Masa lalu John Lennon tidak seindah lagu-lagunya. Luka dan kekecewaan yang didapat mempengaruhi karya-karyanya. Orang tua yang bercerai membuat John harus memilih tinggal dengan salah satu dari mereka, hingga akhirnya John memilih untuk tinggal dengan ibunya.

Mimi Smith, kakak tertua dari Ibu John adalah orang yang merawat John bersama suaminya George Martin, orang pertama yang mengajarkan John bermusik dengan memperkenalkan pada alat musik banjo dan piano, sementara untuk kemampuan bermain gitar, John dapatkan dengan belajar secara otodidak, dan menjadi pintu pembuka Lennon untuk menjadi musisi terkenal.

Saat masa remaja, John dihadapkan lagi dengan sebuah peristiwa yang melukai hatinya dan memiliki dampak besar pada kehidupannya. Ibu John, Julia, tewas tertabrak mobil yang dikendarai oleh seorang polisi yang sedang mabuk. Polisi tersebut tidak mendapatkan hukuman atas kecerobohannya, dan hal tersebut membuat John benci pada pemerintah.

John Lennon mengawali karir bermusiknya ketika belajar di Liverpool College of Art pada tahun 1957 dengan mendirikan sebuah band yang bernama Black Jack bersama Ringgo Star, kemudian berganti nama menjadi The Quarrymen, karena sebagian besar personilnya bersekolah di Quarry Bank Grammar School.

Pada tahun yang sama, dalam sebuah acara John Lennon bertemu dengan Paul McCartney dan memutuskan untuk bergabung dalam The Quarrymen, disusul oleh bergabungnya George Harrison dan mereka bertahan hingga sekitar tahun 1959, mereka memutuskan untuk berganti nama menjadi The Beatles yang tidak memiliki makna secara khusus.

John Lennon dan Allan Williams sebagai manajer, mencoba memainkan kata-kata dari beetle yang diartikan kumbang dan beat yang diartikan sebagai gaya musik yang diartikan.

Setelah The Beatles bubar pada tahun 1970, John Lennon memutuskan untuk bersolo karir. Pada tahun 1971, Lennon mengeluarkan debut pertama yang berjudul “Imagine”, yang menjadi sebuah terbitan tunggal pada tahun yang sama dan mencapai tangga lagu ke-3 dalam Billboard (Amerika Serikat), serta menduduki peringkat ke-6 di Britania Raya. Pada tahun 2004, majalah Rolling Stone memilih “Imagine” sebagai lagu ketiga terbaik di sepanjang masa.

3 Hari Sebelum Tewas Ditembak Chapman

The Killing of John Lennon - Film - Review - The New York Times

Tepat tiga hari sebelum insiden pembunuhan John Lennon pada 8 Desember 1980, mantan personel The Beatles itu sempat curhat sering dikritik setelah memilih solo  karier.

John Lennon tewas ditembak Mark Chapman di depan apartemennya. Insiden itu disaksikan langsung Yoko Ono sehingga membawa kesedihan luar biasa bagi sang istri.

Dilansir Edisi Bonanza88 dari The Rolling Stones baru-baru ini merilis wawancara eksklusif dengan John Lennon pada 5 Desember 1980, untuk mengenang 40 tahun kematian sang legenda. Wawancara itu dilakukan tiga hari sebelum insiden penembakan Lennon.

“Saya kerap kali diserang [kritikan] dari sejak awal: From Me to You dinilai di bawah standar The Beatles. Itu review dari NME [New Musical Express]. Ya Tuhan, mohon maaf. Mungkin itu tak sebagus Please Please Me. Saya tidak tahu. Tapi di bawah standar? Saya tak pernah melupakan itu.”

“Anda tahu betapa buruk review album kami Plastic Ono? Mereka mencabik kami, ‘Manja dan merengek’ itu inti review mereka. Karena album itu tentang kami (Lennon dan Yoko)  dan bukan Ziggy Stardust atau Tommy dan Mind Games, mereka membenci itu,” ujar Lennon kepada The Rolling Stones.

Lennon kemudian membandingkannya dengan Mick Jagger terkait kritikan publik terhadapnya.

“Bukan hya sata. Contohnya Mick. Dia konsisten dengan karya bagus selama 20 tahun dan apakah mereka [publik] memberikannya masa rehat? Apakah mereka akan berkata: ‘Dia nomor satu, dia sudah 37 tahun dan memiliki lagu bagus, Emotional Rescue. Saya menikmatonya dan banyak orang juga menikmatinya.”

“Dan, Tuhan menyelamatkan Bruce Springteen ketika mereka memutuskan ia bukan lagi dewa. Saya tak pernah bertemu dengannya, tapu saya mendengar hal baik tentangnya. Penggemarnya senang. Namun ketika ia berupaya mencoba kesuksesannya sendiri dan dewasa, mereka menentangnya dan saya harap dia bertahan,” kata Lennon.

Lennon merasa bahwa sangat wajar bagi musis tenar mengalami pasang-surut dalam berkarya.

