Bayern Munchen telah memastikan diri sebagai tim kedua dalam sejarah sepak bola Eropa yang berhasil meraih enam gelar sekaligus dalam satu musim.

Hal ini juga sering disebut sextuple. Label sextuple itu mereka dapatkan ketika berhasil memenangkan trofi Piala Dunia Antarklub 2020.

Seperti yang diketahui banyak pecinta sepak bola, Bayern Munchen mewakili Eropa untuk bersaing dengan sejumlah klub lain dari benua lain.

Tiket itu mereka dapatkan setelah berhasil memenangkan trofi Liga Champions musim 2019/20 lalu. Ya, Piala Dunia Antarklub sendiri hanya akan memanggil peserta yang berhasil menang di Liga Champions zonanya masing-masing.

Bayern Munchen diketahui memulai ajang ini dengan laga melawan juara Liga Champions Afrika, Al-Ahly pada babak semifinal. Tim yang mendapatkan julukan Die Rotten ini pun sukses menumbangkan Al-Ahly. Klub asal Mesir tersebut dipaksa menyerah dengan skor 0-2. Dua gol yang didapatkan The Bavarian terjadi lewat catatan brace Robert Lewandowski.

Kemenangan itu akhirnya mengantarkan Bayern Munchen ke partai puncak Piala Dunia Antarklub 2020. Mereka dihadapkan dengan wakil Meksiko Tigres UAN.

Benjamin Pavard menjadi satu-satunya pemain yang berhasil mencetak gol di laga tersebut. Situasi ini membuat Bayern Munchen melengkapi trofi paling banyak di musim ini.

Prestasi yang dicapai Bayern Munchen ini ternyata memang tak pernah diduga oleh sebagian besar pecinta sepak bola dunia. Mengngat, The Bavarian baru saja menunjuk Hansi Flick sebagai pelatihnya. Sebagai pelatih yang baru menangani tim besar, Hansi Flick tentunya tak pernah terpikirkan bisa membawa pulang enam trofi ke Allianz Arena.

Akan tetapi Hansi Flick bisa menepis pesimisme orang-orang tersebut. The Bavarians justru mampu membantai siapa pun yang menghalangi mereka di Bundesliga dan Liga Champions, dengan 19 kemenangan beruntun. Bahkan Hansi Flick berhasil menorehkan lebih banyak trofi (6), daripada menelan kekalahan di pertandingan kompetitif (5).

Terlepas dari itu, Barcelona ternyata lebih dulu berhasil menorehkan sextuple pada tahun 2009 silam. Bersama Josep Pep Guardiola, tim yang mendapatkan julukan La Blaugrana tersebut berhasil mendominasi Eropa dengan cara menjuarai setiap kompetisi yang mereka ikuti. Sama seperti Hansi Flick bersama Bayern Munchen-nya, keberhasilan Barcelona ini ternyata juga tak pernah terduga.

Ketika Guardiola mengambil alih Barcelona pada musim panas 2008 silam, hanya sedikit atau bahkan hampir tidak ada yang mengira bahwa dia akan meraih sextuple. Namun Guardiola mampu melihat DNA Barcelona, yang terobsesi dengan penguasaan bola. Pelatih asal Catalan ini sukses membangun mesin kemenangan yang tak terbendung dengan gaya permainan ini.

Sulitnya Meraih Sextuple 

Bayern Munchen Samai Rekor Barcelona, Raih Enam Trofi Elit Jerman, Eropa dan Dunia

Sejumlah klub top Eropa memang hampir kesulitan untuk bisa meraih sextuple dalam satu musim. Meski mereka memiliki skuat mumpuni bertabur bintang, hal itu tidak bisa menjadi jaminan untuk membawa pulang 6 trofi secara bersamaan. Lihat saja Manchester City dan Paris Saint Germain.

Kedua tim yang mendadak kaya raya itu bahkan sampai saat ini belum bisa berbicara banyak di pentas Eropa. Ya, Manchester City dan Paris Saint Germain masih sama-sama kesulitan untuk menjuarai kompetisi Liga Champions. Bagi raksasa Ligue 1 Prancis, mereka bisa saja membawa pulang trofi Si Kulit Besar, andai mereka tak kalah di final oleh Bayern Munchen.

