Fenomena soal profesi dominatrix professional termasuk dalam kategori ‘sex work’ atau ‘erotic labor’, karena meskipun dominatrix professional secara tipikal tidak perlu berhubungan intim, mereka diberikan kompensasi finansial untuk memenuhi hasrat erotis para klien.

Hal ini pulalah yang membedakan mereka dengan profesi pelacur. Klien-klien ini menggunakan jasa dominatrix professional un-tuk berbagai macam pengalaman, termasuk hukuman fisik, bondage atau pemasungan, dan penghinaan.

Dominatrix professional dapat bekerja sendiri secara freelance, maupun menggabungkan diri dengan agen atau rumah-rumah yang khusus jasa dominatrix. Menurut pengalaman prib-adi penulis dan filmmaker yang pernah berkarier sebagai dominatrix professional Stavroula Toska, rumah agensinya mengenakan biaya USD 240 kepada klien untuk setiap jam mereka menggunakan jasa dominatrix, USD 80 untuk si dominatrix dan sisanya untuk mereka sendiri.

Memang terhitung ‘sedikit’, namun dengan sistem agensi sep-erti ini, tentunya keamanan pekerja lebih terjamin, dan setiap kali masuk, mereka akan selalu mendapatkan jatah klien. Di sisi lain, dominatrix yang memilih bekerja lepas menerima 100% pembayaran, namun harus menghadapi risiko yang lebih tinggi.

Berbeda dengan praktik-praktik bisnis seks lain, industri BDSM hampir tidak pernah melibatkan kontak sek-sual sama sekali, sehingga para pelaku di industri ini menolak apabila kegiatan ini dikategorikan sebagai prostitusi. Di Amerika Serikat, prostitusi memang ilegal.

Akan tetapi, meskipun dikategorikan bukan prostitusi, industri BDSM malah lebih terstigmatisasi dibandingkan industri seks konvensional. Bahkan di dalam dunia industri seks itu sendiri, BDSM dianggap sebagai aktivitas seksual alternatif yang cenderung menyimpang, imoral, dan tabu.

Stigma-stigma tersebut juga meliputi anggapan bahwa BDSM ada-lah kekerasan dan/atau abuse dan pelakunya memiliki gangguan mental. Padahal, komunitas BDSM memiliki nilai-nilai dan praktik yang secara kuat bertentangan dengan ke-kerasan dan sangat mengutamakan konsen. Bahkan salah satu moral utama dalam komunitas BDSM sendiri adalah “SSC” atau safe, sane, dan consensual.

Dengan BDSM, seorang laki-laki dapat melepaskan diri dari itu semua dengan cara melakoni peran yang kontras, yakni sebagai sub, yang bersifat pasrah dan menerima kontrol penuh dari si dom secara konsen-sual dan berdasarkan respek.

Menurut Justin Lehmiller, di dalam industri BDSM, peran dom lebih diminati karena 65% masyarakat lebih memilih untuk mengambil peran sub. Di samping itu, peran dom sendiri banyak dilakukan oleh perempuan den-gan rata-rata klien laki-laki. Meskipun begitu, ada pula dom laki-laki yang melayani pasar sub perem-puan dan juga laki-laki homoseksual.

Kasus Nenek 67 Tahun Ketagihan Dominatrix

Kim Basinger to play Christian Grey's original dominatrix in Fifty Shades  Darker | Metro News

Masyarakat tentu tahu orientasi seksual yang digambarkan oleh karakter Christian Grey dalam film Fifty Shades of Grey. Nah, kebalikan dari karakter Christian Grey, seorang nenek diusianya yang sudah senja menjadi seorang dominatriks.

Dalam KBBI dominatriks adalah perempuan yang mendominasi pasangannya secara fisik dan psikis dalam hubungan seks dengan kekerasan. Nenek yang berusia 67 tahun tersebut bernama Sherry Lever, dia bercerai dengan suaminya dan sama sekali tidak merasa sedih dan murung.

