Ukuran alat kelamin seringkali menjadi masalah bagi laki-laki dewasa. Masalah ukuran ini bahkan menjadi ide bisnis bagi banyak orang untuk menciptakan produk pembesar alat kelamin.

Tapi tidak selamanya ukuran menjadi masalah. Pada masa Yunani Kuno misalnya, penis kecil justru jadi idaman.

Jika Anda kerap tidak percaya diri dengan ukuran penis Anda yang kecil, mungkin Anda seharusnya tidak hidup di masa ini. Coba hidup di masa Yunani Kuno, yang ketika itu justru mengagungkan penis yang kecil.

Penis yang kecil bahkan sering nampak pada patung-patung maupun ukiran di relief dan artefak bersejarah kebudayaan kuno tersebut.

Tidak haya penis manusia, dewa-dewa saja digambarkan memiliki ukuran penis yang kecil. Misalnya di patung Perunggu Artemision, yang menampilkan sosok pria telanjang sedang berpose.

Penis di patung tersebut hanya seukuran jempol orang dewasa, padahal patung tersebut setinggi 209 cm. Patung Artemison disebut memiliki dua versi, versi pertama sebagai penggambaran Zeus dan versi kedua Poseidon.

Sosok Zeus dan Poseidon merupakan dua sosok dewa yang paling diagungkan di masyarakat Yunani Kuno. Zeus merupakan dewa kayangan Olimpus, yang menjadi raja seantero langit dan angkasa.

Sedangkan Poseidon adalah dewa yang menguasai samudera dan seisinya. Keduanya disembah oleh mayoritas populasi masyarakat Yunani Kuno. Bayangkan apabila patung tersebut dipahat di masa kini, mungkin ukuran penisnya akan dibuat sebesar penis kuda.

Ada dua hal yang membuat patung-patung tersebut memiliki ukuran penis yang kecil. Hal pertama adalah pandangan terkait maskulintas.

Terdapat perbedaan pandangan terkait masalah ukuran penis di masyarakat modern dan masyarakat Yunani Kuno. Masyarakat modern menganggap penis besar lebih bisa memuaskan perempuan. Hal ini menyebabkan penis besar dianggap sebagai simbol maskulinitas seorang laki-laki.

Sedangkan pada masyarakat Yunani Kuno, ukuran penis tidak menentukan maskulinitas seseorang. Masyarakat Yunani Kuno menganggap ukuran penis yang kecil dan tidak ereksi justru sebagai hal yang baik.

Penis yang tidak ereksi menunjukkan sosok-sosok yang dapat menjaga dan mengendalikan diri, sebuah nilai yang diagungkan oleh masyarakat kala itu.

Maskulinitas Rasional

Di Yunani, Orang yang Penisnya Kecil Dianggap Orang Baik | Naviri Magazine

Menurut sejarawan seni Ellen Oredsson, maskulinitas pada masa Yunani Kuno berarti seorang laki-laki yang mampu berpikir rasional, memiliki intelijensi tinggi, dan otoritatif.

Seorang laki-laki baru dikatakan maskulin ketika menunjukkan kecerdasan, kebijaksanaan dan kehormatannya.

Oleh karena itu, prinsip pengendalian diri dan resistensi atas hasrat seksual dianggap sebagai nilai penting yang juga memenuhi maskulinitas seseorang.

Hal ini juga yang menyebabkan patung-patung dewa digambarkan memiliki penis yang kecil. Pasalnya, dewa harus digambarkan sebagai sosok bijak yang terhormat, bukan sosok yang mudah tergoda nafsu duniawi.

Penggambaran yang jauh berbeda dapat ditemukan pada sosok-sosok yang dianggap rendah, atau merepresentasikan kejahatan. Sosok makhluk mitologi seperti Satyr misalnya. Satyr adalah makhluk mitologi yang memiliki wujud setengah hewan dan setengah manusia.

Tubuh bagian atas Satyr sering digambarkan dengan manusia bertanduk, sedangkan bagian bawah tubuhnya biasa digambarkan dengan buntut dan kaki kambing atau rusa.

Satyr adalah makhluk penghuni hutan yang memiliki hasrat tinggi pada kehidupan dunia. Satyr seringkali muncul dalam adegan-adegan pesta minuman dan pesta seks yang ada di kisah-kisah Yunani Kuno. Kegemaran Satyr pada kesenangan duniawi ini menyebabkannya dekat dengan Dionisos, dewa anggur dan perjamuan.

Karakter Satyr ini merupakan karakter laki-laki yang tidak ideal bagi masyarakat Yunani Kuno. Masyarakat Yunani yang kala itu terlena dengan upaya mencari kebajikan tertinggi, menganggap pesta dan nafsu duniawi sebagai sesuatu yang biasa dilakukan orang bodoh. Seringkali Satyr dijadikan objek cemooh karena digambarkan sangat mudah tergoda nafsu dan tifak bisa mengendalikan diri.

