Musik jazz merupakan jenis musik yang kerap diimprovisasi. Musik jazz dikembangkan oleh orang Afrika-Amerika serta dipengaruhi oleh struktur harmoni Eropa dan ritme Afrika. Sekitar 1860, musik jazz memiliki istilah gaul Afrika-Amerika, yakni jasm yang berarti energi.

Kemudian pada 14 November 1916, surat Kabar New Orleans Times, pertama kali menggunakan istilah jas bands. Mengutip dari situs American History, dituliskan jika musik jazz merupakan jenis musik yang mengutamakan dan mementingkan unsur improvisasi. Musik jazz juga bisa mengekspresikan berbagai perasaan dan emosi yang berbeda. Mulai dari kebahagiaan hingga isak tangis.

Musik jazz adalah ragam irama musik yang mulai dikenal sekitar tahun 1914, jenis musik popular di Amerika karena berasal dari kalangan Kaum Negro di New Orleans. Pada akhir tahun 1920-an musik jazz mulai berkembang di seluruh penjuru Amerika sehingga menimbulkan banyak keragaman di dalamnya.

Musik jazz yang memiliki bentuk yang beragam terbentuk dari blues, mulai dari ragtime, boogie-woogie yang terbentuk dari blues dan ragtime, Dixieland muncul dari perkembangan bentuk- bentuk musik jazz yang sudah ada sebelumnya. Karakter musik jazz penuh perubahan aksen (sinkop) dan kelebihannya untuk berimprovisasi.

Musik jazz tak hanya berkembang di wilayah New Orleans saja melainkan sudah merambah ke negara-negara lain hingga akhirnya sampai di Indonesia. Perkembangan musik jazz di Indonesia juga tak kalah menarik. Pada tahun 1930-an musik jazz mulai masuk dan berkembang di Indonesia, tetapi musik jazz pada tahun 1930-an ini masih belum menunjukkan ciri yang khas dari genre musik jazz.

Perkembangan musik jazz terjadi di berbagai wilayah di Indonesia terutama pada kota-kota besar. Hal ini disebabkan pada masyarakat kota besar lebih banyak membutuhkan dan mengembangakan hal-hal yeng bersifat hiburan.

Jakarta adalah salah satu kota yang menjadi pusat perkembangan musik jazz dan menyediakan banyak tempat bagi musisi jazz yang ingin menampilkan karyanya seperti hotel- hotel yang membuat pertunjukan musik setiap malam.

Periode tahun 1960-an menjadi awal era musik jazz Indonesia dengan lahirnya musisi-musisi jazz yang mulai banyak diterima masyarakat luar negeri maupun Indonesia sendiri.

Pada kenyataannya taraf kemampuan musisi jazz di Indonesia pada tahun 1960-an hanya sampai pada permainan irama yang jazzy saja, hingga sampai pada tahun 1980-an pun musisi jazz di Indonesia masih cenderung menciptakan lagu yang hanya berirama jazzy.

Hal ini terjadi karena irama jazzy lebih gampang dicerna, tidak saja oleh pendengar tapi juga oleh musisinya. Hal ini tidak lantas membuat para musisi jazz enggan mendalami jazz, bahkan masih menekuni jazz murni untuk memperdalam permainan jazz mereka.

Perjalanan musik jazz di Indonesia yang cukup panjang hingga abad 21 menghadirkan banyak tokoh yang berperan dalam perkembangan musik jazz di Indonesia. Perkembangan musik jazz mengalami pasang dan surut karena pada tahun 1959 terjadi pelarangan terhadap musik barat oleh presiden Soekarno pada saat pidato 17 Agutus 1959.

Presiden Soekarno dengan tegas menegaskan bahwa budaya yang berasal dari Barat dapat merusak budaya Indonesia dan ingin menghidupkan kembali kebudayaan Indonesia yang secara perlahan mulai ditinggalkan masyarakat Indonesia.

Hal ini menunjukkan bahwa tantangan yang dihadapi music jazz bukan hanya dalam dunua music malainkan dalam berbagai aspek seperti politik dan budaya. Adanya peraturan ini tidak hanya berdampak bagi music jazz, namun juga barbagai aliran musik yang berasal dari barat di Indonesia.