Nenek pensiunan koki ini mengalami transformasi total dan menjalani profesi sebagai dominatriks. Dari pekerjaan yang cukup jarang terdengar ini, nenek Sherry mendapatkan penghasilan sekira Rp2,3 juta per jam.

“Saya menikmati hidup. Hanya karena saya berusia enam puluhan bukan berarti tidak bisa mencari nafkah sendiri dari laki-laki mendominasi,” ujar perempuan yang dipanggil Nyonya Sophia saat dia bekerja.

Di saat perempuan seusia Sherry sudah pensiun dan menikmati sisa hidupnya, Sherry yang kini sudah bertransformasi sampai sulit dikenali tersebut justru merasa hidupnya baru saja dimulai. Dia tidak lagi nampak seperti seorang nenek 60 tahunan, dalam balutan busana seksi, Sherry nampak lebih muda dari perempuan seusianya.

Sherry mengaku perubahan kariernya terjadi setelah dia menonton film dokumenter tentang seks telepon. Dia mencoba bekerja sebagai operator telepon seks dan mulai menikmati berteriak pada pria serta meremehkan mereka.

Dia pun menceritakan, suatu hari pernah menuliskan nomor klien dan mengirim sms kepadanya untuk datang. Ketika kliennya itu tiba, Sherry memerintahkannya untuk mengganti baju. Pria tersebut pun berbusana paduan warna pink dan putih, lengkap dengan sepatu stiletto.

“Begitu saya melihatnya dalam balutan busana seperti seorang asisten rumah tangga, saya sangat gembira. Saya mengurungnya di kamar dan membebaskannya dua jam kemudian,” imbuh Sherry.

Tidak hanya memerintahkan untuk mengenakan busana seperti itu, Sherry pun mencambuknya, dan menyuruh membersihkan dapur. Melihat pria itu mengepel, tidak merasa hidupnya begitu hidup. Uniknya, meski Sherry yang terkesan menyiksa para pria, justru dialah yang dibayar sekira Rp4,9 juta.

“Saya suka mendominasi, jadi saya memutuskan untuk melakukannya secara penuh,” ujarnya.

Sherry juga berinvestasi dalam semua alat yang dia butuhkan untuk menjadi seorang dominatriks. Barang-barang koleksinya berupa cambuk kulit, masker seram, borgol, dan penutup mata. Dia pun memiliki sebuah ruang ‘bermain’ yang di dalamnya ada tempat tidur dengan peralatan yang lengkap hingga menggantung di langit-langit.

“Pria yang mengunjungi saya karena mereka perlu menghilangkan stres. Bagi sebagian orang cara itu adalah fantasi seksual, tetapi bagi orang lain mereka akan merasa sakit. Saya tidak pernah merasa bersalah, karena kami tidak berhubungan seks,” imbuhnya.

Kendati terkesan seperti penghibur, tapi Sherry bukanlah pekerja seks komersial, karena menurut pengakuannya orang-orang tersebut tidak pernah menyentuhnya. Namun, untuk klien tertentu, Sherry akan membuat layanan menjadi lebih istimewa.

Gadis di Amerika Serikat Korban dominatrix

Jaksa Federal AS mengungkap kasus yang melibatkan pasangan laki-laki dan perempuan yang melatih anak perempuan menjadi seorang dominatrix, menjual jasa seks dan memotret aktivitas seksualnya.

Jaksa John Wood mengatakan, kasus itu sangat tidak lazim karena orangtua didakwa memperdagangkan anak perempuannya yang masih kecil. Dominatriks adalah perempuan yang mendominasi dalam aktivitas seks yang tidak umum seperti bondage dan sadomasochist.

Laki-laki itu, Todd B Barkau (35), dan pasangan perempuannya yang berusia 44 tahun dijatuhi tujuh dakwaan. Mereka tinggal di Blue Springs Missouri, tempat mereka menjalankan bisnis esek-eseknya.

