Nyi Roro Kidul adalah legenda yang sangat populer pada masyarakat di Pulau Jawa. Sebagian masyarakat hingga saat ini masih percaya terhadap wilayah kekuasaan Nyi Roro Kidul di sepanjang laut selatan Pulau Jawa berikut kekuatan gaib yang dapat memberikan ketentraman ataupun sebaliknya pada masyarakat. Dua hal tersebut ditanggapi masyarakat dalam bentuk pelaksanaan upacara penghormatan, tidak melanggar pantangan.

Kaitan tradisi ritual yang ada di dua wilayah pantai jawa barat (selatan dan utara) dengan mitos tentang nyi roro kidul sangat menarik untuk disimak karena pantai utara jawa barat tidak disebutkan sebagai wilayah kekuasaan Nyi Roro Kidul. Wilayah selatan pantai Jawa Barat, yaitu Sukabumi, Cianjur, Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis, pun tidak semua yang memiliki tradisi kuat terhadap mitos Nyi Roro Kidul.

Ada dua wilayah yaitu Cianjur, dan Ciamis dengan pelabuhan ratu/pangandaran yang kuat memegang teguh mitos nyi roro kidul. Terlangkahi oleh wilayah Tasikmalaya dan Garut menyebabkan sebuah per-tanyaan mengapa masyarakat Cianjur kerap menjalankan tradisi upacara nyalawena, syukur pasisiran, dan sebagainya sebagai bagian dari proses ritual penghormatan kepada Nyi Roro Kidul.

Dilansir Edisi Bonanza88 dari beberapa sumber, mitos kerap dikaitkan dengan penghuni ”alam lain” yang berdampingan dengan alam manusia. Mahluk halus sebagai penghuni alam lain dipercaya oleh sebagian masyarakat memiliki kemampuan mempengaruhi perilaku manusia ke arah yang baik atau buruk.

Istilah “alam lain” kerap dihubungkan dengan kepercayaan dari setiap suku bangsa di Indonesia. Suku bangsa Jawa dikenal memiliki agama asli dengan istilah kejawen, suku bangsa Sunda umum dikenal memiliki kepercayaan dengan istilah sunda wiwitan. Agama asli ini telah ada jauh sebelum agama baru – Hindu, Budha, Islam, dan Kristen – mulai menanamkan pengaruh keimanan mereka di bumi nusantara.

Konflik memang tidak dilakukan secara terbuka namun hingga saat ini agama asli masih kontinyu berusaha bertahan dan membentuk citra positif agar tidak menjadi sasaran hujatan penyelewengan agama. Subagya menya-takan bahwa agama pendatang itu unggul

dalam perlengkapan doktriner, kenegaraan dan lambat-laun berfungsi sebagai ideologi negara di bawah kekuasaan sentral dan sakral. Namun penduduk tetap menganut agama asli sekalipun digolongkan out-group. Di Jawa pada masa Hindu penganut agama asli ini disebut jaba.

Dua nama yang menurut mata masyarakat awam adalah sama antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Nyi Roro Kidul. Pandangan ini akan sangat berbeda dengan pakar yang membidangi masalah mitologi ataupun paranormal yang kerap bersentuhan dengan dunia gaib. Ternyata ada kekeliruan besar yang selama ini dibiarkan terjadi yaitu menyamakan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Nyi Roro Kidul.

Masyarakat Cianjur selatan tampak tidak begitu paham akan perbedaan kedua nama tersebut (Kanjeng Ratu Kidul dan Nyi Roro Kidul). Kepastian yang ada hanya penghormatan terhadap sosok yang menguasai wilayah tempat mereka menetap dan mencari nafkah – sebagai petani dan nelayan – serta memberikan sesaji melalui upacara Nyalawena ataupun syukur pasisiran dan Ngaruwat kepada sosok tersebut.

Apalagi beberapa informan yang ditemui tidak ada satupun yang pernah menemui kejadian aneh yang berkaitan dengan perjumpaan dengan sosok penguasa laut selatan tersebut, meskipun di daerah lain telah terjadi keanehan yang merujuk pada pertemuan antara seseorang atau berkelompok dengan Nyi Roro Kidul.

Pengkaburan atas dua nama ini mengarah pada awal pengkultusan sosok Kanjeng Ratu Kidul yang memang berasal dari tanah Jawa. Dapat dikatakan bahwa masyarakat awam di Tanah Parahyangan tidak begitu membedakan antara Kanjeng Ratu Kidul dengan Nyi Roro Kidul karena keduanya adalah sama-sama sebagai sosok penguasa laut selatan.

