Bandung yang saat ini menyandang predikat ibu kota Provinsi Jawa Barat merupakan salah satu kota penting yang ada di Indonesia. Kota yang di awal abad ke-20 nyaris menjadi hoofdstad (modal) Hindia Belanda menggantikan Batavia ini memiliki akar sejarah panjang. Rentang perjalanan Bandung sebagai sebuah kota dapat dikatakan dimulai pada tanggal 25 September 1810.

Pada masa-masa awal pembentukannya tidak banyak perkembangan signifikan yang dialami Kota Bandung. Barulah setelah Bandung ditetapkan sebagai ibu kota Keresidenan Priangan pada tahun 1864 menggantikan kedudukan Cianjur, secara perlahan tapi pasti terjadi perubahan-perubahan yang cukup berarti pada tampilan Kota Bandung.

Keberadaan Kota Bandung sebagai pusat politik pemerintahan Keresidenan Priangan ini kemudian diikuti pula oleh keberadaannya sebagai sentra Priangan ini kemudian diikuti pula oleh keberadaannya sebagai sentra produksi industri perkebunan besar di Priangan, seperti kopi, teh, kina, dan karet. Untuk itu semua, pembanguan Kota Bandung hingga akhir abad ke-19 tampak difokuskan untuk dapat memenuhi kebutuhan Kota Bandung, baik sebagai pusat kegiatan politik maupun pusat kegiatan ekonomi.

Memasuki awal abad ke-20, sebuah perubahan mendasar kembali dialami Kota Bandung. Berdasarkan ordonansi tanggal 21 Februari 1906, Bandung memperoleh status wilayah administratif baru sebagai sebagai gemeente.

Sejak status gemeente disandang Kota Bandung tidak pelak lagi Bandung semakin memainkan peranan penting dalam percaturan politik dan ekonomi Pemerintah Kolonial Belanda. Bandung pun tampil sebagai primadona tempat peristirahatan orang-orang Barat, khususnya Belanda. Berbagai prasarana dan sarana penunjang bagi sebuah kota modern kemudian banyak dibangun di Kota Bandung.

Dari geliat pembangunan Kota Bandung dapat ditinjau bahwa bila perubahan-perubahan yang terjadi sepanjang abad ke-19 lebih didorong oleh karena keberdaan Bandung sebagai ibu kota Keresidenan Priangan, maka ketika memasuki abad ke-20 berbagai perubahan yang dialami Kota Bandung lebih dikarenakan oleh keberadaan Bandung sebagai sebuah gemeente dan kemudian stadsgemeente.

Berbagai perubahan yang dialami Bandung tersebut lebih dikarenakan adanya desakan kebutuhan penduduk Kota Bandung sendiri.

Staatsblad van Nederlandsch-Indie 1906 no. 121. Sejak kota Bandung ditetapkan sebagai sebuah gemeente (1906), di kota itu terjadi perkembangan aspek fisik. Sejalan dengan perluasan wilayah kota, berlangsung pula pembangunan dan atau peningkatan prasarana atau sarana dan atau fasilitas kota, baik untuk kepentingan masyarakat umum.

Ketika Bandung menjadi gemeente, nama organisasi ini diubah menjadi Comite tot Behartiging van Bandoeng’s Belangen. Dengan demikian maka sejak tanggal 1 Oktober 1926 ketentuan dalam Staadsgemeentte Ordonantie berlaku untuk Gemeente Bandung, yang mulai pada tanggal tersebut haru dianggap sebagai Staadsgemeente.

Di Bandung perencanaan kota pada awal abad ke-20 merupakan hasil dari pemerintah Hindia Belanda. Pemerintah Hindia Belanda pada saat itu merupakan sturktur perwakilan dan administrasi dalam bentuk organisasi yang resmi dan berkekuatan hukum untuk menguasai dan menyelenggarakan kehidupan kota Bandung.

