembocoran dokumen itu baru dilakukan pada Oktober 2017 menggunakan setidaknya sebanyak 39 dokumen rahasia Amerika Serikat. Sebelum pembocoran ini dilakukan, masyarakat Indonesia sudah banyak yang menduga adanya keterlibatan CIA dalam tragedi kemanusiaan tersebut. Namun dugaan ini kerap dibantah oleh pihak Amerika Serikat, maupun pihak militer Indonesia.

Dugaan-dugaan terkait keterlibatan Amerika Serikat dalam peristiwa pembunuhan tersebut bahkan menjadi bahan penelitian pemikir-pemikir terkenal dunia.

Petrus Dadi Ratu

CIA Secrets for Hiring and Keeping the Right Employees - ClearanceJobs

Pakar sejarah Indonesia seperti Benedict Anderson atau ahli Hubungan Internasional Noam Chomsky, kerap membahas hubungan CIA dengan Soeharto dalam kajiannya.

Benedict Anderson misalnya, membahas kebangkitan kuasa Soeharto selepas tragedi 1965 dalam artikel ilmiah berjudul Petrus Dadi Ratu. Menurut Anderson kebangkitan Soeharto perlu dilihat dari sepak terjangnya di dunia militer.

Hubungan CIA dan Soeharto mampu ditelusuri dari kampanye-kampanye militer yang melibatkan keduanya, misalnya seperti dalam pemberantasan pemberontakan Pemerintahan Revolusioner di Sumatera Barat.

Artikel itu ditulis atas analisis Anderson terhadap pengakuan-pengakuan Abdul Latief, seorang Kolonel yang dekat dengan Soeharto. Artikel ini serta pernyataan-pernyataan sikap Anderson terkait kekuasaan Soeharto membuatnya dicekal dari bumi Indonesia hingga akhir Orde Baru.

Bila Anderson menulis soal kebangkitan Soeharto, Chomsky menulis soal propaganda yang didengungkan pemerintah Amerika Serikat terkait pemberantasan komunis di Indonesia. Dalam bukunya berjudul How The World Works, Chomsky menjabarkan keterlibatan CIA dalam upaya-upaya penggulingan pemerintahan di seluruh dunia untuk mencapai kepentingan Amerika Serikat.

Umumnya, Amerika Serikat dan CIA akan meletakkan pemimpin-pemimpin boneka pada negara-negara yang dinilai strategis. Indonesia kala itu dinilai memiliki kekayaan minyak yang sangat besar namun terbengkalai.

Chomsky menuliskan bagaimana pemberantasan komunis di Indonesia turut dirayakan oleh media-media Amerika Serikat. Pembantaian komunis yang terjadi pada 1965 dibingkai sedemikian rupa sebagai kabar baik yang memunculkan harapan masyarakat Amerika Serikat.

Benar saja, selepas euforia dari kemenangan melawan komunis di Indonesia, pemberitaan media di Amerika serikat langsung berfokus pada investasi di kilang-kilang minyak Indonesia.

Selain dari hasil kajian para ahli, dugaan keterkaitan CIA dengan Soeharto juga datang dari pengakuan-pengakuan orang-orang terdekat sang Jenderal Tersenyum itu. Misalnya seperti pengakuan yang disampaikan Mayjen TNI Achmad Tirtosudiro.

Pada peristiwa Surat Perintah 11 Maret (supersemar) 1966, Tirtosudiro kala itu menjadi orang pertama yang menerima arahan dari Soeharto.

Menurut pengakuan Tirtosudiro, arahan tersebut datang dari sepucuk surat. Melalui surat itu, Tirtosudiro ditugaskan untuk menghubungi perusahaan-perusahaan besar, tepat setelah supersemar terjadi.

Tirtosudiro langsung berangkat tugas ke Bangkok dan menemui kontak CIA selama 1966 hingga 1967. Pertemuan-pertemua itu bersifat rahasia, terlebih karena pada masa itu Soekarno masih menjabat sebagai presiden resmi Indonesia.

“Pada praktiknya, Pak Harto yang sudah mulai berkuasa,” ujar Tirtosudiro yang dikutip Edisi Bonanza88 dalam biografinya. Kondisi kekuasaan pada masa itu memang membingungkan. Pada satu sisi, Soekarno masih diakui sebagai presiden resmi Indonesia, namun di sisi lain Soeharto lah yang menjalankan segala operasi pemerintahan.

Pada masa-masa membingungkan itu Tirtosudiro sering mengalami dialog yang canggung ketika bertemu dengan agen CIA. Agen-agen CIA sering menggoda dan sedikit meledek Tirtosudiro dengan memanggilnya sebagai very articulated gentlemen.