Meski demikian, keyakinan akan adanya sosok penguasa pantai selatan hingga saat ini masih ada. Apalagi para sesepuh adat Sunda di Cianjur Selatan yang memang telah dibekali pengetahuan supranatural hingga mampu melihat melalui batin terhadap berbagai gejala alam dari sudut pandang gaib.

Kemampuan dalam menelaah dunia gaib para sesepuh adat Sunda bukan datang dengan sendirinya. Feno-mena agama asli Sunda wiwitan patut menjadi bahan referensi untuk mengetahui keberadaan sosok penguasa pantai selatan daerah parahyangan ini.

Upaya agar penguasa pantai selatan tidak membuat kerusakan terhadap wilayah tempat tinggal dan mata pencaharian masyarakat Cianjur Selatan kerap diadakan dalam bentuk pemberian sesaji dalam upacara Nyalawena, syukur pasisiran, dan ngaruwat yang diadakan setiap tahun. Oleh karena itu, setiap ada tanda – terutama gejala alam di lautan – seperti halilintar yang bersahut-sahutan disertai dengan gelombang besar merupakan salah satu pertanda akan datang kemurkaan dari sang penguasa laut selatan.

Kamar 308 di Pelabuhan Ratu

Mitos Kamar 308 Inna Beach Hotel Palabuhanratu

Salah satu hotel yang berada di lokasi Pantai Pelabuhan Ratu yang tertua dan terkenal adalah Hotel Inna Samudera. Hotel ini merupakan saksi bisu ada tidaknya keberadaan Nyi Roro Kidul. Hotel ini didirikan pada tahun 1962 oleh Presiden Soekarno. Hotel ini sempat menyaingi beberapa hotel di Bali karena fasilitas dan kemegahannya. dengan bangunan fisik sebanyak 8 tingkat dan memiliki 106 kamar yang dibangu diatas lahan seluas 60 H dan terletak di Jl. Raya Cisolok KM 7 Pelabuhan Ratu_Sukabumi.

Salah satu kamar yang ada di hotel tersebut yang bernomor 308 memiliki daya tarik dan mistik tersendiri bagi para wisatawan, kadang wisatawan hanya ingin sekedar mengintip dan merasakan suasana yang mencekam sebagai uji nyali jika masuk atau sekedar melewati kamar tersebut.

Tidak bisa di pungkiri keberadaan mitos Nyi Roro Kidul yang mendiami kamar 308 ini menjadi suatu kekuatan bagi hotel ini untuk bisa bertahan hidup sampai sekarang di tengah banyaknya hotel–hotel yang berdiri baru di kawasan tersebut.

Salah satu bukti bahwa Pelabuhan Ratu memiliki interaksi dengan pasar (wisatawan) tercermin dari kunjungan wisatawan ke lokasi desa tersebut. Menurut informasi yang di dapat dari Humas Badan Penyelamat Wisata Turta (Balawista) Kabupaten Sukabumi di tahun 2015 menjelang ramadhan atau dalam adat sunda disebut “papajar” dalam kurun waktu sepekan dan di H-1 menjelang ramadhan jumlah pengunjung bisa mencapai 3.000 orang.

Ini membuktikan bahwa Pelabuhan Ratu memiliki magnet yang bisa menyedot pengunjung terlepas dari ada tidaknya sosok Nyi Roro Kidul yang melegenda tersebut dan sudah membawa Kabupaten

Sukabumi memperoleh kontribusi asset dari hasil tiket kunjungan yang bisa di kelola untuk pembangunan daerah tersebut. Yang terpenting kearifan lokal yang di pegang selama ini harus di lestarikan sehingga julukan desa wisata yang menarik dan unik masih tetap di pertahankan.

Kamar 308 menjadi sebuah ruang khusus yang hanya boleh dikunjungi oleh orang-orang tertentu, guys. Konon, ruangan ini menjadi tempat yang memungkinkan seseorang bisa bertemu dengan Nyi Roro Kidul.

Kamar itu sekilas tidak berbeda dengan kamar lainnya. Bedanya, ruangan tersebut didominasi oleh warna hijau pada dinding, karpet, lantai, hingga gorden yang memberikan kesan mistis. Pasalnya, warna hijau diyakini adalah warna kesukaan Nyi Roro Kidul.

