Tiada habisnya jika membicarakan pelacuran. Selain karena masalahnya yang tidak pernah tuntas, pelacuran juga erat dengan masalah lain seperti perdagangan narkoba, hingga tindak kriminal. Salah satu tindak kriminal dalam dunia pelacuran Indonesia yang paling bersejarah adalah pembunuhan pelacur Batavia, Fientje de Fenicks.

Mayatnya ditemukan pada 17 Mei 1912. Kondisinya mengenaskan. Mayat Fientje ditemukan terkulai mengapung dalam karung beras yang tersangku di pintu air. Ketika diambil ke daratan, orang-orang lebih kaget lagi ketika menyadari tangannya terikat. Segala keadaan itu memastikan kondisinya sebagai korban pembunuhan.

Bahkan dalam kondisi itu, mayatnya pun masih bisa diidentifikasi. Parasnya yang cantik, lengkap dengan kulit terang, hidung mancung, mata bulat besar dan rambut berombak yang panjang, membuatnya tidak sulit untuk diabaikan.

Banyak orang yang mengingatnya. Benar saja, pada saat itu, Fientje adalah pelacur yang namanya sedang naik daun di antara para hidung belang Batavia.

Ini merupakan kali pertama ada seorang pelacur yang mati dibunuh di sepanjang sejarah Hindia Belanda. Peristiwa ini menggemparkan dan langsung menjadi berita utama bagi masyarakat Batavia. Kepolisian Batavia pun langsung menanggapi peristiwa ini.

Mereka tidak mau pandang bulu, semua kalangan, semua warga harus mendapatkan rasa aman. Tindakan kepolisian yang cepat tanggap ini merupakan salah satu prosedur yang umum bagi kolonial, karena dengan menciptakan rasa aman maka akan memperkecil risiko tumbuhnya pemberontakan.

Komisaris Reumpol adalah otoritas yang memiliki wewenang dalam kasus itu. Setelah melihat TKP, Ia langsung merencanakan penyelidikan besar-besaran. Untuk memahami bagaimana kisah tragis itu terjadi, kita perlu mengetahui sepak terjang Fientje di dunia pelacuran.

Fientje merupakan seorang gadis yang diduga keturunan Indo-Eropa. Tidak banyak yang mengetahui latar belakang keluarganya. Pada saat mayatnya ditemukan Ia masih berumur 19 tahun.

Meski masih belia, kecantikannya mampu mempesona segala kalangan di Batavia. Tidak hanya laki-laki hidung belang Eropa, termasuk juga kelompok pribumi Batavia yang kebanyakan hanya bisa bermimpi untuk mendapatkan perhatiannya.

Langganan Petinggi

Kisah Nestapa Fientje de Fenicks, Si Pelacur Batavia - Lifestyle  Liputan6.com

Kecantikan adalah asetnya yang utama. Ia memiliki banyak pelanggan tetap dari kalangan pria Eropa. Pelanggannya ini juga bukan orang-orang sembarangan.

Beberapa dari mereka bahkan merupakan konglomerat yang memiliki jaringan politik dan pengaruh kuat di Hindia Belanda. Jumlah permintaan yang tinggi dan profil pelanggan tetap yang bergengsi membuat tarif jasanya melambung tinggi. Pada masa keemasannya, Fientje dikenal sebagai kupu-kupu malam papan atas seantero Batavia.

Tidak hanya dari kalangan konglomerat, Ia bahkan memiliki pelanggan dari pejabat-pejabat tinggi Hindia Belanda. Salah satunya adalah Gemser Brinkman.

Data yang dihimpun Edisi Bonanza88, Brinkman bukanlah sekedar pejabat Hindia Belanda, Ia juga merupakan anggota Societeit Concordia. Societeit Concordia sendiri adalah suatu organisasi atau perkumpulan bagi anggota masyarakat penting di Hindia Belanda.

Perkumpulan ini berdiri di kota-kota besar seluruh kawasan Hindia Belanda. Societeit memiliki banyak fungsi, namun umumnya Ia menjadi tempat bergaul dan rekreasi bagi kelompok masyarakat elite.

Societeit Concordia juga sering disebut sebagai Rumah Bola. Di sana warga elite Batavia disuguhi banyak kesenangan. Mulai dari papan biliard, bar, hingga hidangan makan besar seperti rijstafel, sebuah hidangan adaptasi makanan tradisional Indonesia yang digemari warga Eropa.

Fungsi Societeit mungkin mirip dengan fungsi olahraga golf saat ini. Keduanya adalah tempat di mana orang-orang elit bisa berekreasi sembari bertemu dengan mitra bisnis dan melakukan lobi-lobi penting.

Tidak semua kelompok masyarakat bisa mengakses masuk ke dalam perkumpulan tersebut. Bagi para anggota, ini adalah sebuah privilese tersendiri karena mereka memiliki gengsi yang besar. Brinkman merupakan salah satu orang yang mendapat eksklusifitas tersebut.

