Kampung Arab yang berada di kawasan Warung Kaleng yang letaknya berada di sekitar wilayah Desa Tugu Selatan dan Tugu Utara ini mulai didatangi oleh orang Timur Tengah pada tahun 1980an. Keberadaannya diawali dengan cerita mengapa ada kawasan yang disebut sebagai “Warung Kaleng” pada tahun 1980an.

Yaitu karena terdapat beberapa warung yang terbuat dari kaleng drum milik orang Arab, dan pada tahun tersebut pula orang-orang Arab tersebut mulai membawa kerabat, teman, dan suadara mereka untuk datang ke Puncak. Kawasan Puncak memang dipenuhi oleh villa-villa, hotel dan penginapan untuk para wisatawan domestik hingga wisatawan Timur Tengah.

Selain banyaknya fasilitas seperti villa dan restaurant Timur Tengah di Puncak, tersedianya pelayanan jasa bagi para wisatawan Timur Tengah juga menjadi daya tarik tersendiri bagi orang-orang Arab untuk datang ke kawasan Puncak khusunya Kampung Arab. Pelayanan jasa yang tersedia meliputi; sawag atau pemandu, driver taksi, driver ojek, chef, penyedia villa, dan security.

Para penyedia jasa ini lebih senang dengan sebutan-sebutan asing tersebut, mereka menganggap itu lebih keren untuk didengar. Mereka semua tergabung dalam komunitasnya masing-masing, di mana komunitas mereka semua berada dalam naungan Komunitas Penggerak Pariwisata (kompepar). Para pekerja pariwisata ini merupakan warga asli yang tinggal di kawasan Puncak. Mereka selalu siap untuk melayani para tamu Timur Tengah yang berada di kawasan Puncak, termasuk dalam jasa menyediakan hiburan malam hingga hiburan seksual.

Seiring dengan terus bertambahnya jumlah wisatawan Timur Tengah ke kawasan Puncak, pada tahun 1987 mulai terdengar istilah “kawin kontrak” antara laki-laki Timur Tengah dengan wanita lokal. Berawal dari adanya oknum orang Timur Tengah yang datang dan melakukan kawin kontrak atau nikah mut’ah dengan wanita setempat.

Berdasarkan data yang dihimpun Edisi Bonanza88. Kawin kontrak atau Nikah mut’ah pernah diizinkan Nabi saat terjadi peperangan. Para sahabat saat itu dalam kondisi membujang dan meninggalkan isteri mereka, namun saat ini kawin kontrak atau nikah mut ah sudah diharmkan bagi Agama Islam.

Kawin kontrak ini juga tidak semata-mata terjadi begitu saja melainkan ada asal mula mengapa bisa muncul fenomena ini di daerah Puncak. Wanita-wanita pelaku kawin kontrak tersebut bukan berasal dari Cisarua atau Bogor melainkan dari Cianjur, Sukabumi dan daerah-daerah lain. Wanita-wanita tersebut biasanya menetap tidak jauh.

Dulu wanita yang melakukan kawin kontrak adalah gadis-gadis setempat yang biasanya dipaksa oleh keluarga mereka untuk menikah dengan orang Arab dengan alasan kebutuhan ekonomi. Lain halnya dengan sekarang, sekarang wanita yang melakukan kawin kontrak bukanlah gadis-gadis setempat, melainkan adalah wanita-wanita tuna susila yang sering menjajakan diri mereka pada turis Arab di kawasan Puncak.

Keberadaanya sempat sangat memuncak pada tahun 2007-2008 namun memasuki tahun 2010 kawin kontrak tersebut menuai banyak protes sehingga hingga saat ini keberadaannya menjadi tertutup. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada oknum-oknum yang sebenarnya sampai saat ini masih terlibat dalam kawin kontrak namun berusaha menutupi keberadaan kawin kontrak tersebut untuk menjaga nama baik wisatawan Timur Tengah dan daerah Puncak itu sendiri.

Karena orang-orang ini juga yang bekerja dan terlibat dalam proses kawin kontrak. Keberadaan wisatawan Timur Tengah memang telah menghidupkan segala aspek dalam bidang pariwisata dan memberikan banyak keuntungan bagi masyarakat setempat maupun bagi lingkungan setempat.