Pemerintah Hindia Belanda menjalankan sistem pemerintahan sentralisasi dikombinasikan dengan sistem dekonsentrasi. Sistem tersebut dimaksudkan untuk menjamin adanya efesiensi, efektivitas, keseragaman dalam pemerintahan, dan untuk menghindari kemungkinan terjadinya penyimpangan atau perlawanan di daerah-daerah, serta agar kepentingan daerah-daerah terperhatikan.

Akan tetapi, dalam kenyataannya pemerintah pusat tetap memikul beban berat, karena daerah-daerah (keresidenan dan kabupaten atau afdeeling) tidak memiliki hak otonom. Akibatnya, segala urusan atau permasalahan di daerah yang menyangkut kepentingan pemerintah kolonial, harus ditangani oleh pemerintah pusat di Batavia, sedangkan pemerintah pusat tidak mengenal baik kondisi dan permasalahan daerah.

Di daerah khususnya kota Bandung yang memiliki penduduk golongan Eropa cukup banyak permasalahan yang harus ditangani atau diputuskan oleh pemerintah pusat, bukan hanya permasalahan mengenai pemerintahan, melainkan termasuk pula dalam permasalahan penduduk golongan Eropa, khususnya Belanda.

Tahun 1900, penduduk golongan Eropa di kota Bandung berjumlah 1.522 orang, terdiri atas sejumlah orang pegawai pemerintah, para pengusaha (perkebunan, toko, hotel, pabrik, firma, pegawai swasta dan lain-lain). Tahun-tahun berikutnya, jumlah penduduk golongan Eropa dan perkembangan perluasan luas tanah di kota Bandung terus meningkat.10 Mereka memiliki atau menghadapi permasalahan masing-masing.

Oleh karena itu, mereka menuntut perlindungan dari pemerintah kolonial, sesuai dengan hukum dan aturan yang berlaku bagi mereka Atas dasar hal-hal tersebut, pemerintah Hindia Belanda sampai pada keputusan bahwa sistem pemerintahan sentralisasi tidak perlu dipertahankan terus.

Selain untuk mengurangi beban pemerintahan pusat, kiranya keputusan Hindia Belanda untuk menjalankan sistem pemerintahan desentralisasi, juga mengandung tujuan politis. Dilaksanakannya sistem desentralisasi, berarti di daerah-daerah yang cukup potensial, terutama bagi kepentingan pihak kolonial, perlu dibentuk pemerintahan otonom.

Maka, dengan adanya pemerintahan otonom yang berkewajiban mengurus daerahnya secara langsung, berarti kekuasaan kolonial di daerah setempat bertambah kuat. Sebaliknya, pemerintahan pribumi (kabupaten) di daerah tersebut semakin tersisihkan.

Mengenai sejarah Kota Bandung ini, sebelumnya telah ada beberapa tulisan. Meskipun demikian, tidak terdapat tulisan yang membahas secara mendalam mengenai pergulatan politik ekonomi masyarakat Kota Bandung (1906-1942) secara mendalam.

Perlu ditegaskan bahwa dalam penelitian ini bukanlah berfokus pada kajian rinci mengenai lokalitas daerah Bandung pada tahun 1906-1942. Akan tetapi penelitian disini berfokus pada kajian aspek ekonomi yang lebih di dominasi oleh aspek politik (sistem pemerintahan Hindia Belanda) pada tahun 1906-1942 di Bandung.

Ketika Belanda singgah di Bandung membentuk gemeente Bandung saat itulah terjadi perluasan wilayah dan perencanaan tata administrasi kota Bandung cukup baik dan perlu dicatat bahwa sektor perkebunan pada saat itu merupakan salah satu penyokong utama kemajuan Bandoeng tempo doeloe.

Hal ini merupakan faktor yang membuat masalah ini menarik untuk diteliti. Maka, untuk memperdalam permasalahan tersebut perlu diketahui bahwa terutama sekitar tahun 1906-1942.

Tahun 1906 merupakan tahun ketika Belanda mulai membentuk gemeente Bandung dan mulai saat itulah Bandung terjadi perluasan wilayah dan perencanaan kota Bandung yang cukup baik dan hingga tahun 1942 dipilih peneliti karena pada tahun itulah Belanda terakhir singgah di kota Bandung dan diganti kekuasaannya di Bandung oleh Bangsa Jepang. Selain itu, pada tahun tersebut pula diteliti agar bisa mengetahui dampak masyarakat Bandung terhadap kebijakan politik ekonomi Belanda.