Oleh karena itu, Satyr digambarkan memiliki penis yang sangat besar. Penggambaran ini kadang dilakukan secara karikatural. Beberapa artefak kuno menunjukkan ukuran penis Satyr yang bahkan bisa lebih besar dari kedua kakinya sendiri.

Sosok yang juga kerap dijadikan objek cemooh adalah orang-orang jompo maupun miskin. Mereka seringkali digambarkan memiliki penis yang besar dan sedang tegang.

Tiap ukuran penis memang memiliki karakternya sendiri. Namun ini tidak berarti ukuran penis yang lebih besar lebih jago di ranjang, dan atau sebaliknya.

Baik penis besar para Satyr maupun penis kecil para dewa, keduanya tetap digambarkan dalam adegan-adegan seksual yang bergairah. Ini artinya, masyarakat Yunani kuno pada masa itu tidak mengaitkan ukuran penis seseorang dengan performa seksualnya.

Apa yang dkatakan Oredsson ini sebenarnya berasal dari beragam sumber literatur Yunani Kuno yang Ia kaji. Misalnya dalam karya-karya Aristofanes, penulis drama Yunani yang hidup pada abad kelima sebelum masehi. Karakter-karakter yang ada di naskah drama Aristofanes seringkali digambarkan beserta ukuran penisnya.

Karakter yang tidak terhormat biasanya digambarkan memiliki penis besar, kulit pucat, dan sering menyatakan dialog-dialog yang cabul.

Sedangkan karakter-karakter pahlawan digambarkan sebaliknya. Buah zakar para pahlawan sering digambarkan memilik ukuran yang kecil, lengkap dengan kulit yang cerah, dan dialog heroik yang penuh dengan petuah bijak.

Temuan Oredsson juga disepakati oleh sejarawan Yunani Kuno lainnya. MisalnyaPaul Chrystal yang melakukan kajian pada lukisan-lukisan vas di masa Yunani Kuno.

Pada lukisan maupun keramik artefak Yunani Kuno, Paul menemukan adanya perbedaan penggambaran sifat bagi pria yang penisnya disunat dan bagi pria yang belum disunat. Penis yang memiliki kulup biasanya diasosiasikan dengan sifat-sifat bangsawan yang lebih terhormat ketimbang rakyat jelata yang tidak memiliki kulup.

Penis tegang yang kepalanya kelihatan biasa digunakan untuk menggambarkan sosok-sosok barbar, yang seringkali tidak punya adat istadat.

Makin Besar Makin Bodoh

Kenapa Patung Yunani Kuno Selalu Telanjang? Ini Alasan Histo...

Sebagaimana temuan Oredsson, berdasarkan data yang dihimpun Edisi Bonanza88, temuan Paul juga membuktikan bagaimana penis besar yang tegang digunakan untuk mengolok-olok karakter tertentu.

Penggambaran yang karikatural juga nampak pada teater dan drama komedi Yunani Kuno. Karakter yang bodoh akan digambarkan memiliki penis yang besar. Ukuran penis si karakter biasa ditunjukkan sebagai pemicu gelak tawa bagi penonton yang sudah siap untuk melontarkan olok-olok pada si karakter bodoh.

Menurut Paul, hal ini didasari oleh anggapan bahwa ukuran penis yang besar biasanya dimiliki oleh binatang dan bukan manusia. Perbedaan antara binatang dan manusia memang terletak di kecerdasannya, alhasil orang bodoh disamakan kecerdasannya dengan binatang.

Padahal pada beragam kebudayaan, penis besar juga menjadi simbol kejantanan karena dianggap memiliki kualitas reproduksi yang mapan.

Anggapan ini umumnya berasal dari dorongan manusia untuk menghasilkan keturunan sebanyak-banyaknya, oleh karena itu dibutuhkan pula ukuran penis dan zakar yang besar agar aktifitas seksualnya bisa terus berlangsung.

Kemampuan reproduksi ini dianggap sebagai tolok ukur maskulinitas dengan tujuan agar manusia mampu menjaga garis darahnya. Hal ini jauh berbeda dengan pandangan masyarakat Yunani Kuno terhadap fungsi reproduksi pria.

Menurut Paul, bagi masyarakat Yunani Kuno, penis yang kecil justru lebih subur. Pasalnya penis yang kecil berarti memperpendek jarak laju sperma dari zakar ke vagina.

Penis kecil dianggap memiliki keuntungan dalam pembuahan, dan lebih memiliki kesempatan tinggi untuk menghasilkan keturunan. Hal ini mampu dilihat melalui penggambaran penis kecil para dewa. Meskipun penis mereka kecil, tapi para dewa dikisahkan memiliki pasangan dan keturunan yang sangat banyak.

