Perempuan dianggap tidak memiliki dorongan seksual sebesar laki-laki. Faktanya, anggapan ini keliru sebab banyak pula perempuan yang mengidap hiperseksualitas, yang bahkan membuat seorang laki-laki bisa kewalahan.

Hiperseksualitas yang dialami perempuan biasa dikenal dengan nama Nymphomania. Kondisi ini sering disebut sebagai salah satu gangguan mental dimana seorang perempuan memiliki gairah seksual dalam batas yang tidak wajar. Dalam psikologi, suatu masalah bisa dianggap tidak wajar apabila masalah tersebut sudah mengganggu tindakan dan aktifitas sehari-hari, atau mampu membawa pengaruh buruk pada kehidupan.

Kondisi Nymphomania ditandai dengan perilaku seks yang kompulsif, di mana seseorang menginginkan dan melakukan seks tanpa dapat mengendalikan diri. Seringkali hal ini juga menyebabkan individu Nymphomania justru tidak mendapat kenikmatan apa-apa ketika melakukan seks, meskipun selalu terdorong untuk melakukannya. Karena tidak mampu mengendalikan diri, pelaku nymphomania sering melakukan aktifitas seksual yang berisiko dan membahayakan.

Data yang dihimpun Edisi Bonanza88, seorang Nymphomania akan mengabaikan risiko-risiko dari aktifitas seksual seperti risiko penyebaran penyakit, kehamilan tak diinginkan, atau bahkan pelanggaran norma. Seorang Nymphomania bisa saja melakukan aktifitas seksual di depan umum karena tidak dapat menahan hasratnya. Atau bisa saja melakukan aktifitas seksual bersama banyak orang sekaligus tanpa menggunakan alat kontrasepsi.

Meskipun banyak kasus yang telah membuktikan perilaku ini mengganggu, tetapi dalam komunitas psikologi masih terjadi perdebatan sengit. Menurut sejumlah psikolog, nymphomania tidak dapat diklasifiksikan sebagai gangguan atau penyakit mental. Hal ini disebabkan sulitnya membedakan nymphomania dengan adiksi seks pada umumnya. Karena belum ada batasan jelas, hingga 2019 psikolog baru menyatakan nymphomania sebagai gangguan mental yang tidak resmi.

Kategori Nymphomania juga memiliki masalahnya sendiri. Adiksi seks seringkali digunakan sebagai alasan bagi pasangan untuk selingkuh, atau bahkan alasan bagi seorang pelaku kekerasan seksual untuk lepas dari jerat hukum. Selain itu, istilah Nymphomania juga berakar dari sejarah masyarakat yang ingin mengendalikan ekspresi seksual perempuan.

Peri Hutan Penggoda Laki-laki

Hiperseks pada wanita bisa dikenali dengan perilaku berikut ini, catat! | theAsianparent Indonesia

Istilah Nymphomania sendiri berasal dari legenda Yunani Kuno. Masyarakat Yunani Kuno mengenal sosok Nymph, jelmaan perempuan yang memiliki kedekatan dengan alam sekitar. Nymph sering dikisahkan sebagai sosok penjaga alam yang menempati pepohonan, taman bunga, danau, atau bahkan gunung dan laut. Makhluk kayangan ini seringkali menjadi ibu dari pahlawan-pahlawan legenda Yunani. Hal ini sesuai dengan karakternya yang memang sering digambarkan cantik dan suka menggoda.

Kecantikan Nymph ini juga memiliki fungsi lain. Melalui kecantikannya, Nymph bisa menggoda para manusia pengganggu habitat hingga mereka gila. Karena karakteristik alamiah ini yang menjadi inspirasi penamaan Nymphomania sebagai gejala perilaku seksual yang menyimpang.