Awal Mula Musik Jazz

Sejarah dan Perkembangan Musik Jazz - Kumpulan Sejarah

Musik jazz memiliki sejarah yang cukup menarik. Pertama kali diperkenalkan oleh orang-orang Afrika-Amerika. Musik ini berakar dari New Orleans,

Amerika Serikat, pada tahun 1920-an. Itulah mengapa musik jazz yang pertama kali muncul di dunia disebut dengan jazz New Orleans. Pada awalnya musik ini hanya ditampilkan dalam upacara pemakaman atau pawai-pawai tradisional saja dikarenakan masih ada pengaruh politik Apartheid dimasa itu.

Namun pada tahun 1930-an muncullah gaya baru yang disebut dengan jazz swing. Gaya swing muncul dari hasil penyesuaian antara musik asli masyarakat kulit hitam Amerika dengan musik klasik Eropa yang berkembang menjadi musik dansa kelas menengah Amerika pada waktu itu.

Swing juga bisa disebut dengan ―jazz standar‖ karena musisi-musisi yang memainkan gaya ini lebih cenderung memainkan komposisi standar dibandingkan dengan kerumitan yang biasa dimainkan oleh para komposer aslinya. Hal ini membuktikan bahwa minat masyarakat sudah mulai tumbuh untuk menikmati dan memainkan musik jazz khususnya kaum kulit putih.

Hubungan antara musik jazz dan musik Eropa merupakan suatu faktor penting dalam munculnya bentuk formasi big band jazz, terutama pada masa swing, dimana unsur aransemen yang mengayun lebih menonjol daripada sebelumnya.

Adanya bentuk permainan big band menyebabkan jazz semakin populer dan dihargai oleh publik, bahkan di kalangan masyarakat kulit putih, dimana jazz telah mendapat pengakuan secara luas sebagai bagian dari kebudayaan bangsa Amerika.

Masa Perang Dunia I dan sesudahnya juga ditandai dengan banyaknya musisi Eropa yang bermigrasi ke negara bahkan benua lain untuk mencari kehidupan yang layak setelah negaranya hancur akibat peperangan. Musisi-musisi tersebut pindah secara berkelompok.

Beberapa diantara kelompok musisi tersebut ada yang mencapai Asia Tenggara dan menetap. Seperti di Filipina dan kemudian di Indonesia. Dengan demikian, jazz berkembang begitu cepat baik secara musikalitasnya dan industri musiknya hingga ke penjuru dunia.

Sejarah jazz di Indonesia amatlah panjang bila diceritakan seluruhnya mengikuti garis waktu dari awal kemunculannya hingga sekarang. Bisa dibilang kemunculan musik jazz di Indonesia dimulai pada tahun 1925-1927 ketika musik jazz dibawa oleh musisi-musisi dari Filipina yang mencari pekerjaan di Jakarta dengan bermain musik.

Selain memainkan musik, mereka juga memperkenalkan instrumen angin, seperti terompet, saksofon, klarinet kepada penikmat musik di Jakarta. Nama musisi-musisi waktu itu adalah Soleano, Garcia dan Samboyan.

Hal ini lah yang menginspirasi musisi-musisi jazz besar Jakarta pada waktu itu antara lain Jack Lesmana, Bill saragih serta Bubi Chen untuk belajar hingga akhirnya berhasil mengadakan pertunjukan-pertunjukan jazz di ibukota.

Bahkan, informasi yang dihimpun Edisi Bonanza88, orang-orang inilah yang memprakarsai munculnya perhelatan musik jazz bergengsi pertama kali di Indonesia yaitu Jakarta Jazz Festival atau sering juga disebut ‗Jak-Jazz‘.

Jakarta mempunyai daya magnet tersendiri bagi musisi-musisi jazz Indonesia, karena Jakarta sebagai kota besar memang lebih banyak terdapat tempat-tempat yang memberi peluang untuk menampilkan permainan dari para musisi tersebut. Banyak tempat hiburan, hotel, dan club yang menyajikan pertunjukan musik.

Pada awalnya musisi-musisi jazz ternama Jakarta sempat merasakan sakit hati yang mendalam ketika mereka mencoba memperkenalkan musik jazz kepada masyarakat luas lewat pertunjukan jazz di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta pada awal tahun 1980-an yang disambut dingin oleh penonton dikarenakan jazz belum dianggap sebagai sebuah hiburan oleh masyarakat.

Tidak seperti musik dangdut yang pada saat itu tengah mendominasi. Hingga keadaan pun berbalik ketika pada akhirnya jumlah penonton yang berbondong-bondong hanya untuk melihat musisi-musisi jazz kesukaan mereka bermain di atas panggung.

