Lagu Bella Ciao kembali populer setelah dijadikan anthem bagi para perampok di serial orisinil Netflix Money Heist. Popularitas lagu Bella Ciao yang kembali naik daun kemudian terdengar pula di sejumlah gelombang protes besar yang terjadi di Amerika Serikat hingga Eropa.

Sejarah panjang yang dibawa oleh lagu ini menjadi latar belakang relevansinya dengan gelombang protes di dunia belakangan.

Dalam serial Money Heist, Bella Ciao pertama kali dinyanyikan oleh tokoh utama, El Professor, bersama kakaknya Berlin. Lagu itu menjadi anthem yang mereka nyanyikan pada malam perayaan sebelum melakukan perampokan.

Lagu itu kemudian diturunkan kepada para tim perampok yang mereka baru bentuk. Setelah Money Heist reputasi Bella Ciao menjadi lebih segar. Lagu tradisional yang berasal dari Italia itu menjadi umum dinyanyikan generasi muda seluruh dunia.

Lagu ini jadi memiliki reputasi yang keren, kental dengan nuansa pemberontakan dan kebersamaan. Reputasi ini membawanya turun ke jalan, dalam aksi-aksi massa yang terjadi di Eropa maupun Amerika Serikat.

Dalam resistensi masayarakat Chile misalnya, aksi para pendemo diiringi nyanyian Bella Ciao yang dilantunkan bersama biola, akordeon dan gitar.

Di Polandia, Ia dinyanyikan bersama secara Acapella ketika massa menuntut tindakan tegas dari pemerintah untuk menanggapi organisasi-organisasi supremasi kulit putih.

Money Heist bukanlah cikal bakal popularitas lagu ini. Lagu ini sebenarnya masih sering dinyanyikan kelompok buruh dalam demo-demo yang mereka lakukan di seluruh dunia.

Money Heist mengingatkan publik bahwa lagu ini dapat digunakan dalam konteks-konteks sosial terkini. Popularitas yang dibawa Money Heist pun melepaskan penggunaan lagu ini yang sebelumnya dimonopoli kelompok buruh. Akibatnya, kelompok poltik kanan juga banyak yang menyanyikan lagu ini dalam gerakan mereka.

Bella Ciao merupakan lagu rakyat yang biasa digunakan untuk aksi protes dari Italia. Lagu ini asalnya ditulis dalam dua versi. Versi yang pertama dikenal sebagai versi Mondina, atau kelompok perempuan yang bekerja sebagai petani padi dan gandum.

Mereka biasa bekerja tanpa alas kaki, terutama ketika sedang musim panen padi di mana mereka harus berjalan merangkak di genangan sawah. Sebagai rakyat jelata, kondisi kerja mereka mengenaskan. Mereka harus bekerja berjam-jam di bawah terik matahari dan dibayar dengan upah yang kecil.

Kondisi kerja mengenaskan ini kemudian memicu kemarahan dan gerakan pemberontakan. Para perempuan pekerja di Mondina, mengorganisir kerusuhan pada awal 1900an.

Menyemangati Panen Padi

Bella Ciao! (podcast) - Bella Ciao! | Listen Notes

Tidak ada yang mengetahui siapa penulis lagu Bella Ciao di antara para perempuan ini. Tetapi pada 1906, lagu ini mulai dinyanyikan oleh para perempuan pekerja ketika sedang menanam dan memanen padi.

Lagu ini menjadi upaya pekerja dalam menghibur diri dari kekejaman di lingkungan kerjanya. Versi Bella Ciao yang paling tenar adalah yang dinyanyikan oleh penyanyi Italia, Giovanna Daffini pada 1962. Daffini dikenal memiliki asosiasi yang ert dengan gerakan Nuovo Canzoniere Italiano, sebuah gerakan kiri di Italia.

Versi kedua yang lebih populer dari tembang Bella Ciao adalah versi Partisan. Partisan adalah kelompok perlawanan yang muncul di daerah-daerah Italia ketika fasisme merajalela.

Kelompok Partisan di Italia muncul untuk merespons pendudukan pemerintahan Italia yang kala itu dilakukan oleh negara boneka yang didirikan Nazi.

Partisan Italia bersatu pada dengan militia lokal di Italia yang kala itu berupaya untuk membebaskan sejumlah desa dan kota yang telah diduduki Nazi dan tentara negara boneka.

Untuk membakar semangat perang, para kelompok Partisan menggubah lirik Bella Ciao versi sebelumnya. Para kelompok Partisan menggubah situasi dan konteks yang tergambar dalam lirik versi original menggunakan situasi yang mereka alami kala perang.

Pada versi Mondina, bagian verse biasa digunakan untuk menggambarkan kondisi kerja para buruh tani kala itu. Mereka menggambarkan ladang padi yang penuh dengan serangga dan nyamuk, para tuan tanah yang memiliki hidup santai, dan bahkan jam kerja yang tidak masuk akal.

