Sejak dibuat pada tahun 1913, t-shirt atau kaos telah menjadi bahan pakaian dalaman wajib di angkatan laut AS. Dengan desain sederhana, lengan pendek dan kerah lingkar, kaos telah menjadi item yang pasti ada di lemari baju seseorang.

Setelah angkatan laut, tentara AS juga turut menggunakan kaos, begitupun buruh, petani, pekerja tambang dan pekerja lainnya yang juga memandang kaos sebagai kebutuhan sandang yang praktis. Dilansir Edisi Bonanza88, kata “T-shirt” sendiri diresmikan ke dalam kamus Merriam-Webster pada tahun 1920-an.

Dalam sejarah panjangnya, kaos telah berkembang dari pakaian para buruh pekerja hingga menjadi pakaian santai fleksibel yang mudah dijumpai dimana saja. Kaos bisa dengan mudah Anda temukan, mulai dari pasar, butik, hingga shopping mall, juga dengan beragam harga. Untuk semakin mengenal kaos, mari menyimak beberapa tahun penting dari 100 tahun sejarah kaos.

Kaos oblong atau kaos polos yang biasa disebut dengan T-Shirt pada awalnya dikenakan oleh tentara Inggris pada zaman dulu. Kaos oblong biasanya hanya memiliki satu model saja yang hanya menutupi seluruh dada, sebagian lengan dan menutupi perut. Umumnya kaos oblong tidak memiliki saku atau kancing seperti baju kemeja di zaman sekarang.

Sejarah kaos oblong itu sendiri pada awalnya dikenakan para pasukan militer Inggris dan Amerika pada abad 19 sampai awal abad 20. Awal mula kenapa baju tersebut diberi nama T-Shirt karena orang beranggapan baju tersebut membentuk huruf “ T “ sehingga di beri nama T-Shirt.

Bahan yang umum digunakan untuk membuat baju oblong umumnya terbuat dari bahan polyester dan katun ataupun gabungan dari bahan keduanya. Selain digunakan oleh tentara, pada zaman dulu kaos oblong digunakan sebagai kaos dalam yang biasanya dikenakan oleh kalangan pria atau wanita bahkan anak – anak ataupun juga orang tua.

Kaos oblong sangat banyak diminati oleh semua kalangan karena bahan yang mudah menyerap keringat, dan sangat cocok dikenakan ketika udara sedang panas. Bahannya yang sangat nyaman membuat banyak kalangan memilih kaos oblong untuk dikenakan sehari-hari.

Sebelum menjadi fenomena fashion seperti sekarang, kaos oblong atau kaos polos mulai dikenal di seluruh dunia lewat John Wayne, Marlon Brando dan James Dean yang memakai pakaian dalam tersebut untuk pakaian luar dalam film-film mereka.

Dalam A Streetcar Named Desire (1951) Marlon Brando membuat gadis-gadis histeris dengan kaos oblongnya yang sobek dan membiarkan bahunya terbuka. Tenesse William di Broadway adalah orang pertama yang menciptakan kaos oblong dengan memiliki warna yaitu abu – abu karena pada umumnya kaos oblong yang biasa dikenakan yaitu berwarna putih polos tanpa warna ataupun model.

Baju oblong dengan model warna abu – abu ini pertama diperkenalkan oleh James Dean dalam film Rebel Without A Cause pada tahun 1955 yang langsung menjadi trend fenomena fashion dunia.

Beberapa kalangan beranggapan bahwa kaos oblong dinilai tidak sopan dan tidak beretika. Namun gejolak ini hanya keluar dari beberapa masyarakat saja justru dengan adanya kaos oblong dengan berbagai warna menjadi trend dunia karena mereka beranggapan kaos oblong sebagai lambang kebebasan pada anak muda.

Sejarah Kaos Oblong Di Indonesia

Sejarah Kaos Oblong Polos di Dunia dan di Indonesia – Kaos Polos Grades

Masuknya kaos oblong di Indonesia pertama kali dibawakan oleh orang – orang Belanda. Namun pada saat itu hanya kalangan atas saja yang bisa mengenakan kaos oblong ini karena pemerintahan pada zaman dulu masih belum cukup maju dan pada masa itu belum ada perusahaan yang mampu untuk memproduksi kaos oblong sehingga kaos oblong tergolong dalam barang mahal.

Namun tidak selang beberapa lama sekitar tahun 1970 mulailah kaos oblong di kenakan oleh orang Indonesia tetapi belum memiliki model seperti yang dikenakan orang Belanda.

Kaos oblong pertama yang diproduksi oleh orang Indonesia masih berwarna putih dan memiliki bahan halus yang tipis dan baju oblong ini hanya bisa dikenakan oleh kalangan pria saja. Pada masa itu kaos oblong yang cukup terkenal di tahun 70 an yaitu merk cabe rawit, swan, 77, kembang manggis dan masih banyak yang lainnya. Pengaruh budaya rock n roll di Barat, seperti The Rolling Stones, The Beatles, serta film-film James Dean, dan budaya Hollywood juga mempengaruhi populernya kaos oblong di Indonesia. Banyak band rock Indonesia di tahun 70 an mengenakan kaos oblong untuk pentas dan panggung.