Agen-agen CIA ini sering menanyakan kabar terkini politik Indonesia, bahkan beberapa kali menanyakan kondisi kekuasaan Soekarno.

Kadang Tirtosudiro menjawab pertanyaan serupa dengan jawaban singkat “our president is Soekarno, but Soeharto is in power.” Tirtosudiro juga mengaku bahwa tugas itu tidak Ia laksanakan seorang diri.

Tangan Soeharto yang lain adalah Brigjen TNI Alamsyah Ratu Perwiranegara. Alamsyah memiliki pos yang berbeda dengan Tirtosudiro. Namun Tirtosudiro tidak menyampaikan secara jelas di mana dan kepada siapa Alamsyah bertugas.

Koneksi yang dibangung Tirtosudiro dengan CIA juga bukan tanpa maksud praktis. Menurut sejarawan Bradley R Simpson, pos CIA yang ada di Bangkok sengaja didirikan sebagai kedutaan untuk kebutuhan perang dingin Amerika Serikat di regional Asia Tenggara.

Suplai Dana

Arsip Rahasia '65: AS, Kudeta Soeharto, dan Penanaman Modal Asing -  kumparan.com

Gedung Putih memberikan segala wewenang dan anggaran bagi pos CIA tersebut untuk menyuplai tentara Indonesia dengan peralatan komunikasi, peralatan medis, persenjataan ringan, hingga kebutuhan logistik lain.

Menurut Simpson, nilai dari bantuan tadi bisa mencapai lebih dari $1juta dollar. Hubungan CIA dengan Soeharto sebenarnya tidak terjadi secara langsung, dan justru melalui beberapa perantara.

Umumnya pos Bangkok CIA berkoordinasi dengan Jenderal Sukendro. Koordinasi ini dimungkinkan dengan menunjuk satu orang penghubung yang bertugas di Bangkok. Kemungkinan Tirtosudiro adalah sosok dari penghubung ini.

Melalui salah satu dokumen CIA yang bocor, Tirtosudiro juga diketahui pernah meminta bantuan lain pada CIA. Jenderal tersebut menyampaikan bahwa tentara Indonesia pada kala itu membutuhkan 50.000 ton beras yang bisa dikirim secara rahasia.

Permintaan itu ditolak oleh Gedung Putih, karena permintaan semacam tidak memungkinkan untuk dilakukan pada masanya. Namun bukan berarti CIA langsung menghentikan bantuannya.

CIA terus memperpanjang bantuan rahasia kepada pasukan pembantaian komunis di Indonesia secara terus menerus sampai komunis binasa di bumi Indonesia. Pos CIA di Bangkok menjadi pusat transit sekaligus pengorganisiran jalur suplai bantuan tersebut.

Bukti lain yang turut menguatkan dugaan adanya hubungan erat antara CIA dan Soeharto adalah kehadiran warga Amerika Serikat di Indonesia yang bernama Kent Bruce Crane.

Crane dan Soeharto bertemu karena memiliki satu hobi yang sama, yaitu berburu hewan liar. Crane dikatakan menjabat sebagai pegawai Kedutaan Besar Amerika Serikat pada periode awal pemerintahan Orde Baru.

Pada masa itu, tidak banyak yang mengetahui latar belakang Crane. Namun pada 1982, The Wall Street Journal membeberkan identitas asli Crane, yang dikatakan sebagai agen CIA dengan kedok pegawai negeri Amerika Serikat. Media yang sama juga membeberkan latar belakang Crane secara rinci.

Crane lahir di North Hornell pada 1935. Ia mengambil jurusan hubungan internasional ketika berkuliah di Dartmouth. Menurut pengakuan Crade dalam salah satu dokumen CIA,

Ia pernah bertugas sebagai tentara Amerika Serikat di tahun 1957 dan berhenti pada 1959. Setelah berhenti bekerja di dunia militer, Ia mulai bekerja di Departemen Luar Negeri pada 1960. Tugas pertamanya di Departemen adalah untuk ditempatkan di Jakarta, sebagai staf Kedutaan Besar Amerika Serikat untuk Indonesia.

Crane datang ke Indonesia di keadaan yang rumit. Pada kala itu Indonesia masih dipimpin oleh Soekarno yang memiliki sikap antipati terhadap Amerika Serikat. Sikap antipati Soekarno ini dapat dimaklumi karena secara pribadi presiden pertama Indonesia itu banyak dirugikan oleh upaya spionase Amerika Serikat.

Soekarno Jadi Target

CIA Rancang Penggulingan Sukarno Sejak 1953

Soekarno pernah mendapat percobaan pembunuhan oleh salah satu pilot tentara udara Amerika Serikat. Selain itu banyak juga upaya pembunuhan karakter yang dilakukan CIA terhadap Soekarno, misalnya dengan mencoba membuat film porno yang aktornya mirip sang bung besar.

