Video dan foto tentang anak durhaka yang dikutuk ibunya menjadi ikan pari sempat menjadi viral pada awal tahun 2000-an. Kabar itu disebutkan terjadi di Sangkulirang, Kalimantan Timur (Kaltim).

Dulu kisah-kisah seperti ini sangat populer, bahkan di beberapa sekolah kisah ini pernah diputar saat waktu Ramadan. Tujuannya, tentu agar anak-anak patuh terhadap orang tuanya. Dan terbukti, banyak sekali anak-anak yang ketakutan setelah mendengarkan ataupun menonton kisah anak durhaka tersebut. Apakah kamu termasuk diantaranya?

Namun ternyata, banyak dari kisah anak durhaka terkutuk yang beredar hanyalah karangan semata. Artinya bohongan, cerita itu tidak nyata alias hoax. Sampai sekarang pun mungkin masih banyak yang mempercayai kisah anak durhaka ini.

Cerita anak durhaka dikutuk menjadi ular berkepala anjing. Kejadian ini dikisahkan berlokasi di Kec. Torgamba di Sumatera Utara, di mana warga di sana dibuat geger dengan beredarnya video yang memperihatkan ular berkepala anjing, mirip seperti jenglot.

Dikisahkan ular tersebut adalah gadis yang masih duduk di bangku SMP yang dikutuk karena menendang ibunya yang sedang salat. Banyak yang menceritakan bahwa gadis tersebut awalnya minta dibelikan motor mio, namun ibunya menolak. Karena kesal, gadis tersebut menendang ibunya saat sedang salat dan seketika dirinya berubah menjadi ular.

Saat video tersebut beredar sekitar tahun 2009, banyak orang yang mempertanyakan kebenaran ular tersebut beserta kisah dibalikya, ada juga yang langsung mempercayainya. Namun, Kapolsek Torgamba yang saat itu masih dijabat oleh AKP Tampubolon mengklarifikasi bahwa video serta kisah tersebut adalah hoax semata.

Anak durhaka dikutuk jadi batu

Desa Gunung Picung Bogor Ramai Dikunjungi Gara-gara Isu Seorang Ibu Kutuk  Anaknya Jadi Batu - Tribunnews.com Mobile

Warga Gunung Picung, Kecamatan Pamijahan, Kabupaten Bogor sempat heboh dengan beredarnya kisah anak durhaka. Kisah tersebut beredar melalui facebook pada tahun 2017 lalu. Menceritakan seorang anak yang minta dibelikan motor ninja, namun ibunya malah memberikan motor matic.

Tidak terima sekaligus kecewa, anak tersebut langsung memukul orang tuanya ketika sedang salat, dan yang terjadi berikutnya kamu pasti tahu. Kisah ini hangat diperbincangkan pada saat itu. Menanggapi hal tersebut, Ridwan selaku staff Bidang Sosial Kecamatan Pamijahan pada saat itu menyatakan bahwa kisah tersebut adalah hoax alias tidak benar. Huh, ada-ada saja memang!

Anak durhaka dikutuk menjadi anjing setengah monyet

4 Kisah anak durhaka paling fenomenal di Indonesia ini ternyata h

Kisah anak durhaka yang paling fenomenal berikutnya adalah seorang gadis yang dikutuk menjadi anjing/tikus setengah monyet. Kisah ini beredar dengan cerita yang berbeda-beda. Namun intinya menceritakan seorang gadis yang dikutuk lantaran menendang al-quran yang sedang dibaca ibunya.

Kisah ini viral di Indonesia sekitar tahun 2005. Wujudnya yang terbilang aneh dan cukup menyeramkan membuat banyak orang yang percaya dengan kisah ini pada saat itu. Padahal, kisah anak durhaka yang melatar belakangi gambar ini sepenuhnya adalah hoax. Gambar di atas bukanlah seroang gadis yang dikutuk, melainkan sebuah patung karya seniman kontemporer asal Australia yang bernama Patricia Piccinini.

Karya yang diberi judul “We Are Family” itu dibuat sekitar tahun 2003 dan dipamerkan tahun 2004. Namun entah apa yang menyebabkan orang-orang malah memberikan kisah tentang anak durhaka pada patung lilin tersebut.

Anak durhaka dikutuk menjadi ikan pari

4 Kisah anak durhaka paling fenomenal di Indonesia ini ternyata h

Kisah ini menjadi kisah anak durhaka paling legendaris di Indonesia, dan bohong bila kamu tidak pernah melihat gambar di atas. Dulu, gambar ikan pari tersebut sukses membuat anak kecil menangis ketakutan. Gambar tersebut diambil dari video berdurasi 30 detik yang memperlihatkan sebuah ikan pari yang dikelilingi oleh belasan orang sambil dibacakan ayat-ayat suci al-quran.

Ikan pari dalam video tersebut diyakini sebagai anak durhaka yang dikutuk karena menendang ibunya yang sedang salat. Kemunculan video ini tentu membuat masyarakat Indonesia geger terutama anak-anak, apalagi dengan tambahan suara al-quran yang sedang dibacakan. Saking viralnya, video ini pernah dimasukan dalam kaset yang beredar tahun 2000an.