Terlepas dari itu, tim legendaris seperti Real Madrid, Manchester United hingga Juventus pun juga belum bisa meraih catatan sextuple. Situasi ini juga cukup memperjelas bahwa tim bersejarah pun belum tentu menjamin dalam perburuan 6 trofi selama satu musim.

Sejauh ini, sudah banyak klub yang hampir berhasil dalam mencoba untuk meraih sextuple. Salah satu di antaranya adalah Inter Milan dan Real Madrid. Dua tim raksasa Eropa tersebut sebenarnya memiliki kesempatan untuk meraih 6 trofi secara bersamaan dalam satu musim. Tampil bersama skuat terbaiknya, kedua tim itu justru gagal melengkapi catatan sextuple.

Bagi Inter Milan, mereka mendapatkan kesempatan itu pada tahun 2010 silam. Bersama pelatih Jose Mourinho, tim yang mendapatkan julukan La Beneamata tersebut tampil begitu perkasa pada musim 2009/10. Kala itu, Inter Milan berhasil menjuarai Serie A Liga Italia, Coppa Italia dan Liga Champions. Mereka pun masih mengincar tiga gelar lainnya di musim yang sama.

Akan tetapi, penunjukan Rafael Benitez setelah kepergian Mourinho ke Real Madrid, membuat Inter Milan tak bisa meraih tiga trofi tersisa.

Meski sempat mengawali karier manis dengan mengalahkan Juventus di Supercoppa Italia, Benitez justru gagal di Piala Super Eropa melawan Atletico Madrid (0-2). Padahal, saat itu mereka berhasil meraih trofi Piala Dunia Antarklub usai mengalahkan wakil Kongo, TP Mazembe (3-0).

Sementara itu, Real Madrid juga tak bisa menyamai rekor Barcelona dan Bayern Munchen ini. sebagai salah satu tim raksasa yang bertabur bintang, Real Madrid sempat memiliki peluang untuk meraih sextuple pada tahun 2017 lalu. Akan tetapi, tim yang mendapatkan julukan Los Blancos ini gagal setelah kalah di ajang Copa del Rey.

Ia hanya membutuhkan satu trofi untuk bisa mencatatkan sextuple di musim tersebut. Mengingat, tim pasukan Zinedine Zidane ini telah mengoleksi lima trofi, yakni LaLiga Spanyol, Liga Champions, Piala Super Eropa, Piala Dunia Antarklub, dan Supercopa de Espana. Sayangnya, pada ajang Copa del Rey, Los Galacticos justru harus tersingkir di babak perempatfinal oleh Celta Vigo.

Jangankan dua tim di atas, Barcelona dan Bayern Munchen pun juga sempat kesulitan untuk meraih catatan sextuple ini. La Blaugrana diketahui kesulitan untuk mengulang prestasi sextuple pada tahun 2015 lalu.

Pada saat itu, Luis Enrique tak kalah fantastis dari Pep Guardiola. Dengan mengandalkan trio MSN (Lionel Messi, Luis Suarez dan Neymar), Barcelona sukses meraih lima gelar, yakni Piala Dunia Antarklub, Piala Super Eropa, LaLiga Spanyol, Copa del Rey, dan Liga Champions.

Akan tetapi, Barcelona kehilangan kesempatan untuk meraih sextuple keduanya, setelah dipermalukan oleh Atheltic Bilbao di Supercopa de Espana. Saat itu, Gerard Pique dan kawan-kawan harus menyerah dengan agregat 1-5 dari Athletic Bilbao.

Sementara itu, Bayern Munchen juga sempat mencoba meraih sextuple lebih awal pada tahun 2013 lalu. saat itu mereka memang tengah memiliki pemain kelas dunia seperti Arjen Robben, Philip Lahm dan Franck Ribery.

Nasib mereka sama seperti Inter Milan, yang harus mengganti pelatih Jupp Heynckes engan Pep Guardiola. Meski berhasil bersama Barcelona dalam meraih sextuple, Guardiola justru tak bisa melengkapi 6 trofi Bayern Munchen.

Padahal saat itu Heynckes telah mempersembahkan treble winner usai menjuarai Bundesliga, DFB-Pokal dan Liga Champions. Dengan begitu, Guardiola hanya ditugaskan untuk bisa meraih tiga gelar lainnya, demi melengkapi catatan sextuple.