Soekarno juga menerapkan banyak kebijakan anti Amerika, misalnya dengan penerbitan musik dan budaya ‘ngak ngik ngok’. Kedekatan Soekarno dengan PKI menghadirkan kekhawatiran tersendiri bagi Amerika Serikat.

Secara umum, Soekarno tidak menyukai kebijakan-kebijakan luar negeri Amerika Serikat yang seringkali mengintervensi politik dalam negeri bangsa-bangsa kecil.

Namun, hubungan buruk ini tidak berlangsung lebih lama. Lima tahun setelah Crane masuk ke Indonesia, Soeharto yang sangat pro Amerika Serikat menjadi sosok paling berkuasa. Pada masa ini lah terjalin hubungan pribadi antara Crane dan Soeharto.

Crane ketika itu, tidak hanya bekerja di Kedutaan, Ia juga terlibat dalam sejumlah proyek bisnis. Saking dekatnya Crane dengan Soeharto, sang agen pun bahkan pernah membantu anak Soeharto untuk tembus berkuliah di sebuah kampus di Virginia Amerika Serikat. Kemungkinan besar, anak Soeharto yang dimaksudkan di sini adalah Bambang Trihatmodjo.

Kedekatan Crane dengan Soeharto membawa peruntungan yang besar bagi bisnisnya. Soeharto diketahui juga dekat dengan cukong-cukong cina, salah satunya adalah Jantje Liem. Koneksi yang dimiliki oleh Soeharto ini menjadi ladang emas bagi Crane.

Crane bahkan mendapatkan pendanaan bisnis dari Liem. Bisnis peternakan Crane pun bisa mulai berkembang penghasilannya.

Lambat laun, bisnis Crane semakin besar dan banyak. Hingga pada 1978, Crane memimpin sebuah perusahaan besar bernama Crane Group Ltd.

Perusahaan itu menawarkan jasa konsultan dan investasi internasional pada pebisnis di Washington Amerika Serikat. Selain bisnis jasa, Crane juga memimpin bisnis peternakan di Ranch Development and Management Inc yang berlokasi di Texas.

Crane terus mengeruk untung dengan mengembangkan jaringan bisnis internasional. Lambat laun ia memiliki sejumlah perusahaan properti di Afrika, Selandia Baru dan Spanyol.

Soeharto bukan satu-satunya pemimpin besar yang dekat dengan Crane. Sepak terjang Crane dalam dunia bisnis Internasional membawa decak kagum bagi Presiden Amerika Serikat Ronald Reagen.

Semakin besar bisnis Crane, kedekatannya dengan pemimpin-pemimpin ini juga semakin menggila-gila. Hingga pada akhirnya, di awal 1980an Ronal Reagen bahkan mencalonkan Crane sebagai Duta Besar Amerika Serikat untuk Indonesia.

Pencalonannya sebagai Duta Besar menggemparkan publik Amerika kala itu. The Wall Street Journal kemudian menanggapi keresahan publik ini dengan melakukan liputan investigasi.

Hasilnya, identitas dan sepak terjang Crane dibocorkan ke publik melalui pemberitaan. Investigasi ini memicu liputan-liputan lain yang kemudian menguak bisnis persenjataan Crane untuk negara-negara di seluruh dunia.

Kedekatan CIA dengan Soeharto juga berimbas pada banyaknya kebijakan ekonomi yang merugikan Indonesia. Pada 2018, dokumen CIA dibocorkan lagi. Kali ini, salah satu dokumen yang dibocorkan membahas upaya Amerika Serikat untuk memalak Indonesia.

Pemalakan ini berupa deakan yang terjadi dalam perbincangan telpon antara Bill Clinton dengan Soeharto pada Januari 1998.

Pada percakapan itu, Clinton mendesak Soeharto untuk meneken kontrak hutang yang diajukan oleh Dana Moneter Internasional (IMF). Percakapan tersebut tepatnya terjadi pada 8 Januari 1998, tepat sebelum Direktur Pelaksana IMF, Camdessus, datang ke Jakarta.

Tidak ada keterangan tambahan mengapa CIA memiliki dokumen transkrip percakapan tersebut. Namun dapat kita ketahui sejarah lanjutannya, pada Mei 1998 terjadi kerusuhan di Jakarta karena krisis moneter yang semakin memburuk.

Pada bulan yang sama, Soeharto menyatakan mundur dari posisinya sebagai Presiden Indonesia, pernyataan yang sekaligus menutup lembar sejarah rezim Orde Baru.