Selain itu, suasana kamar juga kian terkesan mistis dengan delapan lukisan potret wanita cantik yang diyakini sebagai gambaran ratu penguasa pantai selatan. Salah satu lukisan di antaranya adalah  hasil karya Basuki Abdullah.

Kamar 308 juga kabarnya sering dijadikan tempat istirahat sang ratu. Namun kamar itu justru selalu laris dipesan oleh sejumlah pelancong yang sengaja memesan untuk kebutuhan meminta ilmu atau bersemedi.

Salah satunya adalah Praktisi Supranatural Ki Geni Seketi yang hampir setiap bulan berkunjung ke kamar tersebut. Kepada Urbanasia, Ki Geni mengungkapkan jika kedatangannya ke kamar 308 salah satunya adalah untuk meditasi dan ritual. Menurut kesaksian Ki Geni, di luar kesan horor, kamar ini justru memiliki aura positif yang bisa menenangkan pikiran.

“Kamar 308 punya kesan tersendiri untuk saya karena setiap kali memasuki ruangan tersebut, saya merasa tenang dan banyak mendapatkan aura positif,” tutur Ki Geni

Ki Geni menjelaskan, setiap memasuki kamar 308, ia justru merasa seperti ada sambutan hangat dari sosok penunggu yang berada di ruangan itu. Bahkan, saat melakukan meditasi, ia juga kerap diperlihatkan oleh cahaya putih yang selalu datang menghampirinya.

“Saat meditasi dan ritual, ada seperti cahaya putih yang menyambut dengan hangat, bahkan sosok itu kadang mengusap-usap rambut seperti layaknya seorang ibu ke anaknya,” ungkap dia.

Menurut Ki Geni, banyak juga tamu sengaja datang ke kamar 308 untuk menyampaikan hajat tertentu dalam hidupnya seperti meminta jodoh dan rezeki. Sebagian dari mereka juga terkadang meninggalkan barang-barang berharga di ruangan itu sebagai tanda persembahan dan tanda terima kasih kepada sang ratu.

“Ada tamu yang merasa hajat atau keinginannya merasa dikabulkan, kemudian mereka meninggalkan benda-benda berharga di ruangan (kamar 308) sebagai persembahan, “ tutup Ki Geni.

Mitos Hubungan Batin Presiden Indonesia dengan Nyi Roro Kidul

5 Fakta Unik Bung Karno ini Pasti Jarang Diketahui Orang Indonesia -  Boombastis.com | Portal Berita Unik | Viral | Aneh Terbaru Indonesia

Ada juga tokoh-tokoh pemimpin indonesia yang diduga memiliki hubungan batin dengan sosok mistis penguasa pantai Selatan yaitu Nyi Roro Kidul. Bahkan peristiwa pergantian kekuasaan seringkali juga dihubungkan dengan restu dari sang Nyai. Siapa sajakah pemimpin Indonesia yang konon memiliki hubungan batin dengan Nyi Roro Kidul? Berikut ini ulasanya

Para tokoh supranatural banyak yang mengakui bahwa hampir semua penguasa Indonesia memiliki hubungan batin dengan sosok Nyi Roro Kidul. Tak terkecuali presiden pertama Indonesia Soekarno. Proklamator Indonesia tersebut memang besar dengan budaya Jawa. Ia bahkan juga mempercayai ramalan-ramalan kuno seperti ramalan Prabu Jayabaya tentang datangnya bangsa asing berkulit kuning yang kemudian disamakan dengan kedatangan Jepang.

Hubungan Soekarno dan Nyi Roro Kidul mulai menjadi perbincangan publik sejak lama. Apalagi saat Soekarno mencetuskan ide pembangunan Samudera Beach Hotel, Pelabuhan Ratu, Jawa Barat. Sebagian orang menilai keinginan Soekarno sebenarnya adalah membangun tempat untuk menjalin hubungan dengan Nyai Ratu.

Soeharto tak bisa dilepaskan dari nilai-nilai filosofis budaya Jawa. Ia begitu kukuh memegang tradisi. Banyak orang-orang di dekatnya yang mengatakan aktivitas spiritual seperti semedi dan puasa adalah hal yang biasa bagi Penguasa Orde Baru ini.

