Nama Alfred Charles Kinsey mungkin masih asing di benak publik. Padahal, sebagai akademisi, kontribusinya terhadap peradaban sosial bahkan terasa sampai sekarang. Penelitiannya terhadap perilaku seksual manusia telah mengubah anggapan-anggapan lama terkait seksualitas manusia serta budaya berpasangan di masyarakat kita.

Ia disebut-sebut sebagai pelopor gerakan revolusi seksual yang terjadi di dunia barat pasca perang dunia kedua.

Penelitiannya dimulai ketika Ia ditunjuk sebagai pengajar di matakuliah Pernikahan di Universitas Indiana pada 1938. Kisney memiliki latar belakang sebagai zoolog. Sebelumnya, Ia kerap membuat riset di bidang evolusi maupun taksonomi.

Ilmuwan yang lahir pada 1894 ini, menjadi orang pertama yang mendirikan institut penelitian seks. Risetnya banyak berfokus pada prilaku seks yang muncul pada laki-laki dan perempuan. Ketika Ia ditunjuk sebagai pengajar utama matakuliah Pernikaha di Indiana University, banyak yang menganggap remeh kuliah tersebut.

Mata kuliah Pernikahan awalnya dianggap tidak menarik dan membosankan. Kepribadian Kinsey yang kaku dan dingin juga membuatnya dianggap sebelah mata.

Kinsey mampu membuktikan bahwa anggapan-anggapan tersebut keliru. Meskipun memiliki kepribadian yang membosankan, Kinsey mampu membuktikan dirinya melalui sejumlah karya-karya penelitian yang menarik. Pada awal penyusunan materi kuliahnya, Ia langsung memimpin riset besar yang bertujuan untuk merekam seksualitas orang Amerika Serikat secara menyeluruh.

Bongkar Hal Tabu

Dr. Alfred Charles Kinsey | Because of Her Story

Keadaan seksualitas Amerika Serikat saat itu tidak bisa kita sandingkan dengan keadaan seksualitas masa kini. Masyarakat Amerika Serikat pada masa itu cenderung tertutup dan menganggap seks sebagai topik yang tabu. Tidak hanya dianggap tabu, beberapa negara bagian bahkan meregulasi sejumlah aktivitas seks seperti seks di luar nikah, seks homoseksual dan oral seks.

Melihat kondisi seksualitas masyarakat Amerika Serikat saat itu, Kinsey mulai mengumpulkan data melalui survei yang berfokus pada enam kategori aktivitas seks manusia.

Mulai dari masturbasi, petting, seks heteroseksual, homoseksual, pengalaman mimpi basah, dan bahkan perilaku seks dengan binatang. Enam faktor itu dikaitkan dengan masing-masing latar belakang partisipan riset, mulai dari usianya, latar belakang pendidikan, status pernikahan, kepercayaan dan profesi. Riset ini merupakan riset yang besar dan membutuhkan pendanaan yang sama besarnya. Untuk itu, yayasan konglomerat ternama, Rockefeller Foundation menjadi donatur utama.

Tidak main-main, penelitian Kinsey melibatkan 12000 subjek penelitian yang dikumpulkan selama sembilan tahun. Hasil dari riset tersebut kemudian dirangkum dalam karya besar pertamanya yaitu, Sexual Behavior in the Human Male (1948).

Karya itu bahkan ditulis hingga 804 halaman, menggunakan bahasa saintifik yang sulit dicerna oleh awam dan penuh jargon. Untuk membantu penjelasannya, Kinsey juga menyelipkan 335 grafik. Meskipun grafik tersebut tidak membantu pemahaman menjadi lebih mudah. Meskipun terbilang rumit, topik dari penelitian tersebut terbukti populer. Setidaknya buku tersebut terjual sejumlah 250.000 kopi.

Karya pertama Kinsey memang umumnya ditujukan bagi para akademisi. Namun fakta yang diungkap dari pengumpulan data yang dilakukan dalam studi tersebut mencengangkan publik secara umum. Kontroversi yang diakibatkan dari karya tersebut juga mendorong tingginya penjualan buku Kinsley.

Beberapa hal yang diungkap oleh Sexual Behavior in the Human Male (1948) antara lain besarnya jumlah perilaku homoseksual di antara masyarakat Amerika Serikat kala itu. Menurut Kinsley, setidaknya ada 37 persen laki-laki dewasa yang pernah berhubungan seks dengan laki-laki lain bahkan hingga sampai tahap orgasme. Meskipun hanya 4% laki-laki yang berterus-terang mengaku sebagai homoseksual, tetapi separuh dari populasi subjek penelitian mengaku pernah merasakan ketertarikan pada sesama jenis.

Temuan yang lebih mencengangkan adalah, terdapat 10% laki-laki yang telah menikah ternyata pernah berhubungan seksual dengan sesama jenisnya. Temuan-temuan tadi menggemparkan publik yang sebelumnya percaya perilaku homoseksual sebagai perilaku yang tidak umum. Masyarakat Amerika Serikat pada masa itu bahkan masih menganggap perilaku homoseksual sebagai penyakit mental.