Sebenarnya istilah Nymphomania baru digunakan pada abad 18, namun penggunaannya dalam bidang psikiatri baru ditemui satu abad setelahnya. Penggunaan istilah Nymphomania pada abad ini masih dihantui beragam masalah, terutama dari sudut pandang ketimpangan gender.

Nymphomania pada abad 19 seringkali hanya digunakan untuk memberikan cap pada perempuan yang mudah mengekspresikan seksualitasnya. Seksualitas perempuan pada abad pertengahan bahkan memicu mitos-mitos yang tidak masuk akal. Salah satunya adalah mitos bahwa penyakit seksual klamidia disebabkan oleh vagina perempuan yang aktif secara seksual.

Sedangkan untuk istilah Nymphomania memiliki masalah karena hanya diterapkan kepada para perempuan. Padahal hiperseksualitas juga menjangkit laki-laki, dan bahkan memiliki namanya sendiri. Hiperseksualitas yang dialami laki-laki dinamakan Satyriasis.

Satyriasis dan Nymphomania tidak berbeda jauh. Keduanya diambil dari istilah karakter mitologi Yunani Kuno, dan menjelaskan perilaku seksual tidak wajar dengan gejala-gejala yang sama persis. Pada abad 19, gejala hiperseksualitas salah satunya adalah aktifitas masturbasi.

Anehnya, laki-laki yang melakukan masturbasi jarang kali dicap mengidap Satyriasis. Ekspresi seksual laki-laki seringkali dianggap wajar, meskipun jika sudah melewati batas. Hal ini juga biasa didukung dengan mitos bahwa laki-laki memiliki gairah seksual yang lebih besar.

Akibat dari pengecapan sebelah pihak ini, hasrat seksual perempuan seringkali diabaikan. Bukan hanya diabaikan, hasrat seksual perempuan bahkan dianggap sebagai ancaman bagi laki-laki. Hal ini terlihat misalnya dari perntataan seksolog Jerman, Richard Freiherr von Krafft-Ebbing. Pada 1886, Richard menulis, “waspadalah para laki-laki yang jatuh pada Messalina, yang hasrat seksualnya tidak dapat dipuaskan”.

Pernyataan Richard menciptakan kekhawatiran tidak masuk akal di kalangan psikiatri dan psikolog. Akibat dari pernyataan itu adalah munculnya beragam jenis terapi dan metode untuk menyembuhkan nymphomania. Teknik-teknik penyembuhannya juga dapat dibilang tidak humansi seperti, pemotongan klitoris, pengangkatan rahim, terapi lintah pada vagina, dan bahkan rawat inap bagi perempuan yang diduga terjangkit Nymphomania.

Psikiater lain menggunakan pendekatan yang lebih manusiawi, seperti pendekatan ala dokter Thephilus Parvin. Theophilus menyarankan perempuan untuk melakukan olahraga secara rutin dan menerapkan diet vegetarian. Anehnya, Theophilus juga menyarankan perempuan untuk menggunakan kokain pada vagina mereka. Pada abad itu, kokain memang merupakan obat penenang biasa dan tidak masuk dalam kategori narkotika.

Cara lain yang tidak kalah absurd adalah dengan melumuri vagina menggunakan boraks. Dalam beberapa kasus, cara-cara ini terbukti menghilangkan hasrat seksual perempuan. Salah satunya seperti kasis Horatio Storer, yang tidak lagi merasa memiliki dorongan seksual berlebihan.

Mungkin kasus Nymphomania yang paling fenomenal pada abad 19 adalah kasus T, seorang gadis berusia 29 yang tinggal di Massachussets. Ia didiagnosa mengidap Nymphomania setelah dokter menjalankan serangkaian tes aneh. Seperti tes diagnosa pada umumnya, dokter memulai dengan wawancara. Sang pasien awalnya hanya mengeluh kecapekan hingga seringkali tubuhnya bergerak tak terduga.