Kekuasaanya yang langgeng salama puluhan tahun bagi masyarakat yang kental dengan kepercayaan dan adat Jawa, pasti dihubungkan dengan keberadaan Nyi Roro Kidul. Nyi Roro Kidul juga dianggap sebagai simbol yang menjaga keseimbangan Nusantara. Sesuai dengan Soeharto yang sangat kental dangn filosofis Jawa khusunya untuk hal keserasian antara manuisa dan alam semesta.

Sebelum para presiden Indonesia, para raja Jawa juga konon memiliki hubungan batin dengan Nyi Roro Kidul. Demi melanggengkan kekuasaan, para raja Jawa harus bersedia menjalin hubungan dengan Nyi Roro Kidul. Mitos yang berkembang di masyarakat menjelaskan bahwa Nyi Roro Kidul erat kaitannya dengan para pendiri Mataram.

Konon hubungan tersebut diteruskan pada para keturunannya sampai saat ini salah satunya adalah Sultan Hamengkubuwono IX. Hamengku Buwono IX bukan hanya seorang raja tapi dia adalah tokoh perjuangan Indonesia yang pernah menjabat sebagai Wakil Presiden Indonesia. Hamengku Buwana IX pernah menceritakan perihal pengalaman spiritualnya bertemu dengan Nyi Roro Kidul. Makhluk ghaib tersdebut digambarkan dengan wujud wanita cantik saat bulan purnama dan sebagai wanita tua di waktu yang lain.

Nyi Roro Kidul dan Bung Karno

Kisah Misteri Soekarno dan Ratu Pantai Selatan Nyi Roro Kidul - JMJunior

Sebagai ratu yang menguasai pantai dan lautan selatan,  Kanjeng Nyi Roro Kidul sudah tak lagi asing ditelinga masyarakat Nusantara. Namanya begitu tersohor dan menggema dari ujung utara apalagi di ujung selatan.

Eksistensi Nyi Roro Kidul seakan tak pernah ada habis-habisnya. Mulai dari zaman kerajaan lalu hingga zaman tumbuh kembangnya cebong dan kampret saat ini, sosoknya masih tetap hidup dan melekat ditengah-tengah masyarakat.

Hal itu tak mengherankan memang, sebab Nyi Roro Kidul memiliki segudang kisah yang menarik untuk selalu di perbincangkan di kalangan khayalak yang tak ada matinya.

Betapa tidak, sosok Nyi Roro Kidul sampai saat ini masih menjadi bahan perdebatkan. Dari yang bergelar S3 hingga tidak punya gelar berdebat terhadap keberadaan sosok Ratu cantik Penguasa Lautan selatan ini.

Ada yang meyakini sosok Nyi Roro kidul itu nyata tetapi tidak sedikit yang menganggap itu hanya mitos tutur ataupun legenda.

Sastrawan besar dan terkemuka Indonesia, Pramoedya Ananta Toer turut buka suara terkait hal tersebut. Ia mengatakan bahwa  Nyi Roro Kidul adalah tokoh rekaan seniman kala itu.

Tokoh ini diciptakan untuk menutupi kekalahan Mataran dari Belanda. Dengan menciptakan tokoh Nyi Roro Kidul, mereka seakan-akan masih memiliki kuasa akan pantai selatan.

Namun terlepas  berdebatan keberadaan Nyi Roro Kidul, ada satu cerita yang sangat begitu mengundang rasa penasaran. Yaitu Hubungan Spesial antara Kanjeng Ratu Pantai selatan dengan Presiden Pertama Indonesia, Soekarno.

Banyak buku dan artikel ilmiah bergenre sejarah yang mencoba membahas hubungan Soekarno dan Penguasa Laut Selatan itu. Lalu hubungan spesial seperti apa?

Diketahui Presiden Soekarno pernah melakukan pernikahan atau perkawinan secara gaib dengan sang ratu. Dari beberapa sumber yang ditelesuri tim energibangsa.id, Presiden pertama Indonesia ini pada beberapa kesempatan kenergaraan berkali-kali mengawali sambutannya dengan cerita tentang sosok Ratu cantik itu.

“Ratu Roro Kidul, ratu dari lautan selatan, ratu dari samudera yang dulu bernama Samudera Hindia, tetapi kemudian kita rubah dengan nama Samudera Indonesia, saudara-saudara,” kata Soekarno, di Istana Merdeka , Jakarta, saat melantik R.E Martadinata sebagai kepala Staf Angkatan Laut Indonesia, 17 Juli 1959.