Gengsinya semakin meningkat karena Ia juga merupakan pelanggan tetap Fientje, yang saat itu merupakan pelacur idaman hampir semua hidung belang elit.

Brinkman bahkan bisa menyewa jasa Fientje lebih banyak dari pelanggan-pelanggan lainnya. Kemampuannya ini membuat pertemuan keduanya semakin intens. Lambat laun, tidak hanya pertemuan untuk menjalankan bisnis lendir, mereka berdua juga mulai saling suka.

Setelah benih asmara tumbuh diantara keduanya, Brinkman bahkan sempat berpikiran untuk menjadikan Fientje sebagai simpanannya. Sayangnya, harapan Brinkman harus kandas. Fientje menolak tawaran itu karena Ia ingin fokus mengembangkan karirnya.

Memang saat itu karirnya sebagai pelacur memberikannya banyak sekali keuntungan. Ia bisa bertemu dengan banyak orang-orang penting, dan mendapat penghasilan yang besar juga untuk mempersolek diri.

Brinkman menjadi salah satu terduga pembunuh Fientje. Ia jelas-jelas memiliki motif untuk membunuh Fientje. Kekecewaannya karena mendapat penolakan saat itu terlampau besar. Bukan hanya karena memiliki motif yang kuat, Brinkman juga merupakan orang yang terlihat terakhir kali bersama dengan si korban.

Mendapat tuduhan ini, Brinkman tidak tinggal diam. Ia segera menangkal tuduhan pembunuhan tersebut. Ini bukanlah tuduhan yang main-main, sebab jarang sekali orang Belanda diadili atas dasar pembunuhan terutama terhadap orang indo campuran.

Tidak heran, banyak orang Belanda pada masa itu tidak hormat kepada orang asli Indonesia. Bagi mereka nyawa orang Indonesia tidak ada artinya, bahkan di beberapa tempat orang pribumi dilarang masuk karena disetarakan dengan ‘anjing’.

Brinkman juga langsung memanggil pengacara tersohor saat itu, Mr Hoorweg untuk membelanya. Selain Mr Hoorweg, Brinkman juga mengklaim bahwa mitra dan kawan-kawannya di Societeit Concordia akan membantu memenangkan kasusnya.

Tapi apa daya, Jaksa pengadilan (Raad van Justitie) saat itu ternyata masih punya nilai kemanusiaan. Brinkman tetap dipanggil menghadap pengadilan. Ia dan pengacaranya mengikuti pengadilan dengan berat hati. Meskipun demikian, mereka juga tetap mengikuti jalannya pengadilan dengan kondusif.

Selama persidangan, jaksa penuntut telah mengumpulkan banyak bukti dari kasus pembunuhan tersebut. Salah satunya adalah kesaksian dari kolega Fientje yang juga merupakan pelacur bernama Raonah. Menurut kesaksian Raonah, pada malam jahanam itu Fientje bertengkar dengan Brinkman. Samar-samar dari sela bilik bambu, Raonah menyaksikan Brinkman mencekik Fientje.

Menurut keterangan saksi lain, Brinkman tidak melakukan pembunuhan itu seorang diri. Pembunuhan itu direncanakan bersama dengan Pak Silun dan dua anak buahnya. Pak Silun mengakui perbuatannya, Ia juga mengakui belum mendapat bayaran penuh atas pekerjaan sadis itu dari Brinkman.

Bukti-bukti ini tentu memberatkan Brinkman. Elakan Brinkman pun tidak disertai bukti yang sama kuatnya. Akibatnya, pengadilan menjatuhkan hukuman mati pada Brinkman. Brinkman tertekan dengan putusan itu. Mengetahui umurnya tak panjang, Brinkman langsung melakukan aksi bunuh diri.

Kisah pembunuhan Fientje ini menjadi kisah yang fenomenal. Saking uniknya, penulis Tionghoa Tan Boen Kim menulis kisah tersebut dalam sebuah novel. Dari novel Tan Boen Kim, penulis lain kemudian turut mengadaptasi kisah Fientje dalam novel-novel mereka.

Beberapa nama besar seperti Rosihan Anwar dan Pramoedya Ananta Toer pun tidak kelewatan. Rosihan menilis kisah Fientje dalan Petite Histoire Indonesia. Sedangkan Pram mengadaptasi kisah Fientje dalam Rumah Kaca, salah satu novel dari tetralogi Pulau Buru.

Ironi Tata Chubby

Tiba-tiba Tata Chubby yang Memakai Baju Putih Berteriak - Tribunnews.com  Mobile

Pada masa modern, pelacuran tetap ada, dan tindak kriminalitas yang menghantuinya pun tetap hadir. Di Indonesia sendiri, salah satu kisah pembunuhan pelacur yang menggemparkan terjadi adalah pembunuhan Tata Chubby. Tata Chubby merupakan nama beken dari pekerja seks yang memiliki nama asli Deudeuh Alfi Syahrin.