Sekitar tahun 1980 kaos oblong ini mulai di kuasai oleh industri garment dan konveksi Indonesia. Ini bisa dibuktikan dengan mulai adanya merk – merk terkenal seperti JOGER di Bali, DAGADU di Yogyakarta dan C59 di Bandung untuk segi kualitaspun sudah cukup memadai mulai dari bahan yang bagus dan berkualitas dan model – model yang sangat beragam mulai dari motif yang cukup kreatif dari tiap modelnya.

Mulai tahun 1990 – an adalah tahun di mana dunia kaos mulai sangat berkembang pesat di Indonesia dapat dibuktikan dengan munculnya perusahaan – perusahaan berskala besar yang sangat antusias untuk menciptakan kaos oblong dengan kualitas baik berikut dengan model – model yang sedang mendunia. Merek merek terkenal tahun 90 an dikuasai oleh garment-garment besar yang memproduksi merek HAMMER, POSHBOY, OSELLA, dan lain-lain yang dijual terutama melalui department store dan mall yang mulai marak pada masa itu.

Di tahun 2000 an industri kaos Indonesia bergeser dari pertokoan di mall ke industri kreatif yang kecil dan unik. Banyak dari kalangan anak muda yang menciptakan karya kaos oblong sendiri dan design sendiri dan menproduksi sendiri. Fenomena itu terus berlanjut sampai kini.

Terbukti dengan adanya distro – distro di setiap sudut kota yang dipenuhi dengan anak muda. Untuk arti dari kata Distro tersendiri yaitu “ Distribution Outlet “ yang memiliki arti toko yang mendistribusikan atau menjual barang – barang unik hasil karya sendiri termasuk kaos oblong.

Tahun 2010 sampai sekarang, fenomena distro semakin berkembang lagi seiring dengan perkembangan internet dan media social. Berjamurnya distro online shop membuat konsumen semakin dimanja dan memiliki banyak pilihan. Adapun, kaos polos yang merupakan bentuk dasar dari perkembangan kaos dari awalnya, masih tetap digunakan sampai sekarang, baik untuk pakaian sehari-hari maupun sebagai media atau kanvas tempat anak muda menumpahkan kreativitas.

Rentang waktu kaos oblong dari waktu ke waktu

History of Tshirt

1913: Ketika kaos pertama kali dibuat

Pekerja Submarine atau kapal selam, dengan medan kerja mereka, menjadikan kaos sebagai seragam kerja agar dapat bekerja dengan aman dan nyaman, ketimbang harus memakai seragam wajib pada tahun itu ataupun baju dengan bahan wol.

1944: Pakaian dalaman sebagai seragam tidak resmi

Desain kaos juga diadopsi sebagai seragam tidak resmi untuk para pekerja dari berbagai bidang, mulai dari mekanik, buruh tambang, hingga pekerja pabrik. Untuk foto diatas merupakan foto pekerja minyak mesin di armada pelayaran AS.

1951: Pertama kali digunakan dalam set film Hollywood

Kaos menjadi semakin terkenal ketika dipakai oleh Marlon Brando dalam film “A Streetcar Named Desire.” Gaya santai dengan kaos digandrungi idola remaja Amerika dan di akhir tahun setelah perilisan film ini, berdasarkan data yang dilansir oleh artikel Los Angeles Magazine tahun 2003, kaos telah terjual hingga 180.000.000 USD.

1955: tren “Recel chic” yang dipopularkan oleh James Dean

Setelah Marlon Brando, aktor hollywood James Dean juga kemudian ikut mempopulerkan tren kaos dalam film “Rebel Without a Cause.”

1950s: Kaos dikembangkan dengan teknik sablon

Di tahun 1950-an, sebuah perusahaan dari Miami Tropix Togs memperoleh ijin ekslusif dari Disney untuk menyablon gambar Mickey Mouse dan karakter lainnya (juga nama-nama seperti Florida resort) untuk mempromosikan pariwisata dan merek Disney. Sejak itu juga, teknik beriklan melalui kaos mulai dikenal.

1960s: kaos fenomenal The rock T

Pada rentang tahun ini, tren kaos berpindah pada kaos dengan gambar-gambar atau artwork sampul album band seperti desain “tongue and lips” dari band The Rolling Stones, atau artwork the prism dari band Pink Floyd. Tidak hanya sampul album, namun juga poster konser dan artwork pendukung yang sering menghiasi konser band Grateful Dead yang dibuat oleh seniman bernama Stanley Mouse. Sejak itu kaos sablonpun semakin berkembang.

