Jackie Rice

Feminisme adalah gerakan dan ideologi yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi dan ruang publik.

Di Indonesia, paham feminisme berkembang cukup pesat. Namun masih banyak perempuan yang tidak/belum mau melibatkan diri menjadi bagian dari gerakan ini.

Berikut situs Bonanza88 akan mencoba untuk mengungkap deretan mitos dan fakta yang menyelimuti feminisme.

Mitos: Feminisme belum berubah seiring waktu

Fakta:
Feminisme telah berkembang pesat dan telah menyesuaikan dengan konteks lokal

Feminisme gelombang pertama di abad 19 fokus terhadap kesetaraan hak sipil dan politik. Dan kini, ketika telah mencapai gelombang keempat, feminisme sudah jauh berkembang menjadi paham yang melawan penindasan yang berkaitan terhadap ras, seksualitas, dan jenis kelamin.

Gerakan feminisme saat ini sudah lebih cenderung kepada memberi kesadaran dan pengertian pada orang-orang untuk menyediakan ruang pada mereka yang merasa minoritas secara ekonomi, sosial, gender, preferensi seksual, ras, dan lain-lain.

Mitos: Feminisme melawan kodrat alami manusia

Fakta:
Feminisme diciptakan untuk melawan kebodohan

Tak hanya membebaskan hak-hak perempuan yang tergadaikan, paham ini juga membebaskan para laki-laki untuk mendobrak paradigma masyarakat terhadap mereka.

Feminisme akan mengubah peran gender, norma seksual dan praktik seksis yang masih sering membatasi diri.

Laki-laki juga berhak untuk hidup di luar lingkaran maskulinitas tradisional. Laki-laki juga berhak untuk rajin ke salon dan merawat diri, laki-laki juga berhak untuk menangis ketika terluka. Dengan kesetaraan pendidikan, perempuan akan memiliki pilihan hidup yang lebih baik.

Mitos: Feminis membenci laki-laki

Fakta
: Feminis membenci laki-laki brengsek

Ini salah satu kekeliruan yang paling umum di kalangan orang awam. Mereka menganggap bahwa feminis pasti membenci laki-laki. Padahal sebenarnya feminis hanya membenci laki-laki brengsek. Because, who doesn’t hate douchebags?

Mitos: Feminis pasti tak ingin memiliki anak

Fakta:
Feminis tak ingin menganggap bahwa memiliki anak adalah kewajiban, karena punya anak adalah sebuah pilihan

Feminis sangat berkomitmen untuk mengatasi masalah yang terjadi di kehidupan sehari-hari seperti KDRT, pemerkosaan dan kekerasan seksual, objektifikasi seksual, dan salah satunya adalah anggapan masyarakat bahwa setiap perempuan pasti harus memiliki dan melahirkan anak.