“Lihat saya atau Mick. Ada kalanya naik dan turun, tapi apakah kami ini mesin? Apa yang mereka inginkan dari idolanya?”

“Apakah mereka ingin saya dan Yoko mengacau dan bunuh diri di panggung? Tapi ketika mereka mengkritik From Me to You di bawah standar, saya menyadari bahwa Anda harus bertahan. Ada semacam sistem bahwa Anda berada di roda kehidupan dan harus terus berjalan,” tutur Lennon.

Malam Tragis John Lennon

John Lennon is Shot - HISTORY

41 tahun lalu, seorang pria berusia 25 tahun tanpa ragu menodongkan pistolnya ke arah musisi terkenal Inggris, John Lennon. Lima kali tembakan yang memuntahkan timah panas pun bersarang di tubuh suami dari Yoko Ono itu.

Si penembak diketahui bernama Mark David Chapman, yang sebelumnya telah menguntit John selama berhari-hari dari luar gedung apartemennya di The Dakota, New York, Amerika Serikat. Dikutip dari Biography, peristiwa berdarah tersebut terjadi sekitar pukul 11 malam, pada tanggal 8 Desember 1980 lalu.

Sebelum melakukan kejahatannya, Chapman diketahui sempat menemui John Lennon untuk meminta tanda tangan, pada sore harinya. Sampai pada akhirnya, niatan untuk membunuh gitaris The Beatles itu tak lagi terbendung.

Chapman, menodongkan sebuah pistol revolver berkaliber 38 mili yang diarahkan ke John Lennon. Lima kali bunyi letusan tembakan terdengar pada malam itu. Timah panas melukai punggung, dada, dan pundak John Lennon.

Mantan personel The Beatles itu segera dilarikan ke rumah sakit karena mengalami pendarahan yang parah. Namun sayang, setelah dokter di ruang gawat darurat beberapa menit berusaha menyelamatkan musisi legendaris itu, nyawa Lennon tak tertolong.

Sang istri histeris menerima kenyataan suami tercintanya tewas. Tak hanya Ono, dunia pun berduka atas meninggalnya John Lennon.

Berita kematian John Lennon segera disiarkan di seluruh berita televisi Amerika Serikat. Howard Cosell dari ABC, jadi pembawa berita pertama yang menyampaikan kabar duka bahwa John Lennon telah meninggal.

Selama beberapa hari sesudah peristiwa penembakan tersebut, ribuan penggemar John Lennon berkumpul di dekat gedung apartemen The Dakota untuk menunjukkan rasa berdukanya. Publik AS menyatakan bahwa pembunuhan Lennon dicatat sebagai pembunuhan terbesar sejak pembunuhan Presiden John F. Kennedy.

Untuk mengenang John Lennon, sebuah area dibangun dan diberi nama ‘Strawberry Fields’. Strawberry Fields dibangun di dekat apartemen The Dakota, tempat tinggal sekaligus tempat terbunuhnya John Lennon.

Ladang Strawberry Fields ditanami dengan pohon elm yang tinggi, semak, bunga-bunga, dan bebatuan. Area ini juga ditetapkan sebagai zona tenang di Central Park. Selain itu terdapat sebuah mozaik yang bertuliskan ‘Imagine’, lagu populer yang dinyanyikan oleh Lennon.

Imagine adalah lagu yang menyampaikan harapan agar dunia terhindar dari kekerasan, konflik, dan perang. Orang-orang juga mengampanyekan Strawberry Fields sebagai ‘taman perdamaian’.

Termotivasi sebuah novel

John Lennon.

Dalam keterangannya, sang eksekutor Mark David Chapman menceritakan alasan mengapa ia akhirnya menembak Lennon. Ia menembak mantan anggota The Beatles tersebut karena ingin “mencuri” ketenaran John Lennon.

Dia juga mengungkapkan bahwa merencanakan pembunuhan tersebut selama tiga bulan dan mempertimbangkan untuk membunuh publik figur lain seperti Johnny Carson, Jackie Onassis, Paul McCartney, Elizabeth Taylor, George C. Scott, dan Ronald Reagan, para publik figur yang Chapman nilai sebagai orang yang palsu.

Sebelum melakukan aksinya, Chapman bahkan sempat membeli sebuah novel berjudul ‘The Catcher in the Rye’ dari toko buku di New York. “Ini adalah pernyataan saya” pada tulisan ‘Holden Caulfield’, karakter protagonis dalam novel tersebut. Setelah membeli novel, Chapman kemudian menghabiskan waktunya di sekitar pintu masuk gedung apartemen The Dakota, area tersebut juga terkenal sebagai tempat Lennon meladeni penggemarnya.

Setelah berhasil membunuh John Lennon, Chapman tidak langsung kabur melarikan diri. Ia bahkan tetap berada di tempat kejadian sampai polisi menangkapnya. Chapman juga mengakui kejahatan yang telah dilakukannya kepada majelis hakim dan menerima hukuman 20 tahun penjara atau selama sisa hidupnya.

The Catcher in Rye disebut sebagai sebuah novel yang menginspirasi Chapman untuk membunuh Lennon. Bahkan Holden Caulfield, karakter favorit Chapman, adalah seseorang yang mencintai anak-anak.