Sayangnya, mereka kalah di DFL-Supercup dari Borussia Dortmund (2-4). Guardiola hanya bisa berbicara banyak di pentas Eropa. Ia mampu menorehkan dua trofi prestisius, seperti Piala Dunia Antarklub dan Piala Super Eropa.

Daftar 6 Trofi Bayern Munchen dan Barcelona

Pin on Barcelona

Sextuple Barcelona 2009

  • Copa del Rey: Klub Atletik Barcelona 4-1
  • LaLiga Spanyol: Memenangkan gelar dengan keunggulan sembilan poin
  • Liga Champions: Barcelona 2-0 Manchester United
  • Supercopa de Espana: Barcelona 5-1 Athletic (over two leg)
  • Piala Super Eropa: Barcelona 1-0 Shakhtar Donetsk
  • Piala Dunia Antarklub: Barcelona 2-1 Estudiantes de La

Sextuple Bayern Munchen 2020

Bayern Munchen Samakan Rekor Sextuple Barcelona, Guardiola Tantang Hansi Flick - Bola Tempo.co

  • DFB-Pokal: Bayern 4-2 Bayer Leverkusen
  • Bundesliga: Pemenang dengan keunggulan 13 poin
  • Liga Champions: Bayern 1-0 Paris Saint-Germain
  • DFL-Supercup: Bayern 3-2 Borussia Dortmund
  • Piala Super Eropa: Bayern 2-1 Sevilla
  • Piala Dunia Antarklub: Bayern 1-0 Tigres

Skuat Bayern Munchen dan Barcelona Tim Raksasa Saat Raih Sextuple

BAYERN MUNICH (4-2-3-1)

Skuat Bayern

FC Barcelona - La Liga: Barcelona vs Bayern Munich and the battle for the septuple | MARCA in English

Manuel Neuer: Pemain internasional Jerman berusia 34 tahun itu bisa dibilang sebagai penjaga gawang terhebat di dunia sepak bola selama bertahun-tahun sekarang dan dia tidak menunjukkan tanda-tanda melambat.

Joshua Kimmich: Meskipun dia biasanya ditempatkan di lini tengah, bintang Jerman yang disiplin ini juga dapat mengisi posisi bek kanan dengan sangat baik seperti yang dia lakukan selama final Liga Champions melawan Paris Saint-Germain musim lalu.

Jerome Boateng: Pemain Jerman itu memberikan pengalaman itu di jantung lini belakang, tetapi kesalahan aneh telah merayapi permainannya selama bertahun-tahun. Jerome Boateng memberikan kepemimpinan di pertahanan tetapi cenderung melakukan kesalahan pada kesempatan tertentu

David Alaba: Orang Austria itu tampaknya semakin baik seiring bertambahnya usia dan dia selalu menjadi kehadiran nyata di tim Bayern. Dikenal sebagai bek kiri, Alaba baru-baru ini ditempatkan di jantung pertahanan. Ia pun dengn mudah memberikan ketenangan bagi orang-orang di sekitarnya.

Alphonso Davies: Pemain Kanada berusia 20 tahun itu telah menggemparkan sepak bola Jerman dan Eropa. Di usianya yang masih sangat muda, ia sangat berpengaruh dalam kesuksesan Bayern musim lalu. Kecepatan menakutkan Davies adalah komponen besar dari permainan menyerang Bayern di sisi kiri.

Thiago Alcantara: Pesepakbola Spanyol itu sekarang berada di Liverpool tetapi di mana pun dia berada, dia telah menunjukkan kelasnya, dan dia pasti meninggalkan Bayern dengan gemilang setelah kemenangan Liga Champions mereka.

Leon Goretzka: Meskipun ia mungkin tidak memiliki kelas murni seperti Thiago Alcantara dalam penguasaan bola, pemain Jerman itu baru-baru ini berkembang menjadi gelandang box-to-box kelas dunia.

Serge Gnabry: Gnabry bisa dibilang, pemain terbaik Bayern musim lalu saat mereka mendominasi sepak bola Jerman dan Eropa. Dia menyiksa pertahanan lawan di Liga Champions hingga final, dan memiliki ketenangan di depan gawang.

