Sebagian orang mengenalnya sebagai pelopor seksualitas perempuan; bagi yang lain, dia hanyalah seorang perempuan kaya raya dengan koneksi yang berpengaruh.

Faktanya adalah Marie Bonaparte (1882-1962) – keponakan dari mantan Kaisar Perancis Napoleon l dan bibi Pangeran Philip, Duke of Edinburgh – tidak melewati sejarah tanpa disadari.

Marie Bonaparte adalah cicit Kaisar Napoleon I dari Perancis. Dia adalah satu-satunya anak Pangeran Roland Bonaparte (19 Mei 1858 – 14 April 1924) dan Marie-Félix Blanc (1859–1882). Kakek dari pihak ayahnya adalah Pangeran Pierre Napoleon Bonaparte, putra dari Lucien Bonaparte, Pangeran Canino dan Musignano Pertama, adik laki-laki Napoleon yang menjadi pemberontak.

Oleh karena itu, terlepas dari gelarnya, Marie bukan anggota cabang wangsa Bonaparte yang mengklaim takhta kekaisaran Prancis dari tempat pengasingan. Sedangkan kakek dari pihak ibunya adalah François Blanc, seorang pengembang lahan yasan utama di Monte Carlo. Dari pihak kakek ibunya inilah Marie mewarisi kekayaan yang sangat besar.

Marie Bonaparte adalah seorang putri, namun minat utamanya dalam hidup adalah orgasme dan psikoanalisis perempuan Maka dia menjadi murid, dan ada masanya dia menyelamatkan figur psikoanalisis Sigmund Freud.

Namun di atas semua hal, Bonaparte adalah seorang “perempuan bebas”. Menurut para penulis biografinya, dia adalah karakter yang menarik, yang menonjol di lingkungan ilmiah atau di dunia bangsawan dan yang selamanya mencari jawaban tentang kenikmatan seksual perempuan.

Sang putri

Orgasme perempuan: Siapa Putri Marie Bonaparte, putri yang mempelopori  studi seksual di abad ke-20 - BBC News Indonesia

Marie Bonaparte lahir di Paris, dalam keluarga yang terkenal dan kaya raya. Dia adalah putri dari Marie-Felix dan Pangeran Roland Napoleon Bonaparte dari Perancis.

Neneknya adalah pengusaha dan pendiri Casino Monte Carlo, Francois Blanc, terkenal karena kekayaannya yang luar biasa.

Namun kehidupannya dilingkupi tragedi sejak awal mula hidupnya: dia hampir meninggal ketika dilahirkan dan ibunya meninggal sebulan setelah dia lahir.

Tanpa ada anak lain di sekitarnya, dia sangat mencintai ayahnya – antropolog dan ahli geografi – dan takut pada nenek dari pihak ayah.

Dia memiliki rasa ingin tahun sejak awal: tentang sains, sastra, tulisan… dan juga tentang tubuhnya sendiri.

Suatu hari, “Mimau”, salah satu dari banyak perempuan yang merawatnya, menemukan Marie sedang masturbasi.

“Itu dosa! Itu kejahatan! Jika kamu melakukan itu kamu akan mati!” katanya, seperti yang dicatat Marie sendiri dalam buku hariannya pada tahun 1952.

“Bonaparte mengklaim bahwa dia menghentikan masturbasi klitoris sekitar usia delapan atau sembilan tahun karena takut peringatan Mimau bahwa kematian adalah harga yang harus dibayar dari kesenangan erotis,” tulis Nellie Thompson dalam esainya The Theory of Female Sexuality of Marie Bonaparte: Fantasy and Biology.

Sejak usia muda, dia pemberontak dan tidak menerima gagasan kepatuhan yang diwajibkan pada perempuan.

Di masa remaja, dia mempelajari berbagai bahasa – terutama Inggris dan Jerman – namun nenek dan ayahnya tiba-tiba melarangnya untuk belajar bahasa asing.

“Dia dan Roland mengklaim bahwa musuh Partai Republik dari Bonapartes dapat menyabotase ujian sebagai upaya mempermalukan keluarga,” kata Thompson, mengutip dari buku harian Marie.

Hal ini mendorong Marie untuk berseru, “Sialan nama saya, nilai saya, keberuntungan saya! Sial, terutama jenis kelamin saya! Karena Jika saya laki-laki, mereka tidak akan menghentikan saya untuk berusaha!,” menurut Thompson.