Dan di era sekarang yaitu tahun 2000-an Jakarta masih mempertahankan warisan musisi-musisi jazz terdahulu kepada generasi yang sekarang seperti Indra Lesmana, Barry Likumahuwa, serta Tompi.

Populer di Ambon

Ambon Resmi Jadi Kota Musik Dunia - MLDSPOT

Pada abad ke-2 diketahui bahwa kebiasaan beribadah orang Yahudi selalu menyanyikan kitab mazmur dari perjanjian lama tetapi nyanyian-nyanyian ini tidak menggunakan notasi sampai pada akhir abad ke-4 jenis musik gereja paling utama adalah mazmur.

Terdapat banyak jenis nyanyian dan doa dalam kitab mazmur yang digunakan untuk beribadah diantaranya adalah nyanyian untuk pujian dan penyembahan Tuhan juga ada doa-doa untuk memohon pertolongan dan perlindungan serta keselamatan yang bersifat pribadi atau dapat digunakan dalam kelompok.

Kitab mazmur ini terdiri dari beberapa bagian yang setiap bagiannya mengandung doa-doa serta pujian terhadap Tuhan. Pada abad ini nyanyian-nyanyian mazmur masih belum menggunakan instrumen musik apapun di dalamnya, hanya olah vokal saja dan dinnyanyinyak secara bersama-sama.

Namun terdapat jenis musik lain yang juga sangat populer selain mazmur yaitu hymne (nyanyian rohani) yang teksnya tidak diambil dari alkitab melainkan menciptakan teks baru. Kitab mazmur dari perjanjian lama ini diyakini ditulis sesudah munculnya tradisi musik Cantus Planus.

Cantus Planus adalah tradisi musik gerejawi yang berkembang di seluruh Eropa sebelum tahun 1000 ini sangat tinggi sifat-sifatnya sejenis musik monofonik yang merupakan susunan teks liturgi-liturgi gereja. Repertoar musik ini menjadi sumber semua perkembangan musik Eropa pada masa berikutnya. Pada abad ke-8 kekaisaran Roma mulai mendirikan kelompok kor-kor profesional berserta sekolah paduan suara lengkap dengan guru musik.

Kebudayaan-kebudayaan yang ditinggalkan telah melekat pada setiap bagian di Ambon termasuk musik.Musik telah mendarah daging sebagai sebuah tradisi disebabkan karena bangsa barat yang pernah menetap di Ambon

Dalam pesta-pesta ini penduduk lokal Ambon mempelajari berbagai macam musik sehingga pengetahuan musik penduduk Ambon sangat luas.

Hal ini memberikan ikatan dalam diri penduduk Ambon bahwa musik adalah sebagian dari keseharian penduduk Ambon dan memicu penggambaran perasaan lewat lagu di setiap kesempatan seperti saat sedang bahagia maka akan dilagukan dalam irama yang riang, jika bersedih maka akan dilagukan dengan irama yang sendu.

Peran radio nasional RRI juga menjadi salah satu faktor masyarakat Ambon mempelajari pengetahuan-pengetahuan tentang musik. Lagu-lagu yang diputar di radio menambah wawasan masyarakat Ambon tentang musik karena dari radio dapat mendengarkan berbagai jenis lagu dari berbagai bentuk musik.

Selain menyajikan lagu-lagu untu diperdengarkan ke seantero Indonesia, RRI juga memberikan kesempatan kepada musisi-musisi muda berbakat yang ingin menunjukkan kemampuannya pada bidang musik untuk bermain di salah satu program pada siaran radio RRI.

Pengetahuan musik yang dimiliki orang-orang Ambon ini dimanfaatkan untuk mengeksplorasi lebih dalam lagi tentang musik. Dalam kesempatan apapun orang Ambon akan menyanyikan lagu-lagu ciptaan sendiri yang sesuai dengan suasana yang dirasakan saat itu juga.

Dengan bekal pengetahuan musik dari radio dan dari gereja masyarakat Ambon yang tertarik dengan bidang musik akan menciptakan lagu dengan perpaduan musik-musik internasional dengan musik khas daerah Ambon sehingga musik yang diciptakan mudah dimengerti dan juga memiliki standar yang tinggi.