Faktanya, ikan pari pada video tersebut bukanlah anak yang dikutuk, melainkan ikan pari asli berjenis Shovelnose Guitarfish. Ikan pari jenis tersebut memang memiliki wajah yang menyerupai manusia. Begitu juga dengan suara al-quran yang disematkan dalam video tersebut. Suara tersebut merupakan audio terpisah yang digabungkan menggunakan aplikasi edit video seperti movie maker.

Fenomena Hoax di Masyarakat Indonesia

Siapa Penyebar Hoaks di Indonesia? - Tirto.ID

Kuatnya arus informasi dan komunikasi di era globalisasi semakin memudahkan masyarakat untuk memperoleh informasi melalui berbagai sarana, terutama internet. Tidak hanya sekadar menerima informasi, masyarakat juga memiliki kesempatan untuk menciptakan, mengolah, dan menyalurkan narasi melalui berbagai media digital, tidak terkecuali media sosial. Dengan kemudahan akses dan penggunaannya, media sosial menjadi rentan atas penyebaran hoaks.

Fenomena penyebaran hoaks bukan lagi menjadi fenomena baru di lingkup global, tidak terkecuali di Indonesia. Sejak manusia mulai memahami bahwa media memiliki kekuatan untuk memengaruhi opini publik, pembuatan hoaks telah menjadi salah satu alat yang efektif untuk meraih perhatian publik.

Hoaks (Inggris: hoax), atau berita palsu, merupakan konten yang memuat informasi palsu dan disajikan sebagai berita nyata. Pada umumnya, berita palsu disebarkan secara masif dengan menggunakan bot, yaitu sebuah perangkat lunak yang berfungsi untuk menduplikasi berita (ataupun tulisan lainnya) secara otomatis dan berulang-ulang. Menurut hasil survei yang dilakukan oleh Masyarakat Telematika Indonesia (MASTEL) pada tahun 2017, saluran penyebaran hoaks terbesar di Indonesia adalah melalui media sosial dan aplikasi chatting.

Sedangkan topik utama yang paling sering diangkat dalam berita-berita palsu adalah hal-hal yang berkenaan dengan isu politik, SARA, dan kesehatan. Hoaks mudah meluas di masyarakat dikarenakan informasi yang disebarkan umumnya bersifat mengagumkan, sensasional, dan membuat penerimanya merasa perlu untuk menyebarkan kembali informasi tersebut tanpa terlebih dulu melakukan konfirmasi atas kebenarannya. Salah satu faktor yang paling sering terjadi adalah karena informasi tersebut merupakan terusan dari orang terdekat atau orang yang dapat dipercaya, sehingga dengan demikian para penerima berasumsi bahwa kabar tersebut adalah benar adanya.

Penyebaran hoaks di masyarakat berdampak signifikan di berbagai bidang. Di bidang politik, misalnya, masyarakat bisa terpolarisasi ke dalam pandangan-pandangan politis yang saling berlawanan, terutama ketika peristiwa politis sedang berlangsung. Hoaks dengan isu politik dapat menciptakan fanatisme di benak seseorang terhadap tokoh atau pihak yang didukung, akibat tersedianya informasi yang seakan satu pihak tidak memiliki cela, sementara pihak lain (oposisi) pantas untuk dicaci. Hoaks berupa disinformasi, misinformasi, dan malinformasi dengan topik politik digunakan sebagai sarana untuk memengaruhi pandangan politis masyarakat. Selain itu, penyebaran hoaks pun dapat berdampak pada pembuatan kebijakan publik, apabila para pemangku kepentingan dan penentu kebijakan justru terpengaruh oleh berita palsu yang beredar.

Dikutip Edisi Bonanza88 dari artikel di situs web Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo), maraknya penyebaran berita palsu juga memiliki dampak bagi perekonomian nasional, karena bisa memengaruhi ekspektasi dan perilaku investasi yang bisa mengganggu kondusivitas ekonomi nasional, serta minat untuk berinvestasi di Indonesia.

Media sosial memiliki peran kuat sebagai elemen dalam naik-turunnya nilai pasar. Sejalan dengan hal tersebut, beredarnya hoaks di masyarakat dapat menyebabkan anjloknya harga saham, serta menghancurkan reputasi bisnis tertentu. Bisnis yang dilakukan secara tidak etis akan menciptakan informasi atau ulasan palsu mengenai bisnis lawan, semata untuk keuntungan pribadi.

Di bidang sosial, maraknya hoaks bisa memunculkan rasa bimbang publik terhadap fakta-fakta dasar dari suatu peristiwa yang sedang marak terjadi, yang kemudian mengakibatkan penurunan kepercayaan masyarakat terhadap media, terutama ketika pandangan yang disajikan di dalam berita tersebut tidak sesuai dengan pandangan pribadinya. Hoaks yang mengandung unsur SARA juga bisa menimbulkan perpecahan di tengah masyarakat.