Keluhan itu malah direspons dokter dengan menerapkan pengecekan vagina. Dari pengecekan tersebut dokter menemukan bahwa uterus pasien T membesar dan vaginanya melembab. Hasil diagnosa itu dipelajari selama beberapa minggu hingga akhirnya diumumkan ke pasien. Ketika diumumkan, pasien T sebenarnya sudah merasa tidak ada masalah ataupun tidak ada gejala yang muncul.

Pada masa itu, dunia kedokteran memang menganggap vagina perempuan bisa membawa penyakit fisik dan mental. Anggapan yang sama tidak berlaku pada laki-laki. Anggapan ini berasal dari keyakinan bahwa rahim perempuan membentuk dan menentukan sifat hingga karakteristik si perempuan. Akibatnya, banyak dokter yang sering menduga apapun masalah kesehatan yang dialami seorang perempuan, harus terlebih dahulu diketahui dari kondisi rahimnya.

Suka Seks atau Sakit Jiwa?

7 Fakta-Fakta Tentang Nymphomaniac, Termasuk Hiperseksual!

Kasus-kasus ini kemudian lebih banyak dicatat dan diteliti oleh dokter-dokter laki-laki . Dokter-dokter ini seringkali menempatkan perempuan yang mampu mengekspresikan gairah seksualnya sebagai pengidap gangguan jiwa.

Kesalahpahaman bahwa gairah seksual perempuan berhubungan langsung dengan kondisi mentalnya kemudian berlanjut pada era Victoria. Di era ini, masyarakat mulai menganggap bahwa pengendalian diri dan kesederhanaan menjadi norma utama untuk menciptakan hidup yang sehat. Ini semakin memperparah kondisi perempuan yang kemudian semakin ditekan dan tidak diperbolehkan menunjukkan ekspresi seksual dalam bentuk apapun. Jika ada gairah seksual yang diekspresikan oleh seorang perempuan, maka akan sangat mungkin perempuan tersebut dijebloskan ke rumah sakit jiwa.

Pada abad 19 akhir, nymphomania sudah dianggap sebagai penyakit mental yang berbahaya. Saking berbahayanya, seorang Nymphomania tidak hanya dijebloskan ke rumah sakit jiwa tetapi juga ke industri prostitusi. Orang yang mendapat cap Nymphomania akan mengalami kesulitan di dunia kerja. Di sisi lain, hiperseksualitas laki-laki tidak dianggap bisa membahayakan. Laki-laki yang mengidap satyriasis dianggap bisa melanjutkan hidupnya seperti biasa.

Perjalanan sejarah ini kemudian membentuk norma baru di dunia modern. Bahkan hingga saat ini kita masih dapat menemukan banyak perempuan yang enggan untuk membicarakan pengalaman seksualnya. Norma yang dibentuk melalui kekeliruan penelitian di bidang medis dan mitos yang mengakar dari keyakinan belaka membuat akademisi modern terheran-heran.

Kasus-kasus Nymphomania yang ditemukan para dokter modern pun semakin lama menjadi semakin absurd. Seorang pasien perempuan bisa datang mengeluhkan bahwa dirinya membayangkan seks terus menerus. Pasien-pasien ini menyatakan tidak terkendalinya hasrat ini berasal dari fantasi yang ditawarkan novel dewasa maupun pengalaman-pengalaman sejenis.

Karena kasus yang ditemukan mulai terasa tidak masuk akal, para dokter abad 19 akhir pun mulai sadar bahwa ada yang bermasalah dari konsep hiperseksualitas dalam dunia medis. Beberapa dokter di Boston Gynecological Society pada 1869 misalnya. Mereka menganggap ada masalah yang juga lebih berpengaruh ketimbang bentuk dan karakteristik rahim perempuan. Masalah tersebut adalah struktur sosial. Salah satu dokter misalnya menawarkan solusi bagi pasien yang mengidap Nymphomania dengan cara yang nyeleneh, “jika saja dia diberi kesempatan untuk pergi ke rumah bordil, dan menikmati pelacur sepuasnya, mungkin tidak ada masalah lagi.” Sayangnya pada masa itu perempuan hanya bisa menikmati seks dari suaminya.