Caulfield juga menganggap dunia orang dewasa buruk dan menyedihkan. Mimpinya, yang ia sampaikan kepada adik perempuannya, Phoebe, adalah menjadi “penangkap di ladang” yang menyelamatkan anak-anak agar tidak jatuh dari “tebing gila.” Jatuh dari tebing tampaknya melambangkan jatuh ke dunia orang dewasa, yang penuh dengan kepalsuan dan kotor. Karena itu, Caulfield berusaha melarikan diri dari dunia orang dewasa.

Chapman begitu menyukai karakter Holden Caulfield hingga ingin mengubah namanya menjadi Holden Caulfield. Suatu hari ia melihat foto John Lennon dan berkata “Kau palsu. aku berdoa agar iblis merasukiku dan memberiku kekuatan untuk menarik pelatuk pistol”.

Setelah menembak Lennon, ia berencana untuk memegang novel tersebut sambil berteriak “Aku adalah Holden Caulfield generasi sekarang” namun ia terkejut setelah membunuh Lennon, ia tidak berubah menjadi Holden Caulfield. Sadar bahwa dirinya tidak berubah menjad Caulfield, akhirnya niat Chapman berubah untuk mempopulerkan novel tersebut.

“Orang-orang akan membaca novel ini dengan pertolongan media yang maha kuasa,” ujarnya kepada pengacara, dikutip dari Ruther Ford.

Mark David Chapman Saat Ini

Mark David Chapman and the murder of John Lennon – Film Daily

Saat ini Chapman dipenjara di Attica Correctional Facility di Attica, New York. Ia telah beberapa kali mengajukan bebas bersyarat, namun tidak juga dikabulkan. Terakhir kali ia mengajukan bebas bersyarat pada 2018. Setelah 30 tahun lebih berlalu, Chapman akhirnya menyadari bahwa perbuatan yang telah ia lakukan salah. Chapman selalu teringat wajah ramah Lennon terakhir kali saat ia meminta tanda tangan.

“Aku teringat waktu itu memiliki pikiran ‘Hey, kamu memiliki albumnya sekarang. Lihat, dia (Lennon) telah menandatanganinya, lekas pulang’ namun saat itu aku malah tidak langsung pulang,” jelas Chapman saat sidang pengajuan bebas bersyarat, dilansir dari Rolling Stone, Minggu 8 Desember 2019.

Kini Chapman menyebut sang pembunuh, yang mana adalah dirinya sendiri, adalah orang yang tak berperasaan, hanya membuat kebusukan, dan merasa tidak ada niat buruk pribadi terhadap John Lennon. Chapman usia 25 tahun begitu niat membunuh Lennon, hingga memilih peluru hollow point bullet, yang efeknya lebih mematikan dari pada peluru biasa.

“Aku amankan peluru-peluru tersebut untuk memastikan dia akan mati. Setelah kejadian aku juga pastikan dia tidak menderita,” jelas Chapman, seperti yang dilaporkan AP.

Chapman akan kembali mengajukan bebas bersyarat pada Agustus 2020. Itu artinya ia mengajukan bebas besyarat untuk yang kesebelas kalinya.

Chapman sendiri sebenarnya sangat menyukai The Beatles dan Lennon. Namun, sebagai pria yang tumbuh di tengah keluarga berlatar belakang agama kuat, Chapman murka ketika mendengar Lennon menyampaikan pernyataan terkenalnya bahwa, “The Beatles lebih populer dari Yesus.”

Tak hanya itu, Chapman juga tak suka dengan gaya hidup dan kemunafikan Lennon. Istri Chapman, Gloria Abe, mengatakan bahwa Chapman kerap kali mengomentari gaya hidup mewah Lennon.

Namun dalam lagunya, Imagine, Lennon seolah ingin mengajak pendengar untuk, “membayangkan betapa damai dunia jika tidak ada kepemilikan.”

“Dia bilang kepada kita untuk membayangkan tidak ada kepemilikan dan dia di sana, dengan jutaan dolar dan yacht, dan perkebunan, tertawa ke arah orang-orang seperti saya yang sempat mempercayai kebohongannya itu dan membeli rekamannya dan hidup dengan musiknya,” kata Chapman seperti tertera dalam buku March 4th, 1966: The Beginning of the End for John Lennon?.

Merujuk pada keterangan di buku lainnya, Let Me Take You Down: Inside the Mind of Mark David Chapman, the Man Who Killed John Lennon, Chapman disebut terus mendengarkan karya Lennon menjelang aksi penembakannya.

Sembari mendengarkan lagu-lagu Lennon, Chapman selalu memikirkan “kemunafikan” sang musisi yang selalu mengklaim bahwa ia tak percaya Tuhan dan The Beatles.

“Di satu titik, pikiran saya diliputi kegelapan karena amarah dan benci. Saya beli buku Lennon dan membawanya ke rumah, di mana ada buku The Catcher into the Rye yang menanamkan pola pikir Holden Caulfield dan anti-kepalsuannya,” kata Chapman.