“Barkau memegang kendali seorang remaja putri 12 tahun, mengurusnya, melatih, dan memaksanya menjadi seorang dominatriks seksual,” kata Wood dalam sebuah jumpa pers di Kansas City, Selasa (13/5).

Barkau ditahan dekat Air Terjun Niagara dan disidangkan, Sabtu (10/5) di Buffalo, New York. Sementara si perempuan yang juga ibu korban ditahan di Dallas, Jumat dan disidang hari Senin (12/5).

Don Ledford, juru bicara Wood, mengatakan, sampai sejauh ini kedua tersangka belum didampingi pengacara. Nama perempuan itu disembunyikan untuk melindungi identitas anaknya yang kini berusia 20 tahun.

Para jaksa federal yang sudah menyelidiki kasus ini sejak dua tahun silam telah mengajukan mosi ke pengadilan agar kedua tersangka dikurung di tahanan federal tanpa jaminan.

Dalam dakwaan jaksa disebutkan, Barkau memulai pelatihan itu sejak tahun 2000 ketika korban berusia 12 tahun. Waktu itu ia memaksa si gadis menjalani aktivitas seksual bersamanya dan seorang pria lain. Menurut dakwaan itu, Barkau memaksa gadis itu melihat materi pornografi di internet sebagai bahan pelajaran.

Barkau didakwa mengaryakan gadis di rumah mereka di Missouri ketika gadis itu berusia 14 tahun. Ia juga menjual anak pasangan kumpul kebonya itu sebagai dominatriks berusia 19 tahun di internet selama dua tahun.  Sedangkan si perempuan didakwa mendukung dan ikut serta dalam bisnis itu.

Para jaksa sekarang sedang mencari uang sebesar 80.000 dollar AS yang diduga dihasilkan dari bisnis itu.

Mencari Uang dengan Disakiti

The Dominatrix Archetype: A Psychological and Practical Methodology  Workshop - 24 JAN 2020

Kerja jadi Dominatrix, Wanita ini Dapat Uang dengan Sakiti Pria - Lifestyle  Liputan6.com

Adriana Taylor adalah seorang wanita asal Inggris yang tadinya bekerja sebagai seorang akuntan. Karena merasa tak cocok dengan pekerjaan itu, Adriana memutuskan untuk memiliki pekerjaan baru.

Cukup mengejutkan dan menarik, pekerjaan baru yang dijalani oleh Adriana tergolong tidak lazim. Adriana menjadi seorang domintarix yang pekerjaannya adalah memberi kesenangan pada pria dengan memberinya rasa sakit, misalnya dengan menampar bokong pria itu.

Dalam setahun, penghasilan yang diperoleh dari pekerjaan barunya itu adalah sebesar 25 ribu poundsterling (sekitar 488 juta rupah) atau 40 juta rupiah per bulan. Wanita yang dalam aksinya menggunakan nama Mistress Hallie Brookes menjalankanpekerjaan itu dari rumahnya sendiri.

“Saya selalu tertarik dengan gaya hidup yang tabu dan saya suka mengkontrol sesuatu,” ucap Adriana tentang alasannya memulai pekerjaan tersebut. Adriana menyebut bahwa sebagian besar kliennya adalah pebisnis dan mereka suka bokongnya ditampar. Beberapa klien juga meminta layanan seks dari Adriana namun ia tak mau melakukannya.

“Saya tidak menawarkan layanan seks. Hal ini sangat berbeda. Saya tak pernah berhubungan seksual dengan klien dan tak akan pernah. Beberapa orang yang menawarkan jasa serupa mungkin menawarkan jasa layanan seks juga tapi tidak dengan saya,” jelas Adriana seperti dilansir dari Dailymail.co.uk

Karena pekerjaan itu tak melibatkan aktivitas seksual, Mark Smith kekasihnya tak berkeberatan dengan profesi Adriana. Mark selalu ada di rumah saat Adriana melakukan pekerjaan sebagai dominatrix. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi hal-hal buruk yang dapat terjadi.