Sebelum menginjak usia 20 tahun, di tengah kebangkitan seksualnya, Marie Bonaparte berselingkuh dengan pria yang sudah menikah, salah satu asisten ayahnya.

Semuanya berakhir dengan skandal, pemerasan dan penghinaan untuknya.

Ayahnya memutuskan untuk memperkenalkan Marie kepada pria yang dia inginkan sebagai menantu, Pangeran George dari Yunani dan Denmark (1869-1957), yang 13 tahun lebih tua darinya.

Marie setuju, dan mereka menikah pada 12 Desember 1907 di Athena. Mereka memiliki dua anak, Putri Eugénie dan Pangeran Peter, tetapi hubungan mereka tidak bahagia.

Meskipun pernikahan itu berlangsung selama 50 tahun, Marie segera menyadari ikatan emosional suaminya yang sebenarnya adalah dengan pamannya, Pangeran Valdemar dari Denmark.

Marie – yang kemudian memutuskan mencari kekasihnya sendiri – menemukan penghiburan dari kehidupannya yang bermasalah dalam studinya.

Eksplorasi seksualitas perempuan

5 Jenis Orgasme Wanita yang Perlu Diketahui - berita-sulsel.com

Kelaparan intelektual Marie dan kebutuhan untuk memahami sifat seksualitas dan kesenangan perempuan menjadi dorongannya.

Pada tahun 1924 ia menerbitkan esai “Catatan tentang penyebab anatomi frigiditas pada wanita” dengan nama samaran A.E. Narjani.

“Dia sangat frustasi dengan kenyataan bahwa dia tak pernah mengalami orgasme ketika melakukan hubungan seksual,” ujar Kim Wallen, profesor neuroendokrinologi perilaku di Emory University, Georgia, AS.

“Dia tidak menerima keyakinan bahwa perempuan hanya bisa orgasme dengan stimulasi klitoris langsung,” kata Prof Wallen kepada BBC.

Marie berpikir bahwa jika seorang perempuan tidak bisa mencapai orgasme saat hubungan seksual, ini akan menimbulkan masalah anatomi.

Dia kemudian mengembangkan sebuah teori: semakin pendek jarak antara klitoris perempuan dan vaginanya, semakin besar peluangnya untuk mengalami orgasme selama seks penetrasi.

Untuk mempertahankan tesisnya, dia melakukan survei terhadap lebih dari 240 perempuan di Paris tahun 1920-an.

Menurut publikasinya, “data tidak dikumpulkan secara sistematis, tetapi [dikumpulkan] ketika seorang perempuan pergi ke dokternya” kata Prof Wallen, yang telah mempelajari karya Bonaparte bersama dengan Dr Elisabeth Lloyd.

Menurut para ahli, “Dia membagi sampel menjadi tiga kelompok, tergantung jarak antara meatus [lubang vagina] dan klitoris, meskipun tidak ada penjelasan bagaimana pembagian ini ditentukan.”

“Bonaparte memiliki hipotesis yang menarik. Dia memelopori teori ini bahwa perempuan dibuat secara berbeda, dan itulah mengapa mereka mengalami reaksi yang berbeda selama hubungan seksual,” kata Dr Lloyd kepada BBC.

Tetapi teorinya “menempatkan semua penekanan pada anatomi perempuan, mengesampingkan aspek lain seperti kematangan psikologis – atau jika perempuan tersebut terpenuhi dengan hidupnya, neurotik atau tak memiliki nafsu seksual, menggunakan istilah negatif yang diterapkan pada perempuan pada waktu itu,” kata sang spesialis.

Teori ini membuat Marie Bonaparte yakin bahwa jika perempuan menjalani operasi yang membuat klitorisnya lebih dekat dengan vagina, maka mereka bisa mengalami orgasme ketika melakukan hubungan seksual.

Sayangnya, dia salah.

“Operasi itu adalah bencana. Beberapa perempuan kehilangan semua sensasi. Tetapi Marie Bonaparte sangat percaya pada temuannya, dia menjalani operasi sendiri, tetapi tidak berhasil,” jelas Prof Wallen.

Tak puas, dia tidak hanya menjalaninya sekali, tapi tiga kali.

“Ketika Anda memotong banyak syaraf di sekitar klitoris, Anda tidak akan mendapat repons sensor lebih besar, namun justru kebalikannya, karena Anda memotong syaraf yang paling penting,” jelas Dr Lloyd, yang menjadi profesor Sejarah dan Filsafat Ilmu di departemen Biologi di Universitas Indiana.