Pada 11 April 2015, mayatnya ditemukan dengan kondisi mengenaskan. Ia ditemukan di dalam kamar kosnya, dengan tubuh telanjang tanpa busana, mulut yang disumpal kaos kaki, dan kabel yang menjerat leher. Kisah hidup Tata juga tidak lebih mengenaskan dari kondisi jasadnya.

Tata lahir di Purwokerto 26 tahun sebelumnya. Sehari setelah melahirkan Tata, ibunya meninggal, menyusul sang ayah yang sudah meninggal sejak lama. Tata tumbuh dan besar dalam asuhan bibinya. Sayang pendidikan Tata harus terhenti di bangku SMP. Tepat ketika Ia hendak masuk ke bangku SMA, bibinya harus pindah ke Bandung untuk memenuhi panggilan kerja. Tata lalu hidup bersama dengan kakaknya di Depok.

Tata menikah di umur yang sangat belia. Setelah lulus SMP Ia langsung menikah dengan pacarnya dan dikaruniai satu orang anak. Namun, pernikahan itu tidak berlangsung lama, kedua pasangan satu kampung halaman itu harus berpisah pada 2011. Mantan suaminya kini menikah lagi dan menetap di Bogor.

Pada saat kejadian, anak Tata masih berusia 10 tahun dan hidup bersama neneknya. Tata tidak dikenal dekat dengan sang anak, jarang sekali Tata datang ke kampung untuk menjenguk sang buah hati. Kehidupan si anak ditanggung penuh oleh sang mantan suami. Tata justru dikenal tidak pernah mengirim uang ke kampungnya.

Tidak banyak yang diketahui soal kepribadian Tata. Tata hanya dikenal sebagai anak yang tomboi, dan tertutup terutama pada keluarga. Keluarga di kampung hanya mengetahui bahwa Tata bekerja di menjadi pramusaji di kawasan perkantoran Kuningan.

Tata menjajakan jasanya melalui platform media sosial, Twitter. Ia berjualan menggunakan akun twitter bernama @tataa_chubby. Ia cenderung rapih dalam menjalankan bisnis lendirnya itu. Ia bahkan memiliki buku catatan tamu yang disertai laporan keuangan.

Bahkan menurut keterangan salah satu saksi, bisnis itu telah mengisi tabungannya hingga sebesar Rp 40 juta rupiah. Melalui pengakuan teman yang sama, Tata juga diketahui memiliki banyak barang mewah, beberapa yang dapat diketahui adalah gawai-gawai canggih. Dari luar, Tata tidak menunjukkan dirinya sebagai orang yang bermewah-mewahan. Kemewahannya baru nampak ketika masuk ke dalam kamarnya.

Tata Chubby Goyangkan Pantat, Prio Jatuh Telentang - Warta Kota

Bisnis seks online ini yang juga mempertemukannya dengan sang pembunuh, Priyo Santoso. Priyo Santoso adalah pelanggan terakhir jasa pemuas hasrat Tata Chubby. Ia menemui Tata langsung di kamar kosnya yang terletak di kawasan Tebet, Jakarta Selatan. Aksi pembunuhan ini berlatar belakang kekesalan si pelaku.

Pelaku mengakui, ketika berhubungan seksual dengan Tata, si pelaku mendengar pernyataan yang menyakitkan hatinya. Ketika hubungan intim berlangsung, Tata menyatakan bahwa Priyo memiliki bau badan yang tidak sedap. Priyo yang kala itu sedang menikmati layanan Tata, langsung gelap mata dan membunuh Tata di tempat. Pembunuhan itu dilakukan dengan mencekik Tata menggunakan kabel.

Setelah Tata tewas, Priyo tidak langsung pergi meninggalkan TKP. Priyo bahkan sempat mengambil gawai-gawai mewah milik Tata, seperti handphone dan Ipad. Lebih dari itu, Priyo juga merampas seemua uang tunai yang dapat Ia temukan di kamar Tata.

Setelah mendapat laporan, polisi langsung sigap menyelidiki kasus itu. Sialnya, Priyo membawa handphone milik Tata yang dapat dengan mudah dilacak oleh kepolisian. Empat hari setelah kejadian polisi langsung mendatangi rumah Priyo di kawasan Bojong Gede, Bogor.

Polisi menangkap Priyo atas tuduhan pencurian dengan kekerasan dan penghikangan nyawa. Priyo dijerat menggunakan pasal 365 KUHP dan pasal 338 KUHP. Hukuman maksimal yang dapat menimpanya adalah kehidupan di penjara setidaknya selama 15 tahun. Selama proses persidangan berlangsung, Priyo nampak malu dan sibuk menutupi wajahnya.

Proses persidangan akhirnya menentukan hukuman Priyo. Priyo dijatuhi hukuman selama 18 tahun penjara, menggunakan pasal 339 KUHP tentang pembunuhan. Priyo juga dijatuhkan hukuman dengan pasal-pasal lain seperti Pasal 338 dan pasal 365 tentang pencurian dengan kekerasan.