Beda BDSM dengan Kekerasan Seksual

Beberapa waktu lalu, Pemerintah telah mengeluarkan rencana pelarangan praktik BDSM (Bondage and Discipline, Dominant and Submission dan, Sadism and Masochism),
dalam kegiatan seksual melalui Rancangan Undang-Undang (RUU) Ketahanan Keluarga.

Kendati kegiatan BDSM dikenal dengan aksi sadistik dan tidak lazim, BDSM sebenarnya berbeda dengan tindak kekerasan seksual.

BDSM merupakan beragam kegiatan seksual yang melibatkan praktik bondage and discipline (perbudakan dan disiplin), dominance and submission (dominansi dan penyerahan diri), atau sadism and masochism (sadisme dan masokisme). Seluruh kegiatan tersebut bertujuan untuk memperoleh kepuasan berhubungan intim.

Seringkali BDSM digambarkan secara keliru dalam sebuah film sehingga kegiatan BDSM sering disalahartikan sebagai bentuk penyimpangan seksual.

Perbedaan BDSM dengan kekerasan seksual

Seks Kasar BDSM Bakal Dilarang, Apa Urusan Negara?

Melansir dari laman National Domestic Violence Hotline, berikut perbedaannya:

Persetujuan kedua belah pihak

Persetujuan menjadi penting dalam praktik BDSM. Baik bagi sang dominan maupun submisif, keduanya perlu memberikan persetujuan jelas dalam keadaan sadar sebelum melakukan kegiatan seksual apa pun.

Seperti jenis hubungan lainnya, BDSM juga tidak luput dari risiko. Kegiatan ini bisa saja menyebabkan kecelakaan, cedera, serta dampak psikologis seperti sakit hati dan stres setelah berhubungan intim. Persetujuan adalah unsur yang penting untuk mencegah berbagai efek tersebut.

Kekerasan seksual berbeda dengan BDSM karena tidak dilakukan dengan persetujuan dan hanya bertujuan untuk keuntungan pelaku. Tidak ada peran dominan ataupun submisif, justru yang ada hanyalah pihak pelaku dan korban.

Hubungan BDSM melibatkan komunikasi dan aturan yang jelas. Tak jarang, pasangan yang menjalani BDSM bahkan memiliki aturan hitam di atas putih yang ditandatangani. Aturan inilah yang membuat praktik BDSM menjadi aman, sekalipun melibatkan aksi yang terkesan sadis.

BDSM dan kekerasan seksual amat berbeda karena pihak dominan maupun submisif sama-sama berhak mengutarakan keinginannya. Si submisif berhak ikut bernegosiasi saat menyusun aturan. Ia berhak menolak kegiatan seksual apa pun yang tidak disukainya atau membuatnya tidak nyaman.

Sementara itu, kekerasan seksual adalah tindakan tanpa aturan, negosiasi, ataupun komunikasi. Korban tidak berada dalam situasi yang aman dan nyaman, sebab tidak ada batasan maupun negosiasi sejak awal selayaknya hubungan BDSM.

BDSM bertujuan untuk menyenangkan kedua pihak. Sang submisif memang menerima perilaku sadis, rasa sakit, dan direndahkan oleh sang dominan. Akan tetapi, semua itu dilakukan dalam situasi yang terkendali dengan memerhatikan kenyamanan si submisif.

Melalui perlakuan tersebut, pihak dominan dan submisif sama-sama membangun ikatan batin dan kepercayaan antara satu sama lain. Mereka juga saling menunjukkan rasa menghargai dengan caranya tersendiri.

Berbeda dengan BDSM, kekerasan seksual tidak melibatkan keamanan, rasa percaya, dan rasa menghargai pasangan. Pelaku melakukan tindakannya untuk menakut-nakuti, meneror, dan menunjukkan kepada korban bahwa ia memiliki kekuasaan.