1967: maraknya penggunaan kaos dengan sablon ‘selipan’ pesan

Kaos pop art dan politik semakin laris manis ketika seorang bernama Warren Dayton mempelopori pembuatan kaos yang memakai gambar dari Cesár Chavez, patung Liberty, dan ilustrasi komik politik lainnya.

1969: kaos tie-dye

Adalah seorang genius Don Price dari Rit Dye Advertising yang pertama kali memasarkan kaos tie dye, dan membalikkan tren kaos biasa menjadi kaos tie-dye psychedelic. Ratusan kaos tie-dye dibuat dan didistribusikan untuk peserta dan performer di konser Woodstock. Hal ini menempatkan kaos tie-dye dalam the hippie movement sekaligus meningkatkan profit Rit Company pada saat bersamaan.

1977: tren the world hearts t-shirts

Pada tahun 1977, ahensi periklanan Wells Rich Greene mengembangkan kampanye pemasaran untuk negara bagian New York state. Milton Glaser, sang desainer grafis membuat logo dengan tulisan I, simbol hati, dan singkatan nama negara bagian seperti pada gambar diatas. Kaos ini kemudian menjadi terkenal dikalangan turis New York bahkan banyak diadopsi untuk kaos souvenir nama negara bagian lainnya.

2000s: tren internet dan kaos Meme

Kaos “Three Wolf Moon” menjadi tren di Internet karena sebuah review menarik di Amazon, yang kemudian memancing berbagai komentar jenaka.  Sejak itu penjualan kaos dari The Mountain T-shirt company inipun semakin meningkat.

2012: kaos canggih dengan LCD Screen

tshirtOS yang digadang-gadangkan sebagai the world’s first programmable T-shirt adalah hasil kolaborasi Ballantine’s dan perusahaan teknologi CuteCircuit. Walaupun masih dalam mode prototype namun desain ini dicanangkan akan memiliki LCD screen yang dapat menampilkan status Facebook, tweet, bahan foto-foto Instagram.

Peran Marlon Brando

Marlon Brando White T Shirt Classic 24x36 Poster at Amazon's Entertainment  Collectibles Store

Pada tahun 1947 kaos oblong atau T-shirt mulai di populerkan oleh Marlon Brando, dia adalah salah seorang aktor kelahiran 3 April 1924 berkebangsaan Amerika Serikat yang meraih penghargaan bergengsi yakni menjadi nominasi aktor terbaik.

Pada awalnya Marlon Brando memakai pakaian kaos oblong atau T-shirt dalam pertunjukan acara teater. Dalam memerankan perannya, pakaian kaos oblong atau T-shirt ternyata sangat sesuai dengan peran yang sedang di perankannya Marlon Brando.

Tidak heran ketika memerankan peran tersebut penonton berdecak kagum dan terpukau. Namun demikian, meski ada beberpa penonton pada saat itu yang protes, yang kemudian memiliki anggapan bahwa memakai kaos oblong atau T-shirt sebagai bentuk pemberontakan. Semenjak terjadinya polemik yang muncul menjadikan pakaian kaos oblong  atau T-shirt menjadi perbincangan di kalangan masyarakat pada masa itu.

Polemik yang terjadi pada tahun 1947, mejadikan pro dan kontra mengenai pakaian kaos oblong atau T-shirt. Bagi masyarakat yang kontra, beranggapan bahwa memakai pakaian kaos oblong atau T-shirt ialah tidak sopan dan tidak beretika.

Namun bagi masyarakat kalangan muda yang beranggapan pro mengenai pakaian kaos oblong atau T-shirt, mereka beranggapan bahwa dengan memakai pakaian kaos oblong atau T-shirt ialah bentuk kebebasan bagi mereka.

Dari polemik yang terjadi pada masa itu, ternyata menjadi viral sehingga menjadikan perbincangan yang sangat menarik di kalangan masyarakat. Hal ini tentunya yang kemudia dilihat oleh perusahaan konveksi yang akan memproduksi kaos oblong atau T-shirt secara massal, walaupun begitu pada mulanya para pengusaha konveksi sempat merasa pesimis akan prospek bisnis kaos oblong atau T-shirt.

Pada kenyataannya, perusahaan konveksi ternyata mengembangakan jenis pakaian kaos oblong atau T-shirt menjadi lebih bervariatif, dengan berbagai warna dan model.

Tren kaos oblong atau T-shirt ternyata semakin naik manakala Marlon Brando menjadi model iklan dari produk kaos oblong atau T-shirt, selain itu Marlon Brando memakainya dengan gaya yang berbeda dari sebelumnya yakni memakai dengan warna dan model yang lebih elegan.

Seiring perkembangan kaos oblong atau T-shirt yang terus melonjak, pada tahu 1961 sebuah organisasi masyarakat yang bernama “Underwear institute” (lembaga baju dalam) menuntut agar status kaos oblong atau T-shirt diakui sebagai pakaian sopan. Dan organisasi “Underwear institute” (lembaga baju dalam) beranggapan bahwa kaos oblong atau T-shirt sebagai karya busana yang telah menjadi buaya.