Dijuluki Parisnya Jawa

Bukan Paris van Java, tapi Parijs van Java

Julukan Parijs van Java mulai dipakai antara tahun 1889-1904 untuk memopulerkan Kota Bandung. Julukan ini sengaja dibuat untuk menarik minat turis berkunjung ke Hindia Belanda. Selain Bandung, kota lainnya pun diperkenalkan dengan julukan yang seru seperti Venetie van Java untuk Batavia, Gibraltar van Java untuk Semarang, dan Switzerland van Java untuk Garut.

Sebagai buktinya, kita bisa mengambil dari judul-judul buku yang terbit pada tahun 2000-an. Misalnya, ada buku berjudul Parijs van Java: Darah, Keringat, Airmata (2003) karya Remy Sylado, Variasi Parijs van Java (2004) kumpulan sajak karya Soni Farid Maulana, Wisata Parijs van Java: Sejarah, Peradaban, Seni, Kuliner (2011) karya Her Suganda, dan Tragedi Gadis Parijs van Java (2012) karya Ganu van Dort.

Adapun yang lama, antara lain, ditemukan pada tulisan E.M. atau E.M. Dachlan dalam koran Sipatahoenan edisi 1 Februari 1936. Dalam tulisan berjudul ”Bandoeng Parijs van Java” itu, E.M. antara lain menyatakan, ”Ieu titél téh geus kamashoer koe oemoem. Tjindekna lain baé koe oerang Indonésia anoe njeboetkeun kitoe téh, tapi ogé anggapanana oerang nagara loear” (Julukan ini sudah terkenal ke tengah-tengah khalayak banyak. Intinya, bukan orang Indonesia saja yang menyebutnya demikian, tetapi demikian pula anggapan orang luar negeri).

Atau dalam Gedenkboek Vereeniging Himpoenan Soedara 1906-1936 (1936). Di dalam buku ini ditemukan kutipan berikut, ”Moeng kajakinan sim koering, koe jasana H.S. doegi ka ngagadoehan ieu gedong téh, éstoe djadi sinar sareng papaés bangsa katoet lemah tjai; soemawonten Bandoeng anoe kaantjikanana, soeroep merenah pisan, noe katelah Parijs van Java, ajeuna parantos kagoengan adegan noe pitoein kénging pokalna bangsa oerang koe andjeun”.

Intinya, Bandung sudah tepat dijuluki Parijs van Java. Namun, bagaimana asal-usul Bandung mendapatkan gelar tersebut? Dengan kata lain bagaimana genesis Parijs van Java? Dari berbagai pustaka yang berhasil saya dapatkan dan baca, ada beberapa pendapat yang menjelaskan soal itu.

Dilansir Edisi Bonanza88 dari Koran Sipatahoenan edisi 9 April 1938, sebagaimana yang diungkap lagi oleh Rahim Asyik di sini menyebutkan, ”Ajana reclame noe henteu merenah pikeun Bandoeng téh ngawitan ti taoen 1911, nja éta ngagoelkeun Bandoeng magar saroea djeung Parijs, padahal ti Tegallega via Braga nepi ka Merdika djeung ti Tjikoedapateuh nepi ka Andir teh beunang disebut leuweung kénéh, sabab loba kénéh kebon awi djeung sawah di djero wewengkon Haminteu ajeuna teh”

(Adanya iklan yang tidak pantas untuk Bandung mulai tahun 1911, yakni membanggakan Bandung layaknya Paris, mengingat dari Tegallega via Braga hingga Merdika dan dari Cikudapateuh hingga Andir bisa dikatakan masih berupa hutan, sebab hingga sekarang masih banyak gerumbul bambu dan sawah di dalam lingkungan pemerintahan kota).