Peneliti Donna J Drucker, bahkan menganggap buku tersebut sebagai, bagian paling menarik dari sejarah ilmu pengetahuan. Drucker menganggap keberhasilan Kinsey bukan hanya terdapat pada dampak yang diciptakannya pada publik, tetapi juga dalam level akademisi.

Riset Kinsey merupakan salah satu riset termahir, yang memiliki metode pengumpulan subjek penelitian terbesar pada zamannya. Selain besarnya jumlah subjek penelitian, Drucker juga takjub dengan betapa beragamnya latar belakang para subjek penelitian ini. Dalam ilmu statistik, riset dengan metode pengumpulan data seperti yang Kinsey lakukan dapat membawa kesimpulan yang akurat untuk mencerminkan realitas sosial masyarakat kala itu.

Akurasi dari riset Kinsey menguatkan kesimpulannya perilaku homoseksual maupun sifat dari orientasi seksual tidak seperti apa yang dibayangkan masyarakat sebelumnya. Hal yang pertama dapat disimpulkan adalah betapa wajarnya perilaku homoseksual terjadi di masyarakat yang bahkan tertutup dengan seksualitasnya sendiri. Hal kedua yang Kinsey simpulkan adalah bagaimana orientasi seksual memiliki sifat yang cair. Artinya, orientasi seksual seseorang dapat berubah-ubah seiring dengan pengalaman hidup masing-masing inividu.

Melalui kesimpulan ini, Kinsey menepis anggapan kuno bahwa seksualitas seseorang hanya dapat dikategorikan dalam dua bagian: homoseksual dan heteroseksual. Untuk menggambarkan orientasi seksual secara akurat, Kinsey menciptakan parameter baru yang berupa skala. Ukuran dari skala ini memiliki rentang dari nilai 0 untuk mereka yang heteroseksual tulen, hingga nilai 6 untuk mereka yang homoseksual tulen. Seseorang bisa saja berada dalam nilai diantara 0 dan 6.

Kinsey juga menambahkan satu paramer baru yaitu, X, khusus untuk mereka yang aseksual. Aseksual berarti seseorang yang tidak memiliki gairah atau dorongan seksual pada orang lain. Hal ini bukan berarti orang tersebut tidak bisa merasakan gairah seksual sepenuhnya. Seorang aseksual  juga mampu merasakan birahi, sehingga tidak dapat dikategorikan sebagai disfungsi seksual.

Temuan Kinsey tidak langsung diterima dengan baik oleh masyarakat. Kinsey justru banyak mendapat serangan berupa kritik dari akademisi lain maupun dari masyarakat yang masih merasa perilaku seksual selai heteroseks sebagai tabu. Setelah publikasi, banyak akademisi yang meragukan metode yang digunakan Kinsey. Ironisnya, Kinsey juga menerapkan metode yang sama ketika melakukan penelitian terhadap serangga seperti tawon, penelitian yang melambungkan namanya di dunia akademik.

Dituding Biseks

Sexual Behavior in the Human Male: Kinsey, Alfred C.: 9780253334121:  Amazon.com: Books

Dari beberapa sumber yang dilansir Edisi Bonanza88, serangan terhadap Kinsey bahkan juga ditujukan secara personal. Umumnya, Kinsey menampilkan dirinya sebagai seorang ilmuwan yang juga merupakan seorang suami dan ayah, seperti kebanyakan lelaki di usianya.

Penampilan pribadi Kinsey ini dianggap sebagai kamuflase atau kedok yang tepat, terutama karena penelitian-penelitian yang dilakukannya seringkali menggali topik yang kontroversial. Pada kenyataannya, Kinsey juga merupakan seseorang yang rumit dan tak terduga.

Menurut James H. Jones, seorang sejarawan University of Houston misalnya, Kinsey merupakan seorang biseks yang juga memiliki ketertarikan pada masokisme. Kinsey disebut-sebut pernah menyelenggarakan pesta seks bagi para staf senior di lingkungan kerja akademik.

Anggapan Jones dibantah oleh sejarawan lain, Vern L. Bullough. Menurut Bullough pendapat Jones kala itu mereduksi kapabilitas Kinsey sebagai seorang ilmuwan yang objektif.

Kehidupan masa kecil Kinsey juga tidak lepas dari perhatian sejarawan. Kinsey disebut-sebut sebagai sosok anak yang lahir di keluarga yang keras. Ia tumbuh dan berkembang di lingkungan South Orange di New Jersey.

Ayahnya disebut sebagai laki-laki kelas menengah yang keras dan pemarah. Keadaan yang tidak kondusif di rumah, menyebabkan Kinsey kabur dan memulai hidupnya yang mandiri pada usia 20. Sebagai akademisi muda, Kinsey juga dikenal memiliki banyak bakat seperti, pramuka, dan bahkan tekun mempelajari instrumen piano.

Dalam kehidupan seksualnya, Kinsey muda adalah perjaka yang sering menghabiskan waktu dalam kebimbangan dan keresahan seksual. Ia bahkan kerap menghukum dirinya ketika sedang masturbasi dengan memasukan sikat gigi ke dalam anusnya.