Penggambaran bentuk kulup juga memiliki maknanya sendiri. Beberapa kulup dalam lukisan vas yang ditemukan Paul memiliki bentuk yang aneh. Terdapat bentuk kulup yang bisa diulur sangat panjang, melibihi ukuran penis si pemilik. Kita bisa melihat penggambaran seperti ini pada lukisan yang ada di vas bunga merah karya pelukis Sosias.

Pada lukisan vas Sosias yang berjudul Attic, terdapat gambar dua pria. Dikisahkan keduanya adalah tentara Yunani Kuno, satu merupakan tentara medis, dan satu lagi tentara yang cidera. Tentara yang cidera berpose mengangkang sehingga penis dan zakarnya kelihatan. Namun penisnya terlihat sangat kecil, ketimbang kulupnya yang saking panjangnya bahkan bisa dilipat.

Kulup panjang ini memiliki pemaknaan yang sama dengan penis besar. Mereka yang memiliki kulup sepanjang itu dianggap sebagai karakter yang memiliki hasrat birahi kelewat besar dan cenderung bodoh. Akibatnya, karakter itu mudah menjadi korban ketika dalam medan pertempuran.

Hal kedua yang mempengaruhi ukuran penis di patung-patung Yunani Kuno adalah anatomi. Jika dilihat secara menyeluruh, kebanyakan penis para dewa atau pahlawan Yunani Kuno berjenis flaccid.

Penis flaccid adalah penis yang memiliki kemampuan untuk membesar ketika sedang ereksi. Jika pada jenis penis lain ereksi ditandai menegangnya penis yang sebelumnya lemas, penis Flaccid justru membesar dari yang sebelumnya kecil dan terlihat bersembunyi.

Penis flaccid akan nampak sangat kecil ketika sedang tidak ereksi. Bahkan penis flaccid yang tidak ereksi seringkali disalahpahami sebagai mikropenis, sebuah kelainan penis secara medis.

Penis yang ada di patung-patung dewa Yunani Kuno perlu dianggap sebagai penis jenis ini. Pasalnya, jika dibandingkan dengan penis jenis lain yang sedang lemas maka akan tidak sebanding. Kalau membandingkan penis para dewa dengan rata-rata penis flaccid manusia modern maka tidak akan ditemukan perbedaan yng signifikan.

Oredsson juga menambahkan, kita perlu mengetahui sosok-sosok yang digambarkan memiliki penis kecil ini biasanya datang dari kelompok atlit. Atlit pria pada zaman Yunani Kuno dikenal memiliki kebiasaan berlatih secara keras.

Saking seringnya mereka berlatih keras, penisnya pun terbiasa untuk menyusut. Hal ini wajar mengingat atlit perlu menggerakan kedua kaki secara lebih intens. Penis yang besar akan menyulitkan mobilitas dan kelenturan para atlit ini.

Berubah Sejak Ditaklukkan Romawi

Aspek Kehidupan Peradaban Yunani Kuno

Seiring sejarah berlalu, pandangan Yunani Kuno terhadap ukuran penis semakin berubah. Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya perubahan ini, salah satunya konteks historis.

Kekaisaran Romawi yang berhasil menaklukan peradaban Yunani menjadi salah satu pengaruh yang besar. Pasalnya, berbeda dengan masyarakat Yunani Kuno, masyarakat Roma lebih masa bodo terhadap budaya hedonisme. Pesta pora dan seksualitas seringkali dirayakan oleh masyarakat Roma sebagai hal yang manusiawi.

Akibatnya banyak penggambaran penis besar yang justru digunakan untuk para pahlawan dan raja-raja besar. Penguasaan Roma terhadap Yunani tidak hanya dilakukan secara militer, tetapi juga secara budaya. Paham-paham Yunani Kuno banyak diadopsi sedemikian rupa untuk masyarakat Romawi. Namun, untuk ukuran penis, Roma justru menolak mengadopsi pandangan Yunani Kuno.

Budaya Roma juga sangat kental pengaruhnya ke budaya modern. Sejak kekaisaran roma mengadopsi keyakinan nasrani, Roma memiliki kekuasaan untuk membentuk pandangan masyarakat nasrani terhadap seksualitas. Ketika Roma telah menjadi pusat penyebaran agama Katolik, Roma juga otomatis menjadi pusat penyebaran budaya secara global.

Pada masa modern, pandangan terkait ukuran penis lebih banyak dipengaruhi oleh pornografi. Aktor-aktor porno seringkali memiliki penis yang besar. Bahkan beberapa di antaranya memiliki penis dengan ukuran yang tidak wajar.

Penggambaran film porno terkait ukuran penis yang tidak realistis ini seringkali juga dibumbui dengan anggapan rasis. Pada masa awal persebaran film porno, perempuan kulit putih memiliki fetish terhadap pria kulit hitam.

Pria kulit hitam seringkali dianggap memiliki ukuran penis yang jauh lebih besar dari ras lain. Untuk memenuhi kebutuhan ini, industry porno menyediakan aktor-aktor kulit putih yang memiliki ukuran penis tak wajar.