Dengan kata lain, menurut tulisan tersebut, julukan Parijs van Java mulai digunakan pada 1911. Julukan tersebut dipopulerkan oleh koran Medan Prijaji, padahal para pengelolanya belum pernah berkunjung ke ibu kota Prancis tersebut.

Sumber lainnya yang barangkali sering dijadikan rujukan mengenai genesis Parijs van Java adalah karya ”Kuncen Bandung” Haryoto Kunto. Dua karyanya Wajah Bandoeng Tempo Doeloe (cetakan 2, 1985) dan Semerbak Bunga di Bandung Raya (1986) sering dijadikan patokan untuk ihwal sejarah Kota Bandung.

Dalam Wajah Bandoeng Tempo Doeloe, Haryoto Kunto menulis, ”Apa yang selalu jadi sorotan pembicaraan orang tentang ‘Sejarah Kota Bandung’, sering kali cuma berkisar pada periode ‘Parijs van Java’ saja. Yang berarti hanya meliputi kurun waktu tahun 1920-1940. Duapuluh tahun masa kegemilangan Kota Bandung.” Pada Bab VI yang berjudul ”Bandoeng Parijs van Java”, Haryoto mengkhususkan pembahasannya pada upaya awal yang dilakukan kaum kolonial untuk memajukan pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan di Bandung.

Di awal, ia mengutip lirik lagu yang sering dinyanyikan murid HBS zaman kolonial. Setelah itu, Haryoto menulis, ”Lagu ini melukiskan masa di mana orang lagi giat-giatnya membangun Kota Bandung (circa 1925), menjadi ’Parijs van Java’”.

Dalam buku Tempat dan Peristiwa Sejarah: di Jawa Barat (2009), Rohmat Kurnia menyatakan bahwa, ”Sebutan Parijs van Java pun dipopulerkan oleh seorang jurnalis dari Singapura yang pernah berkunjung ke Bandung dan terkesan dengan keindahan Jalan Braga yang bersuasana dan cita rasa layaknya Kota Paris”.

Karena tidak ada acuannya, saya kira Rohmat mengambil pernyataan tersebut dari buku Semerbak Bunga di Bandung Raya. Kutipan yang diambilnya adalah, ”Salah seorang yang tercengang melihat suasana Parijs van Java tempo doeloe, adalah wartawan The Straits Times, Singapura Juli 1937, yang menulis kesan-kesannya….”

Alhasil, dari pendapat dalam Sipatahoenan, Haryoto, dan Rohmat di atas bisa disimpulkan bahwa lahirnya sebutan Parijs van Java bisa diperkirakan pada tahun 1911 dan awal 1920-an. Namun, belum jelas momentum apa yang menyebabkan lahirnya sebutan tersebut.

Melacak Asal Julukan Parijs van Java di Koran Belanda

Mengenal Parijs Van Java, Parisnya Pulau Jawa – cakrawalamedia.co.id

Pendapat-pendapat di atas memang menarik, sehingga karena melit, saya mencari-cari informasi lain yang terkait dengan genesis Parijs van Java. Koran-koran berbahasa Belanda yang diterbitkan di Hindia Belanda, menjadi sumbernya.

Koran paling lama yang menyebut-nyebut nama Parijs van Java adalah tulisan bersambung karya Lt. Clockener Brousson dalam Alkmaarsche Courant. Judulnya, ”Indische Penkrassen” atau “Corat-coret Hindia”.

Pada edisi 20 Maret 1904, disebutkan bahwa ”Vroeger was deze stad dan ook de drukker bloeiende hoofdplaats van het Gewest de zetel van den Kandjeng Resident, doch thans is Bandoeng dit, Bandoeng het Parijs van Java, zooals ik ‘t heb hooren noemen …” (Dulu, kota ini ibu kota karesidenan yang sibuk, tempat menetapnya Kandjeng Residen, tetapi kini yang menjadi ibu kota adalah Bandung, Bandung Parijs van Java, sebagaimana yang telah saya sebutkan …).