“Dia percaya bahwa operasi adalah satu-satunya cara bagi perempuan untuk mengalami orgasme saat berhubungan,” tambahnya.

Berteman dekat dengan Sigmund Freud

Black and white portrait of Marie Bonaparte

Meski begitu, Marie Bonaparte tak menyerah. Dia melanjutkan penelitiannya untuk mencari jawaban tentang frustasi seksual dan kesulitan yang dia alami dalam hidup.

Pada 1025, dia pergi ke Wina, Austria, untuk berkonsultasi dengan ahli psikoanalis baru yang menjadi pembicaraan di kalangan medis Paris: Sigmund Freud.

“Dari Freud, dia menemukan apa yang sangat dia butuhkan, ‘ayah’ baru untuk dicintai dan dilayani,” kata Thompson dalam esainya

Marie Bonaparte menjadi pasiennya, namun tak lama kemudian keduanya berteman dan ketika ketertarikannya akan psikoanalisis lambat laun tumbuh, perempuan itu menjadi muridnya.

“Dia adalah salah satu perempuan pertama di Perancis yang mempelajari psikonalisis bersama Freud,” ujar Rémy Amouroux, seorang profesor psikologi University of Lausanne di Swiss, kepada BBC.

“Freud menikmati kebersamaannya karena dia bukan ‘perempuan berbahaya’ atau akademisi. Saat mereka bertemu, Freud hampir berusia 70 tahun. Dan dia adalah perempuan yang menarik, cerdas, dan kaya yang berdebat dengannya,” tambah Prof Amouroux.

Marie Bonaparte menjadi tokoh psikonalisis terkemuka di Paris.

Dan dalam sebuah putaran nasib, dia menyelamatkan hidup Freud ketika Austria diduduki oleh Nazi Jerman.

Menggunakan kekayaan dan pengaruhnya, Marie mengatur agar Freud dan keluarganya melarikan diri dari Wina ke London, tempat dia mengakhiri hari-harinya.

“Pada usia 82 tahun, saya meninggalkan rumah saya di Wina sebagai akibat dari invasi Jerman dan datang ke Inggris, di mana saya berharap untuk mengakhiri hidup saya dalam kebebasan,” kata Freud kepada BBC dalam wawancara tahun 1938.

Kematangan profesional akhirnya membuat Marie Bonaparte membantah teorinya tentang seksualitas perempuan.

“Marie Bonaparte sepenuhnya menolak ide aslinya,” kata Prof Wallen.

“Dia menerbitkan sebuah buku baru pada tahun 1950 berjudul ‘Female Sexuality’, di mana dia menarik kembali segala sesuatu tentang studi awalnya,” tambah ahli tersebut.

“Di sana dia menyatakan bahwa anatomi tidak ada hubungannya dengan itu, dan semuanya psikologis. Saat itu, dia sudah hampir 25 tahun berkecimpung di dunia psikoanalisis,” kata Prof Wallen.

Terlepas dari perubahan pandangan ini, “Saya masih menganggap penelitian aslinya luar biasa,” kata Prof Wallen, yang percaya Bonaparte adalah seorang perempuan revolusioner.

Bagi Profesor Dr Llyod, Marie Bonaparte adalah “tokoh yang menarik. Dia adalah salah satu pahlawan perempuan saya, meskipun dia juga merupakan karakter yang tragis”.

Ketika berbicara tentang seksualiats perempuan, “dia selalu lebih unggul dari zamannya dalam hal pengetahuan dan pemahaman,” ujar Dr Lloyd, meskipun pada kenyataannya dia sangat tak bahagia dengan tubuhnya sendiri.”

Prof Amouroux, yang menghabiskan beberapa tahun untuk membuat katalog arsip Marie Bonaparte di Paris, berpendapat, “dia adalah perempuan yang luar biasa”, memiliki koneksi yang kuat dengan lingkaran sastra, politik dan bangsawan di zamannya – dia tahu semua orang terkenal di awal abad ke-20.

“Dia figur yang sangat menarik bagi gerakan feminisme juga,” ujarnya.

Marie Bonaparte akhirnya berkesimpulan bahwa “caranya melihat seksualitas sangat patriarkal, karena dia sebelumnya diyakinkan bahwa hanya ada satu cara untuk mengalami orgasme,” ujar Amouroux.

“Namun pada saat yang sama, dia sangat berpikiran bebas – dia adalah perempuan kompleks yang berani menantang Freud.

