3 Fakta Penyelam Wanita Korea Selatan yang Kejutkan Kaum Pria

Wanita Korea Selatan di daerah Pulau Cheju ternyata memiliki aktivitas yang unik. Salah satu dari mereka memiliki tradisi untuk menyelam tanpa alat bantu.

Secara turun-temurun, perempuan-perempuan Pulau Cheju dan Udo ditempa kerasnya alam, menjadi penyelam paling terampil di dunia.

Untuk lebih lengkapnya, berikut penulis Bonanza88 akan mencoba untuk merangkum 3 fakta penyelam wanita Korea Selatan yang kejutkan kaum pria.

Kaya dan Terhormat

Walau terlihat seperti pekerja kasar, jangan pandang remeh perempuan-perempuan laut ini. Di Korea Selatan, penyelam-penyelam perempuan ini adalah orang-orang kaya dan terhormat.

Mereka melakukan penyelaman hanya pada waktu-waktu atau musim tertentu. Jika tidak sedang menyelam, mereka mengurus bisnis atau beristirahat di villa atau rumah mewah mereka.

Rata-rata perempuan laut Cheju memang bermukim di tepi laut. Namun, mereka juga memiliki rumah mewah di kota, bisa menyekolahkan anak-anaknya sampai tamat perguruan tinggi.

Mengapa mereka menyelam? Ini sebuah tradisi. Di masa lalu, Korea menetapkan pajak tinggi pada kaum lelaki yang bekerja. Itu dikarenakan derajat pria dianggap sangat tinggi.

Sementara perempuan dipandang lebih rendah derajatnya, sehingga pajak untuk wanita bekerja juga dipatok rendah. Akibatnya, walau gaji rendah, perempuan bisa menghasilkan uang lebih banyak daripada lelaki.

Menyiasati hal ini, perempuan-perempuan di Pulau Cheju dan sekitarnya mengambil peluang. Mereka menggantikan posisi suami, dan bekerja untuk mencari nafkah keluarga.

Hidup di tepi laut berarti menggali hasil laut. Maka, perempuan-perempuan ini pun mulai menyelam ke dasar laut sebagai pencari uang tambahan bagi lelaki, yang hidup sebagai nelayan. Ternyata, hasil yang diperoleh perempuan tersebut jauh melebihi hasil kaum lelaki.

Antara Tradisi dan Ekonomi

Perempuan-perempuan laut kini menjadi ikon wisata Pulau Cheju dan sekitarnya. Dikenal dengan sebutan “Haenyo”. Aktivitas selam mereka terkadang menjadi atraksi menarik bagi sejumlah turis di wilayah tersebut.

Mereka diketahui tidak menggunakan alat selam standar, kecuali baju karet, goggle selam, sebuah sekop mini, dan keranjang. Ini sesuai dengan peraturan ketat pemerintah Korea Selatan.

Penggunaan alat selam modern tidak diperkenankan untuk mencari nafkah hasil laut, dan penggunaan alat selam modern hanya diizinkan untuk olahraga dan wisata saja.

Seandainya tetap ingin menyelam untuk nafkah, maka yang diizinkan hanya membawa sebuah keranjang, sebuah sekop kecil, dan kacamata selam. Itu pun dengan izin pula!

Karena itulah, perempuan-perempuan laut ini sama sekali tidak menggunakan alat bantu pernapasan sama sekali dalam menyelam.

Berburu Abalone

Umumnya, mereka “memanen” aneka jenis biota laut, seperti landak laut, timun laut, ubur-ubur spesial, dan gurita.

Namun, dari seluruh jenis yang dikumpulkan dalam keranjang yang terikat di bahu mereka, abalone yang paling bernilai. Sejenis siput laut bercangkang keras ini merupakan seafood yang bernilai sangat mahal.

Adalah keberuntungan jika mereka bisa membawa beberapa ekor abalone dalam satu hari penyelaman. Karena abalone adalah makanan laut langka yang sangat bernilai, melebihi lobster bahkan kaviar!

Untuk mendapatkan abalone, mereka rela mengambil risiko yang paling berbahaya. Bukan main-main, abalone termasuk hewan laut berbahaya. Salah pegang, kedua cangkangnya bisa menutup dengan cepat dan menjepit tangan.

Jika terjepit cangkang abalone, alamat cacat seumur hidup atau kematian. Tercatat, rata-rata satu perempuan laut Pulau Cheju tewas terjepit abalone setiap tahun. Sebuah harga yang dibayar amat mahal.