Kinglsey Coman: Setelah masa pinjamannya yang gagal di West Brom, tidak ada yang mengharapkan peningkatan luar biasa Serge Gnabry. Meskipun masih ada tanda tanya atas ketenangannya di depan gawang, ia mencetak gol kemenangan yang sangat penting di final Liga Champions musim lalu.

Thomas Muller: Tidak pernah benar-benar mendapatkan pengakuan yang layak untuknya, tetapi pemain Jerman itu terus membuktikan keuntungan besar bagi Bayern dan telah menjadi sosok sentral bagi tim selama setahun terakhir ini.

Robert Lewandowski: Striker Polandia telah menjadi pemain utama Bayern selama bertahun-tahun, tetapi musim terbaiknya hingga saat ini adalah 2019-20. Bagaimana tidak, Lewandowski mampu mencetak 55 gol hanya dalam 47 pertandingan sepanjang musim lalu.

Skuat Barcelona 2009

Siapa Lebih Hebat, Barcelona 2008 - 2009 atau 2014 - 2015 ? - Spanyol Bola.com

Victor Valdes: Alasan utama di balik kesuksesan luar biasa Barcelona di bawah Guardiola adalah berkat gaya tiki-taka mereka, dan itu selalu dimulai dengan penjaga gawang. Guardiola selalu menginginkan kiper yang pandai menguasai bola. Dan Valdes mampu membantu meringankan tekanan saat memulai serangan.

Dani Alves: Pemain Brasil itu adalah andalan dalam pertahanan Barcelona selama tahun-tahun kejayaan mereka di bawah Guardiola, dan akan turun sebagai salah satu bek kanan terbaik yang pernah memainkan permainan ini.

Carles Puyol: Ia adalah kapten dari tim pemenang sextuple Barcelona. Puyol selalu menjadi tulang punggung pertahanan tim. Tak hanya piawai menjaga pertahanan, dirinya juga kerap kali membantu produktivitas tim ketika overlap saat Barcelona mendapatkan tendangan bebas atau sepakan sudut.

Gerard Pique: Pemain Spanyol itu baru saja kembali ke Barcelona dari Manchester United sebelum pencapaian sextuple klub, tetapi dia telah menjadi sosok yang selalu diandalkan untuk Barca. Pique hingga hari ini tetap menjadi pemimpin di lini belakang Barcelona.

Eric Abidal: Bek kiri turun sebagai salah satu pemain paling berprestasi dalam sejarah sepak bola Prancis, setelah memenangkan semuanya. Abidal diketahui mengumpulkan 193 penampilan untuk raksasa Spanyol.

Andres Iniesta: Gelandang Spanyol ini adalah komposer klub. Iniesta menjadi kapten Barcelona selama tiga musim dan turun sebagai salah satu gelandang tengah terhebat sepanjang masa, dengan memenangkan 30 gelar yang menakjubkan secara keseluruhan dengan Barcelona.

Xavi: Ia merupakan produk akademi muda Barcelona, yang sukses masuk ke tim utama pada 1998. Bersama Iniesta, ia membangun gaya bermain berbasis penguasaan bola yang terbukti sukses bersama Spanyol juga.

Sergio Busquets: Bersama Ineista dan Xavi, rekan mereka dari Spanyol memberikan dasar serangan untuk memulai dengan menghentikan permainan lawan. Busquets menjadi bagian integral Barcelona yang mendikte tempo dari tengah lapangan.

Lionel Messi: Tidak ada kata yang tepat untuk menggambarkannya. Pemain Argentina ini merupakan pemain terhebat dari generasi ini bersama Cristiano Ronaldo. Messi telah menjadi jantung kesuksesan luar biasa Barcelona selama lebih dari 15 tahun.

Thierry Henry: Setelah kehilangan yang menyakitkan di Paris selama final Liga Champions 2006 dengan Arsenal, orang Prancis itu akhirnya mendapatkan keinginannya dengan memenangkan hadiah terbesar di Eropa pada tahun 2009.

Samuel Eto’o: Dia adalah salah satu pemain yang tidak akan pernah dilupakan oleh pendukung Barca. Terbukti, ia menjadi kekuatan yang tak terhentikan dalam serangan Guardiola. Mantan striker Inter Milan itu berhasil mencetak 130 gol dalam 199 penampilan untuk Barca.