Hingga saat ini, beragam upaya telah dilakukan oleh para pemerintah di berbagai negara dalam rangka mencegah dan menanggulangi penyebaran hoaks. Negara-negara Eropa seperti Inggris, Jerman, dan Italia, masing-masing berupaya untuk membentuk Dewan Penyelidikan, melakukan pengesahan undang-undang, serta menciptakan platform bagi masyarakat untuk melaporkan berita palsu yang sedang beredar.

Langkah-langkah non-legislatif juga diupayakan untuk menanamkan budaya literasi media dan pemikiran kritis. Kanada, Italia, serta Taiwan, misalnya, memperkenalkan kurikulum sekolah yang mengajarkan murid untuk membedakan antara informasi palsu dan kredibel.

Di Indonesia, pemerintah bekerja sama dengan raksasa teknologi seperti Facebook untuk melakukan pemblokiran serta pencabutan konten ilegal. Pemerintah Indonesia pun terus mendorong masyarakat, terutama para figur di media sosial, untuk terus menyebarluaskan semangat perlawanan terhadap hoaks yang dapat memecah persatuan bangsa.

Karena keberadaannya berpotensi untuk mengusik perdamaian, fenomena hoaks mendapat perhatian khusus dari UNESCO, sebagai Badan Khusus PBB yang juga memiliki perhatian pada sektor Komunikasi dan Informasi. Berita palsu atau hoaks merupakan informasi yang dibuat dengan tidak berpegangan pada kaedah-kaedah jurnalistik.

Terkait hal ini, UNESCO menerbitkan buku panduan (handbook) berjudul Journalism, Fake News & Disinformation yang ditulis oleh para ahli dalam rangka pencegahan dan penanggulangan hoaks melalui eksplorasi sifat dasar jurnalisme. Buku ini juga menunjukkan cara untuk berpikir kritis tentang bagaimana teknologi digital dan platform sosial adalah saluran dari gangguan informasi; melawan balik informasi yang salah melalui media dan literasi informasi; langkah-langkah pengecekan fakta; serta verifikasi media sosial dan memerangi penyalahgunaan media daring.

Hoax dalam kamus Oxford (2017) diartikan sebagai suatu bentuk penipuan yang tujuannya untuk membuat kelucuan atau membawa bahaya. Hoax dalam Bahasa Indonesia berarti berita bohong, informasi palsu, atau kabar dusta. Sedangkan menurut kamus bahasa Inggris, hoax artinya olok-olok, cerita bohong, dan memperdayakan alias menipu.

Istilah yang semakna dengan hoax dalam jurnalistik adalah libel, yaitu berita bohong, tidak benar, sehingga menjurus pada kasus pencemaran nama baik. Hoax adalah suatu kata yang digunakan untuk menunjukan pemberitaan palsu atau usaha untuk menipu atau mengakali pembaca untuk mempercayai sesuatu. Pemberitaan yang tidak berdasarkan kenyataan atau kebenaran (nonfactual) untuk maksud tertentu. Tujuan hoax adalah sekadar lelucon, iseng, hingga membentuk opini publik. Intinya hoax itu sesat dan menyesatkan, apalagi jika pengguna internet tidak kritis dan langsung membagikan berita yang dibaca kepada pengguna internet lainnya.

Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya bahwa hoax paling banyak menyebar melalui media sosial. Satu sisi media sosial dapat meningkatkan hubungan pertemanan yang lebih erat, wadah bisnis online, dan lain sebagainya. Sisi lainnya media sosial sering menjadi pemicu beragam masalah seperti maraknya penyebaran hoax, ujaran kebencian, hasutan, caci maki, adu domba dan lainnnya yang bisa mengakibatkan perpecahan bangsa. Media sosial sendiri adalah platform media yang memfokuskan pada eksistensi pengguna yang memfasilitasi mereka dalam beraktivitas maupun berkolaborasi. Karena itu, media sosial dapat dilihat sebagai medium (fasilitator) online yang menguatkan hubungan antar pengguna sekaligus sebagai sebuah ikatan sosial.

Media sosial sebagai kumpulan perangkat lunak yang memungkinkan individu maupun komunitas untuk berkumpul, berbagi, berkomunikasi, dan dalam kasus tertentu saling berkolaborasi atau bermain. Wright dan Hinson berpendapat bahwa media sosial memiliki kekuatan pada user generated content (UGC) di mana konten dihasilkan oleh pengguna, bukan oleh editor sebagaimana di institusi media massa. UGC yang tersebar melalui internet bertujuan untuk berbagi dan memfasilitasi percakapan diantara penggunanya.

Tidak saja oleh media arus utama, kini hoax sangat banyak beredar di masyarakat melalui media online. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Mastel (2017) menyebutkan bahwa saluran yang banyak digunakan dalam penyebaran hoax adalah situs web, sebesar 34,90%, aplikasi chatting (Whatsapp, Line, Telegram) sebesar 62,80%, dan melalui media sosial (Facebook, Twitter, Instagram, dan Path) yang merupakan media terbanyak digunakan yaitu mencapai 92,40%. Sementara itu, data yang dipaparkan oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika menyebut ada sebanyak 800 ribu situs di Indonesia yang terindikasi sebagai penyebar hoax dan ujaran kebencian.