Masih Dibahas di Dunia Modern

5 Alasan Wanita Kecanduan Seks - Health Liputan6.com

Pada 1980, Nymphomania, seks oral, mastubasi dan homoseksualitas disingkirkan dari Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM). DSM ini merupakan semacam kamus besar yang digunakan oleh psikiater untuk menentukan diagnosis masalah kejiwaan pasien. Pengangkatan ini berarti, aktifitas-aktifitas seksual tersebut tidak lagi dianggap sebagai penyakit mental.

Hal ini juga merupakan kontribusi dari maraknya gerakan-gerakan pembela kesetaraan gender pada pertengahan abad ke-20. Gerakan seperti pembebasan seksual di Perancis maupun revolusi seksual di Amerika Serikat menyadarkan banyak orang betapa banyak perilaku seksual yang tidak mendapatkan tempat hanya karena alasan-alasan sepele. Generasi yang tumbuh pada masa ini juga mulai mengakui adanya keberagaman ekspresi seksual, mulai dari masturbasi hingga homoseksualitas.

Keadannya kini berbalik. Jika sebelumnya perempuan yang memiliki hasrat seksual tinggi bisa dijebloskan ke rumah sakit jiwa, sekarang justru mereka yang tidak menunjukkan hasrat seksual bisa jadi punya masalah kejiwaan. Salah satu masalah ini dijelaskan dalam DSM sebagai “female sexual arousal disorder” atau jika diterjemahkan berarti gangguan rangsangan seksual perempuan. Masalah ini biasa timbul ketika seorang perempuan tidak merasa bergairah sama sekali meskipun dirangsang oleh lawan mainnya.

Sedangkan bagi orang yang memiliki hasrat seksual berlebihan biasanya dikategorikan sebagai pengidap kecanduan seks. Dalam kategori yang baru ini, justru laki-laki lebih banyak mendapatkan cap sebagai pecandu seks. Namun tentu saja kategori ini memiliki masalahnya sendiri. Akan sangat rumit untuk menentukan seberapa banyak seks yang tidak wajar, atau siapa yang bisa menentukan batas jumlah seseorang melakukan seks dalam sehari.

Karena memiliki batasan yang ambigu, kategori ini seringkali digunakan untuk menutupi kasus dan skandal. Kita bisa melihat kasus skandal Bill Clinton misalnya. Pada masa Ia menjabat sebagai presiden, popularitas Bill jatuh setelah dilaporkan memiliki skandal dengan asisten pribadinya. Awalnya Bill dan kuasa hukumnya menyanggah, namun bukti-bukti yang ditemukan para jurnalis lebih kuat dari sanggahannya. Ketika sudah tidak bisa lagi mengelak, Bill membawa pernyataan diagnosis dokter yang membuktikan bahwa Ia seorang pecandu seks. Strategi ini tentu saja meringankan posisinya. Ia tidak bisa lagi dianggap bersalah. Masyarakat kemudian menganggap Bill tidak bisa mengendalikan diri akibat kondisi medis.

Penyangkalan yang sama juga diterapkan oleh Bill lainnya, yaitu Bill Cosby. Komedian ini dijerat hukuman karena telah membius dan memerkosa sejumlah perempuan sejak era 70an. Ketika di pengadilan, Ia dan kuasa hukumnya menyatakan pembelaan bahwa tindakannya itu disebabkan oleh kondisi medis bernama somnophilia. Somnophilia merupakan dorongan seksual untuk bersenggama dengan orang yang tertidur. Pembelaan ini langsung disanggah oleh banyak psikolog yang menyatakan bahwa somnophilia tidak diakui sebagai kategori diagnosis di bidang psikologi dan psikiatri.

Page 1 of 6