Perkembangan Musik Jazz di Indonesia

Perkembangan Musik Jazz di Indonesia - MLDSPOT

Musik jazz di Indonesia melalui perkembangan dengan perjalanan panjang. Dimulai dari masuknya musik jazz di Indonesia di tahun 1919 melalui musisi dari Eropa. Sampai genre musik ini sendiri mengalami puncak popularitas di tahun 1950an. Tak usai sampai di situ.

Musik jazz kembali berkembang di tahun 1980 sampai 1990an melalui hadirnya sederet musisi kondang. Hingga akhirnya genre musik ini sempat redup beberapa dekade, sebelum melesat kembali dalam beberapa tahun terakhir.f

Merunut perkembangan genre musik jazz di Indonesia akan sangat menarik. Mengingat sejarah panjang genre satu ini sejalan dengan perkembangan musik di Tanah Air. Satu dekade terakhir saja, musik jazz mengalami perkembangan melalui modernisasi yang diusung para musisi muda.

Musisi-musisi muda yang konsisten di jalur musik jazz membawa genre tersebut tak hanya dinikmati oleh kalangan tua. Bahkan sisi modernisasi dengan mencampur musik jazz pada genre lain melahirkan sebuah sisi lain. Sisi lain yang membuat musik jazz justru menjadi konsumsi muda-mudi di generasi ini.

Jazz masuk ke Indonesia di tahun 1919 melalui The American Jazz Band. Piringan hitam dari band ini diakui sebagai yang pertama kali memperkenalkan musik jazz di Batavia. The American Jazz Band juga menjadi musisi jazz pertama yang datang di tanah air.

Pada tahun 1950an, musik jazz mengalami puncak popularitas berkat group Chen Brothers yang ada di Surabaya. Chen Brothers dibentuk oleh Teddy Chen, dengan personil Tedy, sebagai pemain klarinet; Nico pada drum, bass oleh Joppie dan Bubi pada piano. Peranan Chen Brothers di musik jazz bukan hanya melahirkan sederet klub sampai festival di tahun tersebut.

Jack Lesmana, yang merupakan additional players dari band tersebut juga akhirnya merambah televisi di tahun 1960. Memperkenalkan musik jazz pada masyarakat lebih luas.

Beberapa dekade berselang, musik jazz kembali mengalami masa kejayaan di tahun 1980 sampai 1990an. Di tahun ini, sederet musisi muda mulai mencoba genre yang diklaim sebagai musik untuk generasi tua. Ireng Maulana, Elfa Secoria dan Benny Likumahuwa menghadirkan musik jazz dengan lagu-lagu yang bisa dinikmati anak muda. Di tahun itu, musik jazz mulai dinikmati di lantai dansa.

Tak lama setelah itu, Indra Lesmana, yang merupakan anak dari Jack Lesmana, dan kawan-kawannya membentuk band jazz Krakatau yang menjadi idola remaja di tahun 1980an. Musik jazz semakin booming dengan hadirnya Dwiki Darmawan dan Gilang Ramadhan yang semakin mempopulerkan genre musik ini.

Hadirnya band jazz Squirrel dari Dewa Budjana membuat belantika musik jazz di tanah air semakin berwarna. Popularitas musik jazz mencapai puncak dengan dibentuknya Institute Musik Indonesia dan Sekolah Musik Indonesia, yang sampai saat ini menjadi pencetak musisi terbaik, terutama genre jazz, di tanah air.

Sayangnya selepas tahun 1990, musik jazz justru meredup. Musik dance, melayu, dan elektro pop yang masuk ke industri di Indonesia kembali membuat jazz terpinggirkan. Sebutan sebagai musik tua, membosankan, bahkan membuat ngantuk kembali terbayang.

Penghujung dekade 90an, Syaharani hadir dengan album jazz ‘What a Wonderful World’ bersama Bubu Chen, Benny Likumahuwa, Sutrisno, Oele Pattiselano, dan Cendi Luntungan. Album ini mengantarkan musik jazz memasuki era di dekade baru.

Di tahun 2000an, Andien mencoba membawa kembali musik jazz di Indonesia. Di saat ini, festival-festival musik jazz, seperti Java Jazz kembali membantu mengangkat genre musik ini di kalangan pendengar Tanah Air.

Nyaris bersamaan, sederet musisi jazz seperti Tompi, Maliq & D`Essentials, Raisa, sampai Tulus bermunculan dari tahun ke tahun. Meramaikan sekaligus kembali membawa musik jazz ke atas panggung.