Asal Usul Kampung Arab di Puncak

TRIBUN WIKI : Awal Mula Kampung Arab di Puncak Bogor, Nuansa Timur Tengah  di Tanah Sunda - Tribunnews Bogor

Nama Kampung Arab menjadi sorotan beberapa hari terakhir, hal tersebut berawal dari Ombudsman Republik Indonesia yang mengungkapkan hasil pemeriksaan terkait tata kelola kawasan Kampung Arab di Cisarua, Kabupaten Bogor.

Namun sesungguhnya kampung tersebut bernama Kampung Sampai Jalan Sindang Subur atau Kampung Warung Kaleng. Kampung Arab sendiri terlihat sangat sepi. Ruko yang berjajar dijalan utama juga nampak sebagian besar tutup. Bahkan ada beberapa toko yang terlihat tidak terurus.

Ketika memasuki salah satu toko yang berpalang bahasa arab bahkan tulisan di pintu juga berbahasa arab dengan tinta berwarna biru dan dan merah. Ketika memasukinya pegawai maupun pemilik ternyata merupakan orang Indonesia. Sayangnya pemilik enggan untuk diwawancarai.

Ketika pergi ke desa dibelakangnya, hanya terlihat permukiman warga biasa. Tidak terlihat adanya aktivitas orang asing. Ketika Republika juga mendatangi salah satu tempat tinggal imigran Uzbekistan yang berada di belakang kantor Desa Tugu Selatan, juga tidak terlihat aktivitas apapun.

Kelapa Desa Tugu Selatan, Eko Windiana menyebutkan masyarakat keberatan disebut sebagai Kampung Arab. Menurut mereka nama Kampung Sampai merupakan nama yang telah diturunkan oleh leluhur sehingga mereka menolak yang datang entah dari mana.

“Nama kampung itu aslinya Kampung Sampai Jalan Sindang Subur atau disebut Kampung Warung Kaleng karena dulu jual material. Tokoh sama warga sempat datang ke sini karena mereka enggak setuju disebut Kampung Arab, nama kampungnya Sampai kan dari leluhur mereka,” tutur Eko kepada Republika, Selasa (4/8).

Kampung yang terletak di antara Desa Tugu Utara dan Selatan ini memang menggunakan bahasa Arab di plang maupun tulisan di pintu ruko. Namun Eko menyebut, pemilik bangunan merupakan orang Indonesia.

“Kalau tulisan mungkin Arab memang iya tapi pemilik tanah dan bangunan orang kita. Karena sejauh ini saya enggak pernah dengar imigran beli tanah. Kampung Arab dan imigran juga beda ya. Kalau imigran ini banyak ada Pakistan, Uzbekistan, Irak, Afrika dan yang lainnya,” ujar dia.

Hal senada juga disampaikan salah satu staf Desa Tugu Utara, Doni Adi yang menyebut Kampung Arab sendiri terbagi di dua desa. Mengenai imigran ia menyebut mereka tinggal terpencar di beberapa wilayah.

Desa sendiri sulit untuk melacak mereka karena tidak ada laporan setiap perpindahan sejauh ini. Doni menyebut para imigran sendiri selalu berpindah tempat tinggal dengan cepat.

“Kita sendiri sulit untuk melacak mereka, karena mereka ngontrak. Setiap berpindah enggak ada yang lapor baik pemilik kontrakan maupun RT setempat. Tapi kalau di Kampung arab sendiri setahu saya cuma satu atau dua yang mukim di sini, di Desa Cibureum dan Batu Layang mungkin lumayan banyak,” ujar dia.

Dari kedua desa tersebut memiliki keluhan yang sama, yakni para imigran yang meresahkan warga sekitar. Di dua desa tersebut juga mengakui sering mendapat laporan dari warga terkait pertikaian antar imigran bahkan pertikaian dengan masyarakat sekitar.

Sikap acuh para imigran juga menjadi masalah di masyarakat, tidak menegur sapa bahkan bersikap tidak peduli dengan masyarakat sekitar juga menjadi masalah. Selain itu para imigran yang beragama muslim menurut masyarakat tidak pernah melaksanakan sholat berjamaah bahkan untuk Sholat Jumat.