Meski kehidupan personalnya seringkali menjadi pembahasan di lingkungan akademisi maupun masyarakat umum, komitmen Kinsey dalam penelitian tidak goyah. Ia bahkan melanjutkan penelitiannya dengan menulis Sexual Behavior in the Human Female yang terbit pada 1953.

Penelitian di buku ini tidak kalah menggemparkan. Buku ini berisi data terkait perilaku seksual perempuan, yang ternyata membantah anggapan umum yang ada sebelumnya. Pada masyarakat Amerika Serikat di masa itu, perempuan dianggap sebagai subjek yang tidak aktif dalam hubungan seksual. Perempuan dianggap cendderung tidak memiliki gairah seksual, dan aktifitas seksualnya seringkali hanya dengan maksud melayani pasangan atau untuk pembuahan.

Penelitian Kinsey membuktikan sebaliknya. Perempuan ternyata juga memiliki kemampuan untuk menikmati beragam aktifitas seksual selayaknya laki-laki. Setengah dari subjek penelitian Kinsey bahkan mengaku pernah melakukan hubungan seks sebelum menikah dengan laki-laki. Namun, kecenderungan perilaku homoseksual di subjek penelitian perempuan justru lebih renah, terbilang sebesar 13 persen saja.

Pandangan Kinsey terhadap homoseksualitas di perempuan berbeda dengan pandangannya terhadap homoseksualitas di laki-laki. Bagi Kinsey, homoseksualitas perempuan atau lesbianisme merupakan sebuah preferensi seksual, berbeda dengan homoseksualitas laki-laki yang merupakan sebuah orientasi seksual.

Kesimpulan ini diambil Kinsey berdasarkan hasil penelitiannya yang memang membuktikan kecenderungan homoseksualitas yang rendah bagi perempuan. Menurut Kinsey, rendahnya kecenderungan ini merupakan akibat dari perilaku seksual perempuan yang cenderung menahan diri karena moral sosial di sekitarnya.

Dituduh Agen Komunis

Kinsey, Alfred Charles (1894-1956), entomologist and sex researcher |  American National Biography

Meskipun dalam buku kedua Kinsey lebih terkesan bersikap ambigu, reaksi publik terhadapnya justru menjadi lebih keras. Temuan Kinsey menggemparkan politisi-politisi konservatif, yang kemudian menyebutnya sebagai agen komunisme.

Anggapan ini setidaknya disampaikan oleh Senator Joseph McCarthy di tengah kampanyenya. Kala itu, fobia komunisme memang umum seiring dengan semakin memanasnya gejolak perang dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet. Pandangan-pandangan yang radikal seringkali langsung dikaitkan dengan komunisme, untuk dagangan politik.

Pada masa itu, kampanye anti-komunisme seringkali digunakan oleh kubu konservatif di Amerika Serikat. Penelitian Kinsey dianggap melecehkan tradisi serta moral seksualitas yang telah menjadi budaya luhur masyarakat Amerika Serikat. Padahal, Kinsey sendiri sebenarnya merupakan seorang anti-Soviet. Kampanye menentang Kinsey berakibat lebih buruk padanya. Rockefeller Foundation yang sebelumnya menjadi donatur utama kemudian melepas dukungannya pada sang Zoolog.

Kinsey sendiri sering menyatakan pandangannya yang simpatik pada kelompok homoseksual. Menurut Kinsey, kelompok ini menjadi kelompok yang terbelenggu akibat pandangan usang terkait seksualitas yang ada di masyarakat. Pernyataan-pernyataan simpatik Kinsey membuatnya menjadi sasaran empuk bagi para politikus konservatif maupun kelompok-kelompok lain yang menentang homoseksual.

Komitmen Kinsey terhadap sains membuatnya tetap teguh menjalankan penelitian tentang seksualitas masyarakat. Meski dihadang banyak serangan, Kinsey juga mulai menyadari dampak dari penelitiannya ke arah yang lebih baik. Pada 1955, penelitiannya bahkan menjadi rujukan bagi perancangan Model Penal Code oleh American Law Institute.

Penelitian Kinsey menjadi dasar pemisahan antara moral dalam hukum dengan seksualitas sebagai kehidupan privat seseorang. Perlahan, sejumlah negara bagian mulai mengevaluasi hukum federal dan menghapus hukum yang mempermasalahkan seksualitas sebagai masalah moral.

Sayangnya, Kinsey tidak sempat merasakan dampaknya lebih lama. Ia meninggal setahun setelah penelitiannya menjadi rujukan dalam hukum.

Kinsey belum sempat merasakan besarnya gelombang gerakan hak asasi bagi kelompok homoseksual yang muncul pada era 1960an. Meskipun begitu, warisan yang ditinggalkan oleh Kinsey mampu kita rasakan gejolaknya hingga saat ini. Salah satu dari warisannya adalah peresmian lembaga penelitian Kinsey Institute, yang fokus pada studi seksualitas, gender, dan reproduksi.