Baru-baru ini Tim Peneliti RSUP dr Kariadi Semarang, dr Muchlis Achsan telah menjelaskan adanya efek samping dari penggunaan vaksin nusantara.

Itu diungkapkan olehnya setelah melakukan hasil uji klinik I vaksin nusantara, buatan mereka dan mantan Menteri Kesahatan Terawan Agus Putranto, dalam rapat umumdengan Komisi IX DPR.

“Tidak ditemukan kejadian serious adverse event pada seluruh objek vaksinasi,” terang dr Muchlis dalam di ruang kerja Komisi IX DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (10/3/21).

Pertemuan RDPU ini pun dihadiri juga oleh Wamenkes, Terawan, dan Kepala BPOM Penny Lukito.

Muchlis juga mengeklaim efikasi dari vaksin ini baik. Akan tetapi, sayangnya Muchlis tak mengungkap angka detailnya.

Sebab, Kepala BPOM dalam rapat yang sama justru mempertanyakan data khasiat dari vaksin nusantara. Ia membutuhkan data itu sebelum menentukan apakah penelitian bisa lanjut atau tidak.

Namun, Muchlis masih meyakini vaksin berbasis sel dendritik ini bisa menjadi potensi yang baik di masa mendatang.

“Menurut kami perlu dilanjutkan dengan uji klinik fase 2 dengan subjek yang lebih besar,” tutur Muchlis menambahkan.

Dia juga menyampaikan, 14,2 persen subjek vaksin Nusantara uji klinik tahap pertama mengalami gejala lokal ringan seperti berikut: nyeri lokal, kemerahan, pembengkakan, penebalan, gatal pada titik suntik.

Sementara itu, sebanyak 39,2 persen mengalami reaksi sistemik ringan, seperti misalnya nyeri sendi/otot dan sakit kepala.