Salah satu warga Didi (24 tahun) menyebut Kampung Arab sendiri biasanya hanya berisikan para turis yang makan atau membeli sesuatu. “Kalau Arab mereka biasanya turis, ke sini ramai buat makan atau beli sesuatu. Sekarang lihat saja enggak ada kan? Soalnya mereka biasanya cuma wisata saja jadi pas Corona ya enggak ke sini,” ucap Didi.

Camat Cisarua, Deni Humaedi juga memaparkan hingga kini kecamatan kesulitan untuk melakukan pendataan dan pengawasan terhadap imigran di kawasan Kampung Arab. Hal tersebut karena imigran sering berpindah tempat tanpa melapor bahkan pada RT atau RW setempat.

“Mereka tidak menetap. Kadang ngontrak di sini, bulan depan di situ, berikutnya pindah lagi ke tempat lain jadi sulit untuk kita ngedatanya. Untuk data tahun lalu kita ada 616 imigran yang tersebar di 7 desa,” kata Deni.

Desa tersebut meliputi Desa Cisarua, Tugu Utara, Cibeureum, Tugu Selatan, Batulayang, Citeko, dan kopo. Setiap titik Deni menyebut para imigran akan tinggal berkelompok.

Ia sendiri tidak menapik banyaknya plang Arab, Deni menjelaskan, sebagian merupakan usaha milik Warga Negara Indonesia (WNA) sendiri. Sebab, plang itu sebagai upaya untuk menarik pembeli wisatawan Arab.

Terkait kabar langkah yang diambil Bupati Ade Yasin yang akan memindahkan para imigran, Deni sangat menyetujuinya. Ia menyebut hal tersebut sangat tepat karena akan lebih mudah memantau para imigran di satu lokasi.

Mereka yang Kawin Kontrak

Begini Cara Kawin Kontrak di Puncak Bogor, Deal Rp 7 Juta per 5 Hari, Ijab  Kabul 5 Menit - Tribun Batam

Kawin kontrak di kawasan Puncak kembali menjadi perbincangan hangat setelah Polres Bogor kembali membongkar jaringan prostitusi terselubung ini. Tempo pernah menelusuri fenomena ini pada 2010 silam.

Dalam penelusuran Tempo, seorang perempuan pelaku kawin kontrak mengaku terpaksa melakukan hal itu karena desakan ekonomi. Diana, si perempuan, mengaku telah empat kali menjadi istri kontrak.

Bagi perempuan yang kini berusia pada 39 tahun itu, kawin kontrak lebih baik ketimbang menjual diri. Menurut dia, hubungannya dengan si laki-laki sah secara agama karena dinikahkan secara siri.

“Saya dinikah siri, ada saksi dan wali nikah,” tuturnya.

Setiap kali menjalani kawin kontrak, Diana mengaku mendapat mas kawin sebesar Rp 3 juta. Namun hanya setengah yang dia dapatkan karena setengahnya menjadi hak muncikari bernama Salim yang biasa mempertemukannya dengan si pria hidung belang. “Setengahnya lagi diambil Salim,” katanya.

Selain itu, Diana mengaku diberi uang belanja Rp 500 ribu per hari selama menjadi istri kontrak. Dengan uang itulah dia menghidupi anak yang dititipkan pada orang tuanya di Jalan Salemba, Jakarta. Tapi, gara-gara itu juga, Diana bersama lima temannya pernah digelandang polisi pada 2007.

Menjadi istri kontrak, kata dia, biasanya cuma satu bulan. “Kalau lagi mujur, bisa dua bulan,” ujarnya. Lebih mujur lagi jika seperti teman Diana, yang dibawa ke Arab Saudi oleh suami kontraknya. “Jadi penjaga toko,” Diana menuturkan.

Apa pun alasan Diana, Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Bogor, Mukri Aji, menegaskan bahwa praktik kawin kontrak haram dalam agama Islam. Bahkan, menurut dia, pemerintah telah melarang praktik tersebut sejak 5 dekade yang lalu.

Kawin kontrak ini haram hukumnya, bahkan pemerintah sejak tahun 1964 sudah mengelurkan fatwa dilarangnya praktik ini,” kata Mukri.