Studi Orgasme pada Perempuan

Wanita Orgasme Lebih dari Satu Kali, Normalkah?

Sebuah studi terbaru yang terbit dalam Journal of Sexual Medicine pada Februari lalu berhasil mengungkap berapa lama waktu yang diperlukan oleh perempuan untuk mencapai orgasme saat bercinta.

Studi yang digelar selama 8 pekan dan melibatkan 645 perempuan dari 20 negara itu menemukan bahwa perempuan rata-rata butuh waktu 13 menit 46 detik untuk mencapai orgasme saat berhubungan seks.

Dalam studi itu para sukarelawan diminta untuk memasang stopwatch setiap kali mereka berhubungan seksual. Penting dicatat, para sukarelawan dalam studi itu hanya perempuan heteroseksual yang memiliki satu pasangan (monogami). Rata-rata usia mereka 30 tahun.

Selain jumlah waktu yang tepat, studi itu juga mengungkap beberapa hal menarik. Salah satunya adalah penetrasi rupanya bukan cara terbaik agar perempuan mencapai orgasme. Hanya 31,4 persen perempuan yang mencapai orgasme dengan gaya seks tersebut.

Sebanyak 68,6 persen responden dalam studi itu mengaku sentuhan intim lain agar mencapai orgasme, semisal ciuman dan sentuhan pada bagian tubuh tertentu.

Tidak berhenti di situ. Para peneliti dalam studi tersebut juga menemukan bahwa woman on top adalah gaya seks yang paling optimal agar perempuan mencapai orgasme. Sebanyak 42,2 persen sukarelawan dalam studi ini mengaku mencapai kepuasan ketika memeragakan gaya ini.

Uniknya, status hubungan rupanya tidak penting untuk mencapai orgasme. Sukarelawan yang menikah dan tidak menikah sama-sama butuh waktu sekitar 13 menit 46 detik agar bisa mencapai orgasme.

Orgasme, merupakan puncak kepuasan saat berhubungan seksual. Tapi masing-masing antara laki-laki dan perempuan mempunyai waktu orgasme yang berbeda.

Berapa sebetulnya waktu yang dibutuhkan perempuan untuk mencapai orgasme?

Studi terbaru yang dipublikasikan di Journal of Sexual Medicine meneliti rentang waktu yang diperlukan perempuan untuk mencapai klimaks saat berhubungan seks atau orgasme.

Sepanjang delapan pekan, para peneliti menganalisis 645 perempuan saat berhubungan seksual. Mereka rata-rata berusia 30 tahun. Setiap perempuan diminta menggunakan stopwatch untuk mengukur waktu yang dibutuhkan saat aktivitas seksual dimulai hingga orgasme.

Hasilnya, dikutip Edisi Bonanza88 dari Metro.co.uk, waktu yang dibutuhkan seorang perempuan mencapai orgasme berkisar 12,76 menit hingga 14,06 menit. Sementara rata-rata waktu sekitar 13,46 menit. Karena itu Anda tidak bisa berharap, ‘ledakan’ akan terjadi pada 10 menit pertama.

Meski begitu 17 persen dari total perempuan yang dianalisis atau sekitar 110 orang, tidak pernah mengalami orgasme.

Orgasme pada perempuan merupakan perasaan intens dan menyenangkan ketika sampai pada puncak hubungan seksual. Dikutip dari NHS, kondisi ini lazim ditandai kontraksi pada otot genital. Sementara pada sebagian kecil perempuan dibarengi dengan keluarnya cairan jernih.

Temuan menarik lainnya, penetrasi yang lama bukan langkah efektif untuk mencapai orgasme. Hanya 31,4 persen perempuan yang orgasme karena penetrasi seksual.

Aktivitas seks seperti stimulasi oral jauh lebih efektif membuat perempuan orgasme. Stimulasi pada klitoris lebih ampuh membuat perempuan orgasme. Penggunaan alat bantu seks juga bisa digunakan untuk mencapai klimaks.

Hal lain, peneliti juga mendapati posisi seks saat perempuan berada di atas atau woman on top juga efektif mencapai orgasme. Menggunakan kaus kaki, juga memengaruhi orgasme lantaran memberikan rasa hangat dan nyaman.

Kesimpulan penelitian ini menyarankan agar setiap pasangan melakukan aktivitas seksual yang beragam dengan sabar, karena tak ada yang dapat dicapai dengan cara instan.

Orgasme bukan perkara sederhana, sehingga perlu bersabar dan menikmati setiap proses.