Sedangkan dalam lirik Bella Ciao versi Partisan lebih banyak menjelaskan keadaan perang kala itu. Lirik Bella Ciao versi Partisan menceritakan situasi para Partisan yang berangkat ke medan perang tiap pagi dan meninggalkan kekasihnya.

Mereka menceritakan perasaan yang mendalam terhadap pengabdian pada tanah airnya dan hasrat untuk melawan tentara fasis. Partisan juga banyak menceritakan kesediaan mereka untuk mati di medan perang untuk membela tanah air dan kebebasannya.

Pada masa Perang Dunia Dua, Bella Ciao langsung menyebar luas ke seluruh Eropa dan bahkan ke negara-negara lain yang terlibat perang melawan pasukan poros fasis.

Lagu ini diterjemahkan ke dalam bahasa Rusia, Belgia, Spanyol dan Perancis. Masing-masing bangsa yang menerjemahkan lagu ini memiliki sejarah perlawanan terhadap tentara fasis Nazi.

Setelah Perang Dunia Dua usai, lagu ini kerap digunakan sebagai pengingat kekejaman Fasisme dan semangat perlawanan atasnya. Meskipun begitu popularitas dan kemudahan melodi Bella Ciao membuatnya dikenang dan diadaptasi pada konteks yang lebih luas.

Pada 2012 misalnya, sebuah gerakan lingkungan di Belgia menggunakan melodi Bella Ciao untuk menyuarakan aspirasinya. Lirik Bella Ciao diadaptasi sedemikian rupaya supaya dapat menyampaikan pesan para aktivis lingkungan. Kala itu, mereka menuntut pemerintah global untuk melakukan gerakan politik darurat atas ancaman pemanasan global.

Meskipun populer, pada 2015 lagu ini sempat dilarang untuk dinyanyikan di sejumlah negara bagian di Italia Utara. Larangan ini utamanya diberlakukan di daerah-daerah yang dikuasai oleh kubu sayap kanan Italia, Lega Nord. Pelarangan lagu ini merupakan kebijakan yang politis.

Pasalnya, lagu Bella Ciao kerap dimonopoli oleh gerakan-gerakan sayap kiri. Dalam beberapa kesempatan, gerakan kiri bahkan mengubah lirik-lirik Bella Ciao dengan simbolisme yang dekat dengan pemahaman kiri.

Misalnya menggunakan lirik semacam ‘darahnya merah seperti bendera yang Ia kibarkan’. Dapat diketahui warna merah sendiri erat asosiasinya dengan gerakan kiri.

Kelompok sayap kanan Italia yang tumbuh hingga masa modern banyak yang mewariskan pemikiran dan agenda fasis perang dunia kedua. Menurut mereka, Bella Ciao mengaburkan sejarah dengan hanya membingkai perang dari satu sisi saja.

Argumen ini dinyatakan oleh Movimento Sociale, yang pejabat redaksinya banyak berafiliasi dengan Partai Fasis. Sebelum pelarangan berlaku, Movimento Sociale meliput keresahan para orang tua yang menganggap Bella Ciao memberikan pemahaman Perang Dunia yang tidak berimbang.

Menurut para orang tua ini, lagu itu tidak pantas dinyanyikan sebagai perayaan atas para penyintas Holocaust. Justru lagu itu seharusnya bisa dibebaskan dari ideologi-ideologi tertentu.

Pelarangan terhadap lagu Bella Ciao tidak menyurutkan popularitasnya. Dua tahun setelahnya, Money Heist mengudara dan Bella Ciao kembali populer.

Lagu ini bahkan dinyanyikan sebagai penghibur ketika masyarakat Italia melaksanakan karantina mandiri di rumah masing-masing saat Coronavirus mewabah di negara itu pada 2020.

Menariknya, berdasarkan pantauan Edisi Bonanza88, Bella Ciao semakin populer lagi ketika DJ-DJ seluruh dunia ikut mengaransemen lagu ini ke dalam genre musik elektronik.

DJ kawakan seperti Hardstyle, Steve Aoki, Hardwell, Maddix, dan Hugel menawarkan pada para pecinta musik global tembang dansa yang bernuansa perjuangan. Masing-masing mengaransemen dan mempublikasikan karyanya pada tahun 2018.

Indonesia Punya Genjer-genjer

Mengenal Orde Baru: Genjer-Genjer | Dhianita Kusuma Pertiwi

Kisah Bella Ciao sedikit mengingatkan kita tentang kisah lagu perjuangan milik rakyat Indonesia, yaitu Genjer Genjer. Tembang rakyat Genjer Genjer diciptakan oleh Muhammad Arief, seorang seniman dari Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra.