Kemudian, pada edisi 24 Juli 1904, Brousson menerangkan alasan di balik penamaan Parijs van Java. Katanya, ”Bandoeng wordt wel eens het ‘Parijs van Java’ genoemd en zeker heeft het al dadelijk drie punten van overeenkomst met de grrote wereldstad; 1. dat het vrouwelijke geslacht door vele schoone exemplaren wordt vertegenwoordigd, 2. dat de dames er zeer wereldsche neigingen hebben en, 3. dat men er vele vreemdelingen aantreft”.

Artinya kira-kira, Bandung kadang-kadang disebut Parijs van Java dan tentu saja mempunyai tiga kesamaan dengan metropolis besar, yaitu pertama, banyaknya perempuan yang cantik-cantik. Kedua, kaum perempuan bertendensi duniawi yang sangat besar.

Ketiga, banyak orang asing hadir di sana. Dari De Sumatra Post edisi 13 Maret 1914 dan Bataviaasch Nieuwsblad edisi 17 Maret 1914 pun saya temukan petikan berita yang sama yang berbunyi, ”Van Palembang is de verslaggever getrokken naar Bandoeng, dat hij het Parijs van Java noemt …” (Dari Palembang, reporter menyebut Bandung sebagai Parijs van Java).

Selain itu, juga ditenemukan petikan berita lainnya dari Het Nieuws van Dag voor Nederlandsch-Indie edisi 23 September 1915. Di situ ada petikan berbunyi, ”In toen wij, na een voorspoedige reis, in Bandoeng, le petit Paris van Java, …” (Setelah melakukan perjalanan yang berhasil di Bandung, Paris kecil di Jawa). Dari kutipan-kutipan di atas dapat diketahui bahwa sebutan Parijs van Java sudah digunakan pada tahun 1904, 1914, dan 1915.

Dengan itu, pendapat dari Sipatahoenan yang menyatakan tahun 1911, pendapat Haryoto yang lebih menyarankan kepada awal tahun 1920-an, serta Rohmat menjadi gugur. Namun, tetap saja menggantung pertanyaan, sejak kapan julukan Parijs van Java? Jalan mobil yang dibikin untuk menuju kawah Tangkubanparahu.

Untuk Mempromosikan Bandung

Bukan Paris van Java, tapi Parijs van Java

Sejak kapan Bandung dijuluki Paris van Java? Untuk menjawabnya, antara lain, kita bisa bersandar pada disertasi sejarawan Unpad A. Sobana Hardjasaputra, yang berjudul Perubahan Sosial di Bandung, 1810-1906.

Dalam disertasi yang dipertahankan di Universitas Indonesia pada tahun 2002 itu Sobana mengedepankan tiga tahap perubahan Bandung, yaitu tahap pertama (1810-1864), kedua (1864-1884), dan ketiga (1884-1906).

Tahap pertama, perubahan di Bandung berlangsung lambat, karena kondisi kota masih sederhana, adanya kendala, serta kurang efektifnya pengaruh kekuasaan kolonial terhadap bupati dan pada perubahan umumnya.

Kemudian pada tahap kedua, perubahan Bandung agak lebih cepat sebagai buah dari efektivitas pengaruh kekuasaan kolonial. Pada tahap ini Bandung menjadi ibu kota keresidenan (1864), bupati berperan sebagai agent of change, kendala perubahan kian berkurang.

Dan munculnya push factors, bahkan ada yang menjadi channel of change, antara lain berupa lembaga pendidikan. Selanjutnya pada tahap ketiga, perubahan di Bandung kian cepat, karena didorong berkembangnya sarana transportasi kereta api (faktor teknologi) dan pihak swasta asing yang ikut memajukan kota. Akibatnya Bandung menjadi pusat layanan dalam bidang sosial, ekonomi, dan budaya.

Oleh karena itu, tidak heran bila Bandung kian mengarah ke kota kolonial modern. Kondisi ini bahkan menjadi dasar pertimbangan pembentukan pemerintah kota (gemeente) Bandung pada 1 April 1906. Pada fase ketiga, di Bandung berdiri Vereeniging tot nut van Bandoeng en Omstreken (Perkumpulan Kesejahteraan Masyarakat Bandung dan sekitarnya) pada 1898.