Camat Cisarua, Kabupaten Bogor, Deni Humaidi, mengatakan bahwa perempuan pelaku kawin kontrak sebenarnya bukan berasal dari kawasan Puncak. Menurut dia, mereka didatangkan para muncikari dari daerah yang berbatasan dengan Kabupaten Bogor seperti Sukabumi, Cianjur dan Karawang.

Prostitusi Berkedok Kawin Kontrak

statik.tempo.co/data/2020/02/14/id_915076/91507...

Bareskrim Polri berhasil mengungkap kasus tindak pidana perdagangan orang dengan modus kawin kontrak di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Dalam kasus prostitusi ini, polisi menangkap lima tersangka yang salah satunya adalah warga negara Arab Saudi.

Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri Brigjen Ferdy Sambo mengungkapkan kelima tersangka tersebut bernama Nunung Nurhayati, Komariah alias Rahma, H Saleh, Devi Okta Renaldi, dan satu WN Arab Saudi bernama Almasod Abdul Alziz Alim M. alias Ali.

Dia menjelaskan, prostitusi di kawasan Puncak ini bermula ketika Ali mencari pekerja seks komersial lewat cara kawin kontrak. Kemudian dia menghubungu H Saleh yang bekerja sebagai penghulu.

Permintaan itu pun disanggupi H Saleh setelah menghubungi Nunung dan Rahma sebagai penyedia perempuan di vila daerah puncak Bogor dan di Apartemen Puri Casablanca.

“Para perempuan (korban) tersebut kemudian dibawa oleh Nunung dan Rahma ke H Saleh di Vila wilayah Puncak Bogor dengan menggunakan kendaraan roda empat yang dikemudikan Okta,” kata Brigjen Ferdy Sambo di Bareskrim Polri, Jakarta Selatan

“Keuntungan yang didapat oleh H Saleh dari WN Arab tersebut sebesar Rp 300 ribu,” sambungnya.

Di situ, Nunung dan Rahma mematok harga untuk booking out (bo) short time dengan waktu 1-3 jam seharga Rp 500 ribu hingga Rp 600 ribu, sedangkan 1 malam dengan harga sebesar Rp 1 juta hingga Rp 2 juta.

Atau booking out secara kawin kontrak dengan harga Rp 5 juta untuk jangka waktu 3 hari dan Rp 10 juta untuk jangka waktu 7 hari.

Berdasarkan penyelidikan, Nunung dan Rahma ternyata masing-masing memiliki sedikitnya 20 perempuan yang akan dijual, sementara H Saleh sudah menyediakan lebih dari 20 pelanggan dan 12 kali menjadi saksi nikah kawin kontrak sejak tahun 2015 hingga sekarang.

“Keuntungan yang diperoleh kedua mucikari tersebut adalah sebesar 40 persen dimana jika korban mendapatkan uang sebesar Rp 1 juta maka mucikari mendapatkan Rp 400 ribu ataupun mucikari mendapat keuntungan sebesar 20 persen per-orang dari penghasilan yang didapatkan oleh korban,” kata dia.

Dalam kasus ini, polisi juga telah menyita sejumlah barang bukti di antaranya 7 unit handphone, uang Rp 900 ribu, print out pemesanan Apartemen Puri Casablanca, akses Apartemen Puri Casablanka, request form Open Balconidoor nomor 010489 atas nama Abdul Alziz Almasod, guest registration Puri Casablanca nomor 073187 kamar 20.9 tanggal 31 Januari 2020.

Lalu, 1 buah invoice nomor 00104739/A atas nama Abdul Alziz Almasod, 1 bendel Booking De Resident At Puri Casablanka dari tanggal 31 Januari 2020 sampai dengan 3 Februari 2020 atas nama Abdul Alziz Almasod dari booking.com, paspor atas nama Abdul Alziz Almasod No. 366370 yang dikeluarkan Kingdom of Saudi Arabia, 2 buah boarding pass Srilanka Airlines penerbangan Riyad-Jakarta atas nama Almasod.

Atas perbuatannya, mereka berlima dijerat Pasal 2 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 21 tahun 2007 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Perdagangan Orang dengan ancaman penjara maksimal 15 tahun.