Ia melanjutkan kembali kisahnya bahwa sejak zaman lampau, apalagi sejak zaman mataram islam, ada tradisi yang mengatakan bahwa raja hanyala bisa menjadi raja besar yang kuat, pimpinan hanyalah bisa menjadi pimpinan yang kuat, jikalau beristerikan Ratu Pantai Selatan.

Sang Proklamator ini kembali membuka sambutan dengan menyeritakan sosok Nyi Roro Kidul ketika Musyarawah Nasional Maritim, 23 September 1963.

Kata Bung Karno kala itu, terserah mau percaya atau tidak. Itu bukan soal. Tetapi nyata bahwa ini berisi satu symbol.

“Kepercayaan ini berisi satu simbolik bahwa tidak bisa seseorang raja, bahwa tidak bisa sesuatu Negara di Indonesia ini menjadi kuat jikalau tidak dia punya raja kawin beristrikan Ratu Roro Kidul.”

Simbolik itu sambung dia, berarti bahwa Negara Indonesia hanyalah bisa menjadi kuat jikalau ia juga menguasai Lautan.

“Jikalau Negara di Indonesia ingin menjadi kuat, sentosa, sejahtera, maka dia harus kawi juga dengan laut. Bahwa bangsa Indonesia tidak bisa menjadi bangsa kuat, tidak bisa menjadi Negara kuat, jika tidak menguasai samudera, jikalau tidak kembali menjadi bangsa maritime,” tandas soekarno.

Tidak sebatas itu saja, hal tersebut diperkuat dengan cerita para penduduk yang tinggal di Pantai Citepus, Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat.

Dari penuturan mereka, pada zaman dulu Soekarno acapkali datang berkunjung ke kampung tersebut.

Lalu pada tahun 1960 dibangun Istana Presiden Republik Indonesia di kawasan itu. Persis di bibir Pantai Citepus. Namanya Pesanggrahan Tenjo Resmi.

Sepelesatan ketapel dari Istana Presiden, dibangun pula Samudera Beach Hotal dengan anggaran Rp 660 miliyar dari dana pampasan perang jepang.

Hotel ini pun kedepannya melahirkan segudang cerita yang bertalian dengan Ratu Pantai Selatan dimana dainataranya sebagai gerbang kerjaan sang ratu dan tempat pertemuan antara Soekarno dengan Nyi Roro Kidul di kamar 308.

Pernikahan antara Soekarno dan Nyi Roro Kidul juga tertulis dalam buku Dunia Batin 2 Macan Asia: Pengalaman-Pengalaman Spirtual Bung Karno dan Pak harto (2014).

Di buku tersebut diceritakan bahwa kawin disimbolkan sebagai upaya Seokarno memperkuat bangsa Indonesia dari segi Maritim atau laut sebagaimana pada zaman Kerajaan Majapahit dulu.

Ia ingin kembali mengulang kebesaran Nusantara masa lalu dengan mencoba mengadopsi sistem ke kemaritiman majapahit yaitu dengan kawin atau menikahi lautan.

Artinya manusia Indonesia mesti menyadari bahwa mereka hidup di Negara maritim yang besar sehingga harus berkolaborasi dengan laut bila ingin jaya.

Pernikahan Ghaib sendiri sebenarnya sudah terjadi sejak masa lalu. Menurut Kepercayaan Jawa, Raja Jawa merupakan suami dari Penguasa Pantai Selatan .

Pernikahan itu terjadi ketika diadakan perjanjian antara Panembahan Senopati dengan Nyi Roro Kidul sebelum kerajaan Majapahit dibangun.

Perjanjian itu terus berlanjut ke raja-raja berikutnya, diantaranya Sri Mangkunegaraan IX dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sinuhun Pakubuwono XIII Pura Mangkenagaraan, hingga sampai kepada penguasa nusantara, Ir. Soekarno.

Pernikahan yang dimaksudkan itu tidak seperti biasanya, melainkan tersirat untuk mempertahankan kekuasaan seperti saat Senopati membangun Kerajaan Mataram.

Begitu halnya dengan Soekarno yang ingin dan bertujuan untuk memperkuat Indonesia dari sisi maritime seperti zaman Majapahit saat mencapai kejayaan.

Nah demikian lah kisah Pernikahan antara Soekarno dan Nyi Roro Kidul. Sampai saat ini hal itu masih menjadi perdebatan antara mitos tutur yang berkembang di masyarakat atau fakta sejarah.