Aslinya, lagu ini bercerita tentang kondisi masyarakat Banyuwangi dalam jerat tirani penjajahan Jepang. Lagu ini bercerita tentang segala upaya yang dilakukan masyarakat untuk hidup, termasuk dengan mengolah tanaman genjer sebagai makanan.

Memang pada masa penjajahan Jepang, banyak masyarakat Indonesia yang mengalami kelaparan. Bahan pokok seperti sandang dan pangan amat sulit didapatkan oleh warga biasa yang harus menjalani perbudakan romusha dan membayar setoran bahan pokok untuk kebutuhan pasokan perang tentara Jepang.

Genjer sendiri asalnya adalah tanaman air yang biasa digunakan sebagai makanan ternak. Pada masa makmur, tanaman ini bahkan dianggap sebagai hama.

Lagu Genjer Genjer langsung menjadi populer setelah dinyanyikan oleh Bing Slamet dan Lilis Suryani. Lagu ini tidak hanya dimainkan di radio-radio rakyat jelata, bahkan Soekarno sering membawa musisi untuk memainkan lagu ini di Istana.

Popularitas lagu ini langsung dimanfaatkan oleh Partai Komunis Indonesia. Genjer Genjer sering dimainkan secara kencang dalam kampanye-kampanye PKI.

PKI merasa berhak mengklaim lagu ini, mengingat lagu ini juga diciptakan oleh musisi Lekra, organisasi budaya yang berada di bawah naungan partainya. Pada masa itu, PKI merupakan salah satu partai terbesar di Indonesia.

Pengaruh mereka sangat kuat dengan masyarakat di akar rumput. Akibatnya, lagu Genjer Genjer yang dimainkan setiap kampanye pun citranya sangat lekat dengan PKI.

Namun semua ini berubah setelah terjadi Gerakan 30 September 1965. Hingga Maret 1966, pers di Indonesia kala itu dilarang terbit. Hanya pers militer seperti Angkatan Bersendjata dan Berita Yudha yang memiliki izin untuk menerbitkan informasi.

Dalam kondisi ini, kedua media tersebut menerbitkan berita-berita investigasi dari kampanye penumpasan PKI. Salah satunya adalah penemuan notasi dan lirik lagu Genjer Genjer.

Pada 1984, Genjer Genjer juga dimainkan dalam film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI. Informasi terkait Genjer Genjer yang disebarkan melalui media militer dan film tersebut ditujukan untuk menciptakan mitos dan propaganda untuk menunjukkan kesadisan PKI.

Semua produk budaya dan simbolisme yang erat dengan PKI diasosiasikan dengan kekejaman PKI dalam gerakan 30 September. Hal ini yang membuat lagu Genjer Genjer menjadi lagu yang tabu dan tidak pernah dimainkan lagi secara populer.

Kampanye penumpasan PKI dan antikomunisme saat itu tidak hanya berimbas ke Genjer Genjer, tetapi juga penciptanya. Menurut sejumlah kesaksian, Muhammad Arief sang penulis lagu ditangkap dan diasingkan pada 1965.

Hal ini dikatakan oleh Andan Chatif Yusuf, yang merupakan teman dekat Arief sekaligus Koordinator Sastra Lekra ranting Banyuwangi. Andan juga merupakan tahanan ketika penangkapan dan pembunuhan massal terhadap anggota PKI terjadi.

Ia merupakan salah satu orang terakhir yang bertemu dengan Arief. Setelah 106 hari ditahan bersama dalam Penjara Lowokwaru Malang, Arief dipindahkan ke Sukabumi. Sejak saat itu kabarnya tidak pernah terdengar lagi.

Genjer Genjer dalam dunia Indonesia modern juga masih dianggap sebagai lagu yang menakutkan. Hal ini dapat dibuktikan misalnya dengan kasus yang terjadi di Solo pada 2009. Ketika itu, Solo Radio FM, radio lokal Kota Solo memutar lagu Genjer Genjer.

Setelah pemutaran lagu berlangsung, tiba-tiba kantor radio tersebut didatangi sejumlah orang yang mengklaim sebagai anggota Laskar Hizbullah. Mereka datang ke sana untuk menuntut permintaan maaf pihak radio.

Teror yang serupa juga terjadi di Jakarta, tepatnya pada September 2017. Ketika itu Lembaga Bantuan Hukum sedang mengadakan acara Asik-Asik Aksi.

Acara tersebut merupakan acara berkumpulnya sejumlah gerakan sosial di Jakarta. Tiba-tiba ketika malam hari, gedung Lembaga Bantuan Hukum dikepung oleh massa yang berasal dari beragam ormas. Menurut orang-orang yang ada di kelompok massa, acara tersebut merupakan perayaan kebangkitan PKI.

Pasalnya, menurut mereka acara tersebut menggelar konser yang menyanyikan lagu Genjer Genjer. Padahal menurut penyelenggara acara tidak ada penampil konser yang memainkan lagu tersebut.