Organisasi yang diprakarsai Asisten Residen Pieter Sijthoff dan diresmikan Residen K. Mr. C.W. Kist (1894-1900) itu sebagai wadah aspirasi masyarakat Bandung, sekaligus mengelola kegiatan wisata dalam maupun luar kota. Pada 1898, organisasi ini menerbitkan buku panduan wisata Reisgids voor Bandoeng en Omstreken met Garoet.

Selain karya Sobana, ada buku Vereeniging Toeristen Verkeer Batavia (1908-1942): Awal Turisme Modern di Hindia Belanda (2007) karya Achmad Sunjayadi. Dari buku ini, kemungkinan genesis Parijs van Java berkaitan dengan perkembangan kegiatan wisata di Hindia Belanda secara umum.

Secara umum, kegiatan wisatanya dimulai saat pemerintah kolonial mulai membuka pembatasan kunjungan ke Hindia Belanda dan menjadikannya sebagai daerah tujuan turisme. Syarat ke arah tersebut dipenuhi dengan tersedianya infrastruktur jalan raya, jalur kereta api, dan alat transportasi (kereta api, kapal uap), serta akomodasi (hotel, pesanggrahan); terjaminnya keamanan dengan dikuasainya seluruh Hindia Belanda; adanya kebijakan Politik Etis.

Dengan wisata, pemerintah kolonial hendak memperlihatkan kemajuan yang telah mereka buat di Hindia kepada dunia luar sekaligus melihatnya sebagai sumber pemasukan baru bagi ekonomi negara kolonial.

Menurut Ahmad, pengaruh perkembangan wisata di Hindia Belanda, antara lain, pengelola wisata yaitu Vereeniging Toeristen Verkeer, ”sengaja ‘menciptakan’ daerah-daerah yang akan dikunjungi para turis tersebut, terutama daerah di sekitar pegunungan yang memiliki pemandangan indah.

Daerah-daerah tersebut lalu diberi julukan sesuai dengan nama-nama tempat berlibur di Eropa, seperti Venetie van Java untuk Batavia, Gibraltar van Java untuk Semarang, Switzerland van Java untuk Garut, Parijs van Java untuk Bandung ….”

Selain itu, upaya mempromosikan Hindia ke tengah-tengah dunia bisa jadi pula menjadi salah satu penyebab lahirnya gelar Parijs van Java. Hindia Belanda, antara lain, pernah mengikuti pameran di London (1851, 1862), Paris (1855, 1867, 1878, 1889, 1900), Wina (1873), Philadelphia (1876), Amsterdam (1883), Chicago (1893), Antwerpen (1894), Berlin (1895), dan Brussel (1897).

Khususnya, pada Exposition Universelle di Paris (1889), pemerintah Belanda mengirimkan tampilan le village Javanais (kampung Jawa), yang di antaranya menampilkan orang dan kesenian Sunda.

Dalam kerangka itu pula, misalnya Guide a Travers la Section des Indes Néerlandaises untuk Exposition Universelle Internationale de 1900 (Paris) dan di dalamnya antara lain terbaca informasi mengenai Bandung. Kutipannya adalah, ”Dans les montagnes de Java se trouvent quelques etablissements de santé (sanatoria). Il y en a maintenant a Soukaboumi (a une hauteur de 2100 pieds) et a Sindanglaya (3200 pieds) dans la résidence de Préanger; a Tegal-laga (2100 pieds) prés de Bandoung …”

Dengan mempertimbangkan berbagai data di atas, rentang 1889-1904 adalah waktu yang logis bagi genesis julukan Parijs van Java. Dalam rentang ini Bandung mengalami perubahan cepat dan dimasukkan ke dalam proyek besar kolonial untuk melempangkan jalan pariwisata ke Hindia Belanda. Di dalamnya ada upaya mempromosikan orang Sunda berikut keseniannya, khususnya Bandung, melalui pameran berskala dunia di Paris (1889 dan 1900). Melalui berbagai upaya tersebut, lahirnya gelar Parijs van Java bagi Bandung di masa ini.